
"Alhamdulillah nyampek rumah. Maghrib dulu yuk mas." Kata Ani begitu menginjakkan kakinya di rumah mewah milik Ardan. Rendy sudah terlebih dahulu mereka antarkan ke mansion mami.
"Iya sayang." Ardan menurut. Namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia bahagia. Bahagia karna mempunyai seorang istri yang shalihah. Dia tersenyum menanggapi istrinya itu. Kemudian setelah membersihkan badan dan berwudhu mereka sholat Maghrib bersama.
"Hah..... Capek...." Ani melemparkan tubuhnya ke ranjang ukuran big size.
"Sayang mas tinggal dulu ya ada pekerjaan yang harus mas urus. Nanti kalau kamu nyari mas, mas ada di ruang kerja ya." Ardan mencondongkan tubuhnya, mengecup dengan lembut kening istrinya yang saat ini tengah berbaring di ranjang.
"Iya sayang." Masih dengan senyuman manisnya menatap punggung Ardan yang beranjak pergi menuju ruang kerjanya. "Hah capek." Kemudian tanpa di sadari dia sudah menuju alam mimpinya. Sepertinya hari yang sangat melelahkan untuknya.
Di ruang kerja....
"Bagaimana pak Herman?" Tanya Ardan begitu memasuki ruang kerjanya. Ternyata sekretaris Herman sudah menunggunya untuk melaporkan sekaligus memberikan dokumen pemindahan saham.
"Sesuai keinginan anda tuan muda." Menyodorkan dokumen pemindahan saham itu. Terlihat Ardan menganggukkan kepalanya. Pertanda dia sangat puas akan hal itu.
"Baiklah terima kasih pak Herman hari ini sudah bekerja keras." Ardan tersenyum puas. Sekarang orang yang meremehkan istrinya telah menjadi miskin.
"Tuan muda apa anda melupakan sesuatu?" Tanya sekretaris Herman.
"Sesuatu?" Kedua alis Ardan bertaut.
Sekretaris Herman maju mendekati Ardan kemudian membisikkan sesuatu.
"Apa?!" Teriak Ardan namun tiba-tiba tubuh Ardan mematung.
💕💕💕
Drrrrtttt....drrrrtttt...drrrrtttt...
__ADS_1
Dering ponsel Ardan berdering. Padahal baru saja Ani memejamkan matanya.
"Ya ampun siapa sih." Dengan mata yang berat dia mencoba mencari ponselnya.
"Gak ada yang telpon kok." Ucapnya masih dengan menyipitkan matanya. Namun entah kenapa masih terdengar sebuah ponsel yang masih menerima panggilan.
Drrttt ... Drrttt ...drttt...
"Oh ponsel mas Ardan." Dia berusaha membuka matanya lebar-lebar namun percuma karna dia belum mengumpulkan semua nyawanya. Dia pun langsung memencet tombol hijau, tanda dia menerima panggilan tersebut.
"Haiiii Beib...... I'm going back to Indonesia !!! and I've arrived at the airport dear. you pick me up right? " Sebuah suara seorang perempuan memekakkan telinganya. Tubuhnya mematung seketika. Dijauhkannya ponsel tersebut kemudian dia menatap layar ponsel tersebut. "Rianna"
"Hallo." Masih tersambung telpon itu. Kemudian entah bagaimana Ani segera mematikan telpon tersebut.
Kini matanya terbuka lebar dengan hati dan pikirannya yang kacau. Jelas-jelas suara itu suara seorang perempuan yang tengah bahagia. Dan apa katanya tadi pulang ke Indonesia? Berarti perempuan itu baru sampai di bandara. Seketika dia merubah posisinya. Kini posisi duduk di tepi ranjang dengan pikiran dan hati yang kacau. Merenung. Siapa perempuan itu?
Kembali ponsel ditangannya bergetar. "Rianna" kembali menelpon.
Ani beringsut dari tempatnya kemudian meletakkan ponsel Ardan didalam laci. Dengan men silent nya terlebih dahulu.
💕💕💕
Ani POV.
Semalam aku bahkan gak bisa tidur. Masih jam 04:00 pagi. Hah..... Jam berapa mas Ardan balik ke kamar. Apa dia masih belum tahu "Rianna" menelfon? Kenapa pikiranku kacau.
Aku turun dari tempat tidurku. Tangan mas Ardan yang memelukku dari belakang kujauhkan pelan-pelan. Aku mau mandi dan subuhan.
Kira-kira 30 menit aku mandi dan melakukan ritual ibadahku. Aku segera menguncir rambutku agar tak berantakan ketika aku memasak. Walaupun pikiranku masih kacau tapi aku harus memasak untuk sarapan pagi. Aku menuruni tangga. Jam masih menunjukkan angka 04:35 pagi. Kulihat bi Inah sudah di dapur. Menyiapkan beberapa bahan untuk kumasak.
__ADS_1
"Selamat pagi bi." Aku tersenyum. Walaupun pikiranku masih kacau tapi kuusahakan agar orang di sekitarku tak menyadari kegalauan hatiku.
"Selamat pagi nona muda." BI Inah tersenyum lembut kearahku. Perempuan paruh baya itu kemudian bergelut dengan semua pekerjaan rumah tangga yang menyambutnya. Aku mulai mencuci beras. Ritual pertamaku sebelum memasak sayur.
Kulihat jam dinding menunjuk pukul 06.15 waktunya membangunkan mas Ardan.
"Bu Inah aku sudah selesai masaknya aku keatas dulu ya lihat mas Ardan. Kayaknya belum bangun."
"Baik nona muda."
Kubalas dengan senyumku. Aku kembali menapaki tangga satu persatu dengan pelan. Rasanya belum menerima siapa perempuan itu. Apa mantan suamiku? Apa teman lama? Kenapa baru sekarang? Sebelumnya bahkan tak pernah aku melihat ada yang berani menelfon mas Ardan malam-malam. Karna memang setiap ada yang menelfon mas Ardan akan sangat kesal dan merutuki siapa saja yang menelfonnya ketika bersamaku.
Aku segera membuka pintu kamar kami. Dan benar saja kulihat mas Ardan masih betah dengan alam mimpinya.
"Mas Ardan ayo bangun. Udah pagi. Mas Ardan kan mesti kerja."
"Hmmmm"
Aku memutar bola mataku. Setiap pagi selalu seperti ini. Selalu rusuh.
"Mas...."
Mas Ardan menggerakkan tubuhnya. Dalam sekejap menarik tanganku kemudian begitu aku menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang dia mendekapku erat. Sangat erat.
"Biarkan seperti ini dulu sayang. Emuah emuah... Aku ingin seperti ini sebentar saja."
Mas Ardan menghujaniku dengan beberapa kali kecupan diwajahku. Morning kiss begitu katanya. Aku menganggukkan kepalaku. Kemudian aku teringat kejadian semalam dimana hal itulah yang membuatku susah untuk tidur.
Sebenarnya kamu siapa mas? Apa aku bisa mempercayaimu? Apa aku bisa memberikan seluruh hatiku untukmu. Rasanya kenapa dadaku sesak begini. Lalu apa yang harus aku lakukan.
__ADS_1