
...Baca sampai akhir ada bab ya. lalu Ini ada pengumuman pembaca yang mendapatkan satu novel saya berjudul Elegi Buana. Selamat untuk Kakak Yulia. Terus dukung author....
...Masih ada 2 Slot Elegi Buana dan 2 Slot Kapten Rojali, I Love You!...
"Tuan, sudah waktunya untuk makan siang. Apa Anda ingin makan siang di sini, tau di tempat lain?" tanya Ryu.
William melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa sekarang sudah jam makan siang.
"Uncle William, tadi Uncle ingin mentraktirku bukan?" tanya Sabrina.
William menoleh ke arah Sabrina. "Benar. Apa kau ingin sesuatu?"
"Pesan makanan saja. Aku seblak dan nasi ayam geprek," pinta Sabrina dengan penuh semangat.
Dahi William mengerut. "Apa itu seblak? Nasi geprek?"
"Makanan anak muda. Ayolah, Uncle! Kau sudah berjanji," rengek Sabrina.
Melihat reaksi Sabrina, William mendadak sesak napas. Wajah imut nan menggemaskan itu, membuat William kehilangan kendali. "Ryu, pesankan keinginannya. Lalu makan siangku seperti biasa."
"Baik, Tuan." Ryu berlalu. Meninggalkan dua orang yang duduk dengan kaku.
"Istirahatlah, Sabrina." William meletakkan berkas-berkasnya di meja. Pria itu memutar kursinya untuk membelakangi Sabrina.
Ting.
Sabrina melirik ponselnya. Gadis itu menyipitkan kedua matanya. "Om Danar? Apa ada misi baru lagi?" Sabrina membatin.
__ADS_1
Ragu-ragu hendak menyambar ponselnya. Belum sempat menggapai benda pipih tersebut, tiba-tiba panggilan masuk berdering. Membuat perhatian William teralihkan. Pria itu menoleh. Menyadari William mengamati gerak-geriknya, tubuh Sabrina menegang seketika.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya William penasaran. Nada tak suka terdengar jelas di telinga Sabrina.
"Em, apa boleh?" balas Sabrina ragu-ragu.
"Kenapa tidak?" Suara bariton William parau. Pria itu menahan amarah.
"Okay." Sabrina bangkit berdiri. Ia harus berada di jarak tertentu dengan William. Jangan sampai pria itu mendengar apa yang ia katakan di telpon bersama dengan Danar.
"Kamu mau kemana?" tegas William.
Mendadak Sabrina menghentikan langkahnya seketika. Gadis itu memutar tubuhnya. Mengamati William dengan lekat. Entah mengapa Sabrina seperti orang yang sedang tertangkap basah hendak bermesraan dengan selingkuhannya.
"Ya mengangkat telpon. Apalagi?" jelas Sabrina.
"Angkat di sini," titah William.
"Ya?" Sabrina terjingkat kaget.
"Angkatlah telpon itu di sini. Memangnya kau mau kemana? Angkat saja, aku tidak akan memperdulikanmu," ujar William.
"Sial*n! Apa maksud Uncle William sih? Kenapa rasanya aku seperti sedang tertangkap basah? Em bagaimana ini? Ini pasti penting." Sabrina membatin seraya meneguk saliva.
"O oh, okay," sahut Sabrina.
Gadis itu mulai duduk kembali. Dengan kedua mata beberapa kali mengerjap. Bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Lamunan Sabrina kembali dibuyarkan dengan panggilan dari ponselnya. Tertera nama Om Danar kembali di panggilan tersebut.
"Kenapa belum diangkat?" suara William menyentak Sabrina.
"Em, oke."
__ADS_1
Sabrina menekan tombol hijau dengan ragu-ragu. Sesekali dari ekor matanya, Sabrina melirik William yang ternyata tak mengalihkan pandangan darinya. Sabrina meneguk saliva.
"Ha-halo?" Sabrina mengawali pembicaraan.
"Nona Sabrina, mengapa Anda tidak datang di tempat biasa?" Mendengar suara seorang pria di ujung telepon, William mengepalkan kedua tangannya.
"Em, a-aku baru saja pulang berlibur. Jadi maaf, jika aku tidak bisa ke sana untuk beberapa waktu," ucap Sabrina setenang mungkin.
"Berlibur?" suara pria itu menggantung. Membuat William menyipitkan kedua matanya. "Ya sudah. Nanti kabari lagi ya?"
Sabrina menatap ponselnya. Lalu berganti mengarah ke arah William. "Dimatikan."
Raut wajah William berubah. Pria itu memutar kursinya membelakangi Sabrina. Gadis itu mencebikkan bibirnya. Tak menyangka akan mendapatkan perlakuan aneh dari William.
"Uncle William ini kenapa sih? Untung saja Om Danar paham kode yang aku berikan. Jika tidak, Uncle William akan mengetahui alasan mengapa aku kemarin menghilang. Astaga! Lagian, mengapa Uncle William sekarang aneh?" Sabrina menggerutu dalam hati.
Ceklek.
William dan Sabrina menoleh ke arah pintu. Ryu masuk ke dalam ruangan dengan canggung. Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu di belakangnya masuk seorang OB yang membawa nampan. Melihatnya, Sabrina berdiri dengan segera. Kedua mata biru itu berbinar penuh harap. Wangi aroma khas cabe menguar di hidung.
"Makanan apa ini?" rutuk William.
Membuat Sabrina mencebik. Makanan kesukaannya sedang diprotes. Perut yang keroncongan membuat Sabrina duduk di depan meja William. Lalu menarik sebuah piring di mana ada nasi ayam geprek yang juga mendominasi cabe.
"Uncle, lebih baik Anda diam saja. Biar ini Sabrina yang mengambil alih. Nah, itu ada menu lain. Itu milik Uncle bukan? Nikmati makanan sendiri-sendiri saja! Jangan banyak bicara!" sentak Sabrina.
Segera Sabrina mulai menikmati menu yang sangat jarang sekali bisa ia nikmati. William hanya bisa melirik sinis dengan memasang wajah aneh. Pria itu menyentuh perutnya. Merasa mulas melihat sambal di piring Sabrina.
Padahal menu di piring milik William juga tak kalah menggoda dan terlihat lezat. Akan tetapi pria itu nampaknya lebih tertarik menatap Sabrina makan. Bukan hanya menu yang terlihat asing di mata William. Tetapi juga cara makan Sabrina yang tidak malu-malu meong di depan William.
"Uncle? Kenapa Uncle William tidak makan?" tanya Sabrina.
__ADS_1
William terlonjak kaget. Tersenyum miris karena terlalu terbawa suasana. "Melihat makanan yang aneh. Maaf, aku sampai lupa dengan milikku.
"Salah! Kau yang aneh, Uncle!" Teriak Sabrina dalam hati.