
"Tolong kak, izinkan aku disini. Aku ingin menyapanya," Smith masih berlutut. Jangan ditanyakan lagi bagaimana raut mukanya. Lusuh, kucel dan berantakan. Laki-laki itu sedang merasa dibohongi oleh Rosita. Merasa terluka karena sebuah pengkhianatan. Serta saat ini mungkin sedang merasakan karma nyata dr semua perbuatannya. Ani dan Monica masih tidak bergeming. Selain kaget dengan kenyataan yang ada mereka berdua juga enggan untuk bergabung dengan orang yang bernama Smith.
"Kita tunggu Rianna bangun. Setelah itu kita tanya keinginannya. Sekarang lebih baik kita berdo'a untuk kesehatan Rianna," Nico memapah Gretha yang masih syok.
Mereka kemudian masuk ke sebuah kamar rawat VIP untuk memapah Gretha dan Ani. Karena mereka berdua cenderung lemah saat ini. Sembari menunggu Rianna terbangun.
Dengan langkah yang sangat hati-hati Smith memasuki ruangan HCU tempat dirawatnya Rianna.
Smith memandang Rianna. Matanya menatap nanar tubuh lemah anaknya yang terbaring di ranjang pasien. Sepertinya Allah benar-benar menghukumnya. Hatinya seakan teriris sembilu. Satu-satunya kenangan yang diberikankan oleh Rosita. Kenangan terakhir yang menghujam dadanya.
Kenapa kita harus bertemu dengan cara seperti ini nak? Andai saja, mataku tidak buta harta mungkin kita sudah bersama. Oh tunggu, sepertinya aku tau siapa dalang yang membisiki ku untuk menghancurkan keluarga Wijaya. Dasar keparat. Perempuan jala**. Awas kau!
Smith mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal siap untuk dilemparkan ke obyek yang membuat dadanya bergemuruh. Saat hendak akan beranjak dari ranjang Rianna tergolek. Tangan Smith seperti ada yang menahannya.
Begitu mendapati siapa yang menahannya, dadanya bergejolak. Perasaan bahagia menyelimuti hatinya.
"A...a...a...ak...u ha...uus," bibirnya bergerak pelan. Secepat kilat Smith mengambilkan air minum untuk anak yang baru ditemuinya itu. Smith menarik sudut bibirnya. Membentuk sebuah senyuman tipis. Betapa bahagianya dia kini. Namun setelah minum air putih itu Rianna kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
"Loh kok??" niat hati ingin protes namun lihatlah kenyataannya. Laki-laki paruh baya itu lebih memilih untuk diam. Mungkin saja anak gadisnya itu memang perlu istirahat. Dia mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian berlalu meninggalkan ruangan HCU
Waktunya mencari perhitungan. Kau akan memohon ampun, karena berkat bisikanmu aku semakin membabi buta menyerang keluarga Wijaya !
💞💞💞
Di tempat lain. Terdengar suara perdebatan yang membuat telinga Kevin panas. Dua orang yang mirip Tom and Jerry itu masih kekeh dengan pendapatnya masing-masing.
"Elo kenapa nggak nurut apa yang gue bilang sih hah?" intonasi tinggi sudah mulai terdengar.
"Gue udah bilang kan ini luka kecil," Agnes membenahi letak duduknya.
"Siapa yang bilang begitu hah? Elo kenapa sih? Jadi suami galak amat,"
"Elo udah tau gue suami elo. Kenapa elo ngebantah omongan suami? Dosa tau!"
"Yaelah baru jadi suami belum genap satu hari juga. Otak loe kayaknya miring deh,"
__ADS_1
Kevin memijit pelipisnya. Rasanya sudah muak dengan tingkah kedua orang yang baru saja resmi menjadi suami istri itu.
"Eh cewek aneh! Bisa nggak sih elo lembut dikit? Perasaan dulu mantan-mantanku lembut semua, kenapa elo nggak coba?"
Perkataan Dion yang panjang itu membuat Agnes marah. Dadanya bergejolak menahan emosi, ditambah Dion mengungkit kata keramat di kamus Agnes. Dibandingkan dengan mantan.
"Dasar kadal buntung! Elo nyari mati ya?!" teriakan Agnes menggema di seluruh sudut-sudut kamar rawat Agnes.
Brakkkk. Sebuah ponsel terlempar begitu saja mendarat tepat di tembok. Hingga hancur seketika. Jangan tanya lagi siapa pelaku dibalik pelempar ponsel itu. Kevin, laki-laki itu sudah menahan kesal karena mereka berdua sungguh sangat berisik. Terlebih, dimata Kevin Dion dan istrinya seakan sedang mengejeknya yang tengah sendiri tanpa kehadiran Monica disisinya. Agnes dan Dion menoleh dan menatap sosok Kevin dengan keheranan.
"Loe waras?" tanya Dion sembari menautkan kedua alisnya.
"Eh beg* gue waraslah. Kenapa sih kalian berdua itu ribut mulu?! Bisa diem nggak tuh mulut,"
"Loe yakin waras?" sekali lagi Dion mengulangi pertanyaannya.
"Anj*r, ya waraslah. Emang loe pikir gue gila kayak elo?"
__ADS_1
"Gue gila? Bukannya yang gila elo ya? Ngapain loe lempar ponsel sendiri ampek ancur gitu?" penjelasan dari Dion membuatnya segera mencari ponselnya. Benar saja, ponselnya tersebut telah raib. Seketika matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia bangkit berdiri kemudian berajalan menuju ponsel yang sudah hancur itu. Dari serpihannya dia mengenalinya.
"Sialan! Jadi yang gue lempar ponsel gue sendiri!"