Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 143


__ADS_3

"Duh kejunya habis. Em aku beli dulu deh," gumam Rianna. Gadis itu kemudian melesat pergi keluar. Tanpa berpamitan pada siapapun.


"Bunda aku mau itu," jari mungil Rendy menunjuk kue brownies yang terhidang dimeja.


"Iya sayang, nanti kalau udah pakek baju. Sekarang Rendy pakai baju dulu ya," Ani segera memakaikan pakaian anak laki-lakinya. Namun sialnya bocah itu berlari kesana kemari. Membuat Ani mau tak mau mengikutinya. Agnes segera menangkap tubuh bocah kecil yang sedang berlari ketempatnya.


"Hah, makasih ya. Huh kenapa kamu bandel sih nak?"


"Ambil bajunya biar aku yang pegangi dia," Agnes pun mengunci tubuh Rendy.


"Uuuhhh aunty aku mau itu," tubuh kecil itu masih mengeliat dan memberontak.


Dengan segera Ani memakaikan baju untuk anaknya. Memang diumurnya Rendy termasuk anak yang aktif. Mau bagaimana lagi, bocah laki-laki memang bandel minta ampun. Setelah selesai Ani lalu menggendongnya dan mulai menyuapi Rendy dengan kue buatan Rianna.


"Enak?" Rendy dengan antusias menganggukkan kepalanya. Sembari tersenyum menampakkan gigi-gigi mungilnya yang beberapa diantaranya terselip coklat.


"Oh ya Monic Rianna dimana ya?" pertanyaan Ani sontak membuat mereka celingukan.

__ADS_1


"Bukannya tadi dia didepan oven?" tanya Monica.


"Lah? Aku keluar habis mandiin Rendy nggak ada," Ani menatap Agnes seakan meminta jawaban.


"Maaf aku bahkan belum berbicara dengan Rianna semenjak dia sibuk dengan brownies dan kue lainnya,"


Mereka segera berdiri dari tempatnya masing-masing. Ardan yang mendengar kasak-kusuk itupun membuka matanya.


"Ada apa?"


"Rianna kayaknya keluar dari kamar," ucapan Monica membuat mata Ardan terbuka lebar. Bukan hanya dirinya namun Nico dan Gretha juga menatap Monica tak percaya.


"Ardan tenanglah. Mungkin saja Rianna keluar sebentar," Dion mencoba menenangkan Ardan yang mulai panik. Dia segera menyambar ponselnya di atas nakas.


"Zack !! Apa kau melihat seorang gadis keluar dari rumah?"


"Kami berada dibawah tanah tuan. Apa perlu saya cekkan cctv?" suara diujung telfon memebuat Ardan berdecak.

__ADS_1


"Monica !! Coba kau lihat cctv. Apa benar Rianna keluar dari rumah ini?"


"Oke," tanpa membuang waktu Monica menyambar laptop dan mulai mengamati cctv tersebut. Begitu mendapatkan apa yang diinginkan dia mendongakkan kepalanya. Menatap tajam kearah Ardan yang sudah berdiri dengan paniknya. "Rianna keluar dari rumah," lirih Monica. Sebenarnya dia takut untuk menyampaikan informasi itu namun bagaimana lagi kondisinya ternyata lebih rumit dari yang dia perkirakan.


"Sial kita kecolongan !! Apa Rianna membawa ponsel?" Ardan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ponselnya mati," Kevin pun mulai gelisah pasalnya Rianna jarang sekali mematikan ponsel.


"Sial !! Kemana dia?!" teriakan frustasi Ardan kembali terdengar. Rendy yang ketakutan segera memeluk bundanya untuk sekedar menyembunyikan wajahnya. Takut melihat wajah ayahnya yang saat ini tengah panik.


"Kita berpencar saja mungkin Rianna belum jauh," Dion menyambar jaketnya beserta kunci mobil diikuti Agnes yang tanpa sadar menggenggam tangan Dion.


"Ayo bro loe sama gue aja. Kamu disini dulu ya yayang bebeb," mencium pipi Monica sekilas dan melesat pergi bersama Ardan.


Kini penjagaan dirumah itu mulai kacau. Karna sebagian ikut mencari keberadaan Rianna. Nico yang merasa was-was pun segera menelfon Zack untuk berjaga disekitar kamarnya agar lebih ketat. Mengingat kejadian tempo hari.


"Kita jangan lengah sedikitpun. Hanya tempat ini yang aman. Ingat itu Zack. Kaisar telah kembali bukankah ini waktumu untuk berkolaborasi dengannya kembali? Jangan sampai ada kekacauan sedikitpun !!"

__ADS_1


"Baik tuan," ucap Zack dan Kaisar bersamaan.


__ADS_2