
"Sabrina? Kenapa kau malah berdiri di balkon?" tanya William.
Tanpa menoleh, Sabrina menjawab, "Aku memikirkan musuh yang masih saja berkeliaran di luaran sana."
William pun melingkarkan kedua tangannya di perut rata Sabrina. Lalu menenggelamkan kepalanya mencium tengkuk leher Sabrina. William menghirup dalam-dalam wangi tubuh yang membuat William candu.
"Apa kau tidak bisa bersantai sejenak?" tanya William.
"Bagaimana mungkin aku tidak gelisah? Sedangkan pelaku teror itu masih saja berkeliaran tak jelas di mana ia berada. Yang aku takutkan hanya satu. Korban bertambah sebelum kita bertindak dan memiliki cara untuk memojokkannya." Suara Sabrina terdengar bergetar.
"Dia, masih saja memikirkan teror di perusahaanku. Padahal aku sendiri saja memasrahkannya kepada pihak berwajib. Meskipun aku tahu jika itu semua akan membutuhkan waktu yang lumayan lama," batin William.
"Kau memikirkan perusahaanku?" William melepaskan kedua tangan dari perut rata Sabrina. Pria itu menyentuh di pagar besi yang ada di balkon.
"Karyawanmu masih memerlukan biaya untuk bisa tetap makan," timpal Sabrina.
__ADS_1
Kata-kata itu cukup mencubit hati William. Pikiran Sabrina ternyata sangat luas. Memang bisa saja ia lepas tangan dan tidak mau tahu tentang para karyawannya itu. Tetapi Sabrina masih saja bisa memikirkan banyak perut yang kemungkinan bisa saja kelaparan.
"Baiklah. Aku paham kegelisahanmu. Tetapi, kau juga harus beristirahat. Ayo masuk. Ini sudah malam. Tidak baik untuk berada di sini. Angin malam bisa membawa pengaruh buruk untukmu," ucap William.
Pria itu menarik Sabrina menjauh dari balkon. Beruntungnya, Sabrina paham dan tak memprotes. Keduanya lalu memejamkan kedua mata. Memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang telah lelah.
Keesokan harinya, Sabrina mendadak gelisah dan cemas. Benar saja ketika ia sampai di kampus, ia tak mendapati Aretha. Hari ini padahal kelompok mereka akan mengadakan diskusi bersama.
"Ck! Si cupu kemana? Apa dia nggak mikir jika ini berkaitan dengan nilai kita semua?" rutuk Dixton.
"Nomornya nggak aktif dari tadi. Ada apa ya? Biasanya Aretha selalu masuk kok," ujar Sabrina.
"Belum tentu. Terkadang apa yang kau lihat itu terkadang menipu," celetuk Artur yang sedari tadi hanya diam.
"Kita tunggu sebentar lagi," timpal Sabrina.
__ADS_1
Semua orang kembali membisu. Sedangkan kelompok-kelompok lain sudah saling mendiskusikan pekerjaan mereka. Sedangkan di kelompok Sabrina, justru sedang diliputi rasa kesal dan gelisah. Mereka cukup resah. Karena Aretha tak juga muncul. Harapan itu pupus hingga kini jam pelajaran telah berakhir.
"Gil*! Ini kenapa jadi berantakan?" keluh Dixton.
"Si cupu sial*n! Gimana nih? Takutnya, besok dia juga tidak masuk tanpa kabar begini. Takutnya, dia malah terlalu nervous karena bekerja secara kelompok," papar Justin.
"Em, Artur. Bisakah kita ke tempat Aretha? Aku rasa dia ada di panti asuhan." Sabrina mulai bangkit berdiri.
"Ikut dong! Gimana-gimana dia juga teman satu kelompok! Kalau dia alasan, lihat saja! Aku yang akan mengurusnya!" Dixton menepuk dadanya yang bidang.
Keempat anak muda mudi itu akhirnya bergerak menuju panti asuhan. Tempat di mana Aretha tinggal semasa kecil. Dari kejauhan, Sabrina menangkap pemandangan yang tak biasa. Pertama kali ia ke panti asuhan itu, banyak sekali anak-anak yang akan menyambutnya. Sedangkan ini? Semuanya tampak sepi.
"Sabrina, ada sesuatu yang aneh. Bukankah panti asuhan selalu saja ada anak yang berlarian?" gumam Artur yang berdiri tepat di belakang Sabrina.
"Apa kecurigaanku ini terbukti?" batin Sabsrina dalam hati.
__ADS_1