
Aku ingin mengucapkan rasa terima kasihku untuk kalian semua yang mendukungku. Hingga aku kembali memiliki nyali untuk lanjut dinovel ini. 😊😊😊 terima kasih juga untuk kalian yang masuk dikeluarga Permaisuri. Karena dukungan kalian aku mantap nerusin novel ini.
Terlebih anggota keluarga Permaisuri yaitu, akak Irvana, akak Emyl, Mamah Erika, akak Nung Sumi, akak Rini, akak Siti Palembang, akak Wahyuni, akak Wati Sinaga, akak Yulia, akak Yuni Kandozi, akak Zahra, akak Ela Li jian, dan akak Nella IT SULLOTION. 💖💖💖 BIG LOVE YOU UNTUK KALIAN YANG BIKIN AKU SEMANGAT BALIK LAGI KESINI 😂😂
*****
"Kami bertunangan kilat kok Om. Maklum, abang Rendy ini kan sibuk banget. Nggak mungkin ada banyak waktu buat aku. Atau buat kita kencan. Jadi tunangan kami berdua, hanya sekedar saling menukar cincin saja," ujar Elena dengan tenang dan tersenyum hangat. Membuat Ardan melunak seketika juga membuat Rendy tersenyum.
"Dasar anak bengek! Kau memperlakukan wanitamu seolah tidak berharga? Serta kau dengan tidak tahu malunya mengenalkannya pada kami sebagai tunanganmu? Kau benar-benar keterlaluan!" seru Ardan.
"Ckckck Kak Rendy, kakak benar-benar nggak ada romantisnya! Pantesan jomblo akut dari lahir!" ejek Rania. Membuat Rendy seketika melotot.
"Kau dengar itu? Adikmu saja mengerti!"
Lo ... Kenapa ayah marah? Elena! Cepat bantu aku. Bisa habis aku nanti. Melirik tajam kearah Elena. Gadis itu seketika merinding.
__ADS_1
"Bukan begitu Om. Karena mimpi terbesar Rendy adalah menjadi hebat seperti Ayahnya. Jadi, aku hanya bisa memberikan ruang dan kesempatan untuk Rendy. Agar dia bisa menjadi anak lelaki ayahnya. Saat dia sukses nanti, agar dia selalu mengingat bahwa hanya ada aku yang mendukungnya tanpa syarat," ucap Elena dengan sungguh-sungguh. Membuat Ardan menghela nafas panjangnya.
"Kau benar Nak. Mimpi terbesarnya adalah sebuah kesuksesan. Tetapi, hidup tidak selamanya tentang materi dan kekuasaan. Ada kalanya Rendy juga suatu saat membutuhkan sebuah cinta. Tidak ada salahnya mengejar materi tetapi," Ardan menoleh kearah istrinya. Mariani mengulum sebuah senyum dan menghampiri suaminya. Ardan menautkan jari-jemarinya di sela-sela jari-jemari milik Mariani. "Hidup juga membutuhkan cinta dan kasih sayang. Jangan hanya mengejar sebuah materi hingga melupakan ada banyak cinta didunia ini."
Elena terharu. Ternyata keluarga Rendy tak seburuk yang dia pikirkan. Membuat Elena sedikit tersenyum pahit. Mengingat tidak ada cinta maupun kasih sayang dalam hidupnya. Disisi lain, Rendy hanya termenung memikirkan ucapan sang Ayah. Ada kalanya dia juga menginginkan sosok yang tulus mencintainya. Namun, masih adakah cinta yang tulus tanpa harus melihat kekuasaan dan materi?
"Siapa namamu Nak?" Mariani mendekati Elena. Gadis itu tersenyum tulus saat seorang paruh baya itu tersenyum penuh kehangatan padanya.
"Elena Tante. Maaf ... Saya tak bawa oleh-oleh untuk anda." Elena menunduk malu. Membuat Mariani tersenyum.
"Tak apa. Hal yang paling penting adalah kedatangan sang anak. Karena seorang bagi seorang ibu sepertiku, hanya membutuhkan kabar tentang anaknya. Bukan materi," ujar Mariani sembari melirik Rendy. Lelaki itu seketika menundukkan kepalanya seakan tersindir.
"Oh benarkah? Tante sendiri yang memasak?" tanya Elena seakan tak percaya.
Hei mereka itu sultan! Benarkah nyonya dirumah ini bahkan memasak dengan tangannya sendiri? Oh ya lord aku bahkan sama sekali nggak paham tentang bumbu dapur. Kalau kau bertanya tentang bubuk mesiu aku paham! Siapa yang ingin meledakkan markas musuh, panggil aku! Tapi tidak dengan didapur. Bisa-bisa aku meledakkan dapur itu. Elena membatin keras.
__ADS_1
"Sayang ... Kenapa kau diam saja? Ayo cepetan makan. Masakan bundaku benar-benar enak," ucap Rendy sembari mengambilkan nasi untuk Elena.
Yang yang kepala lo peyang!
"Iya terima kasih." Elena tersenyum kaku.
"Jangan sungkan Nak. Makanlah kau pasti lapar setelah perjalanan jauh. Lihatlah tubuhmu begitu kurus. Makan yang banyak," ucap Mariani lembut.
"Iya Sayang ... Makanlah yang banyak. Kenapa kau kurus begini? Seperti aku tidak pernah memberimu makan saja," cerocos Rendy membuat Elena bergetar. Gadis itu tengah menahan kesal yang luar biasa karena dipojokkan.
Emang lu kagak ngasih gua makan oncom!
"Iya aku akan makan banyak." Elena tersenyum sambil menatap tajam Rendy.
Beneran lu pengen gua cekik dah. Elena membatin kesal sembari memasukkan makanan kedalam mulutnya. Enak. Sekali lagi gadis itu makan dengan bahagia. Karena rasa masakan dari bunda Rendy benar-benar menjadi goodmood untuknya.
__ADS_1
"Kapan kalian berdua akan menikah?" tanya Ardan disela-sela makannya. Membuat Elena dan Rendy tersentak.
"Uhuk."