
Sabrina menatap canggung William yang masih membisu. Hingga pelayan datang membawa pesanan keduanya. Sabrina memberanikan diri menatap William.
"Perusahaanku bangkrut." William membuka suaranya. Membuat Sabrina gugup seketika. Lanjut William, "papamu tahu hal itu. Tetapi ia mengatakan kata-kata yang aneh." William menatap dingin pada sosok Sabrina.
Tenang Sabrina. Berpura-puralah tidak tahu apapun. Sabrina menguatkan diri.
"Aneh? Aneh bagaimana? Perasaan papa, dari dulu sudah aneh." Sabrina bersikap seolah tak tahu apa-apa. Meskipun ia sendiri dalang dari kehancuran William.
Lama William terdiam. Ia menelisik gerak-gerik Sabrina, yang masih terlihat biasa. William mendesah resah. Pria itu terlihat memejamkan kedua matanya.
"Benar. Dia memintaku untuk menikahimu. Agar dia bersedia membantuku." William membisu kembali.
"Tunggu, apa? Papa meminta Uncle, untuk menikahiku?" tanya Sabrina. William menganggukkan kepala. "Tunggu, Uncle yakin?" Yes! Papa memang hebat. Sabrina membatin senang.
__ADS_1
"Benar." William enggan menyahuti lebih panjang lagi.
"Aneh. Jika mama tahu, aku bisa dipenggal leherku," gumaman dari Sabrina membuat William tertarik. Pria itu mulai mencondongkan tubuhnya. Menatap lekat Sabrina. "Sayangnya, ini permintaan papa. Bukan permintaanku. Jika itu permintaanku, leherku jelas hilang."
Lagi, wajah William berubah gelisah. Pria itu kembali mendesah resah. "Jadi, pernikahan kita harus dilaksanakan?" William memijit pelipisnya.
"Pernikahan apa?" tanya Sabrina seolah tidak tahu. Ia bersikpa seolah malas, terhadap pembicaraan ini.
"Jika aku menikah denganmu, aku tidak akan memintamu untuk menjadi istriku sesungguhnya," ujar William tiba-tiba.
Hati Sabrina terasa sakit. Itu artinya ia akan menjadi seorang istri yang tidak diakui bukan? Sabrina meringis, untuk luka yang ada di dalam hatinya. Ditatapnya William dengan seksama.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Uncle." Sabrina enggan meneruskan kata-katanya.
__ADS_1
"Seperti yang aku bilang, aku akan menikahimu sesuai permintaan dari Rendy. Lalu kita akan bercerai, setrlah waktunya tiba," kata William tanpa dosa.
Sabrina mengepalkan tangannya. Uncle, William. Kau benar-benar tega padaku. Apa aku memang tidak pernah memiliki kesempatan, untuk mendapatkan hatimu? Sakit. Hatiku terasa sakit, tetapi tidak berdarah. Bagaimana ini? Jika aku menolak, kesempatan untuk berdekatan dengan Uncle William akn sirna. Benar. Cinta hanya butuh waktu.
"Apa perusahaan Uncle, benar-benar tidak bisa ditolong? Meskipun aku menyukai Uncle, aku juga tidak akan menjatuhkan harga diriku begitu saja." Sabrina membalas kata-kata tajam William. Benar, ia tidak boleh terlihat lemah.
Kenapa dia berubah begitu? William membatin heran. Tetapi pada akhirnya ia sadar. Jika Sabrina, hanya mencintai sekilas. Tidak benar-benar mencintainya. Seharusnya ini hal baik bukan? William berfikir sejenak.
"Menurutmu? Aku bahkan menyetujui ide gila, dari papamu," pungkas William dengan ketus.
"Setelah menikah, Uncle tidak boleh melarangku berteman. Aku juga bebas pergi kemanapun, yang aku mau. Aku tidak mungkin, harus terkurung di rumahmu tanpa cinta dan kasih sayang." Sabrina menatap tajam William. Kali ini ia menampakkan keseriusan.
Tatapan matanya, berbeda sekali. Aku merasa, Sabrina menjadi sedikit lebih tegas dari sebelumnya. Apakah Sabrina tersinggung, dengan kata-kataku barusan? William membatin penuh emosi.
__ADS_1