
Ceklek.... Ardan membuka pintu kamarnya. Terlihat istrinya tengah berguling-guling diatas kasur dengan terbungkus selimut. Ardan tersenyum gemas melihat tingkahnya.
"Sayang.... Asyik banget?" Tanya Ardan kemudian menjatuhkan bokongnya diatas ranjang.
"Eh... Mas Ardan udah selesai bicaranya?" mendudukkan tubuhnya.
"Udah sayang. Dion juga udah pulang. Kamu lagi apa? Kayaknya asyik banget."
"Nih lihat, baca novel. Aku abis download tadi. Monica juga baca. Ternyata ada ya aplikasi untuk baca novel. Hihi makin suka aku. Abisnya aku udah selesai ngerjain tugas desain terus aku nelfon Monica. Eh malah dia mencak-mencak." cerita Ani panjang lebar.
"Kenapa? Kok marah?" Mengelus puncak kepala istrinya.
"Iya mas. Dia kan lagi baca novel online. Ya udah deh aku ikutan download juga. Eh ternyata bagus juga seru lagi."
"Sayang....." Ardan segera ******* bibir ranum istrinya. Tanpa berfikir bahwa istrinya terkesiap kaget. Namun setelahnya dia ikut terhanyut dengan permainan suaminya. Sekejab kemudian pakaian keduanya pun sudah terbuang kesembarang arah.
Malam yang panjang penuh gairah pun berlangsung. Hingga dinginnya AC pun tak terasa. Bahkan membuat keduanya semakin berkeringat. Suasana malam syahdu dan erotis terus berlangsung. Hingga dini hari barulah Ardan membiarkan istrinya tertidur karena kelelahan. Dia tersenyum. Kemudian menarik selimut tebal agar menutupi tubuh istrinya yang polos.
"Terima kasih sayang." Mengecup puncak ubun-ubun istrinya. Kemudian dia ikut tertidur disamping tubuh istrinya memeluk tubuh sang istri dari belakang.
💞💞💞
Sinar mentari mulai menampakkan dirinya melalui celah-celah jendela kamar. Ani pun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
"Astaghfirullah hal'adzim... Aku kesiangan ya Allah." Terbangun segera. Karena mendapati jam dinding sudah menunjukkan angka enam pagi. Dengan cepat berlari menuju kamar mandi. Mandi besar dengan segala ritualnya. Akhirnya setelah selesai dia melilitkan handuk dan kemudian membuka pintu kamar mandi. Dilihatnya suaminya sudah terbangun. Rambut yang acak-acakan dan bertelanjang dada. Otot-otot kekar itu terlihat begitu dengan jelasnya. Mata Ani membulat mendapati pemandangan tersebut. Dia meneguk salivanya.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" Tanya Ardan sembari tersenyum.
"Ah .. nggak kok." Segera memalingkan wajahnya. Semburat merah muda terlihat dikedua pipinya. Kemudian berjalan menuju lemari pakaiannya.
"Kenapa malu? Kamu kan tiap malam selalu menyentuhnya sayang." Ardan tersenyum. Menggoda istrinya sekarang menjadi hobi baru baginya. Karena istrinya sangat menggemaskan.
"Nggak tuh." Segera memakai bajunya. Hari ini dia mengenakan celana Levis panjang berwarna biru dongker. Dipadu dengan atasan berenda berwarna putih.
"Mau aku antarkan?"
"Hah? Nggak usah mas. Kan mas Ardan harus kerja juga."
"Gak apa-apa sayang. Sekali-sekali pengen anterin kamu kekampus."
Ani berfikir sejenak. Selama ini Ardan memang tak pernah mengantarkannya ke kampus. Ini kesempatannya, karena selama ini dia juga iri dengan Monica. Yang setiap pagi diantar oleh Kevin. "Boleh deh. Asal mas Ardan gak sibuk."
"Em... Ok deh pak bos. Aku kebawah dulu ya mas." Teriak Ani. Kemudian segera menuruni tangga menuju ke dapur.
Seperti biasa dia melihat bi Inah sudah stand by didepan kompor membuat sarapan menggantikannya.
"Selamat pagi bi Inah. Maaf ya aku kesiangan." Sapa Ani.
" Tak apa nona muda, ini juga termasuk tugas bibi." BI Inah melihat nona mudanya sekilas. Memang nona mudanya bahkan tanpa make up sekalipun sudah ayu dari sananya. Dilihatnya dengan seksama nona mudanya itu terlihat penampilan rambut panjang itu terikat asal-asalan. "Nona muda bahkan sampai lupa menyisir rambutnya."
"Ah !" Ani memegang rambutnya. Kemudian tersenyum malu. "Aku terburu-buru bi. Hihihi."
__ADS_1
"Sudah, nona kembalilah kekamar. Biar disini saya yang mengurusnya."
"Hmm baiklah. Oh iya bi jangan lupa siapkan bekalku sama Agnes ya."
"Baik nona muda."
Anda masih seperti dulu nona muda. Bahkan anda tak pernah menyombongkan diri semenjak menjadi nona muda dikeluarga Wijaya. Bersyukur keluarga Wijaya memiliki menantu seperti anda.
💞💞💞
"Tuan muda nona muda." Agnes dan pak Surya pun membungkukkan badannya. Begitu mendapati sosok tuan mudanya.
"Hem."
"Mas Ardan gak apa-apa?" Tanya Ani. Kini mobil mulai melaju. Meninggalkan kediaman Wijaya.
"Iya sayang. Apa yang kau khawatirkan?" Memainkan rambut istrinya yang lurus dan hitam legam. Dia mencium rambut yang terurai sepanjang punggung itu.
"Oh iya mas. Kemarin ada mobil yang mengikuti kami."
"Sudah. Sudah mas urus kok." Menciumi rambut milik istrinya. "Rambutmu benar-benar indah sayang." Harum... Entah kenapa rambut milik istrinya lebih harum dari rambut miliknya. Padahal memakai shampoo yang sama. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu milik istrinya. Agar memudahkannya menciumi rambut indah milik istrinya itu. Entahlah dia juga bingung kenapa sekarang mencium rambut milik istrinya menjadi favoritnya kini.
Oh ya ampun. Kenapa aku merinding gini ya? Apa setiap hari tuan muda bersikap begini saat bersama nona muda? Apalah arti si jomblo kalau begini. Mereka bahkan lupa kalau ini dimobil cih. Agnes yang belum terbiasa dengan sikap bucin tuan mudanya hanya mendengus kesal.
Sesampainya dikampus Bahkan Ardan ikut mengantar istrinya hingga kekelasnya tentu saja heboh. Karena baru pertama kali Ardan menginjakkan dikampus yang juga merupakan miliknya. Semua mata menatap kearah mereka berdua. Ani risih saat mendapati bahwa dirinya menjadi pusat perhatian seluruh mahasiswa. Bahkan ada yang dari mereka sudah berbisik-bisik. Dia kemudian melirik makhluk dingin disampingnya, yang tetap berjalan tegap dan menatap lurus kedepan. Memang Ardan terlihat berwibawa dan tampan. Tapi tingkahnya benar-benar dingin. Menambah kesan yang memabukkan bagi kaum hawa.
__ADS_1
"Selamat belajar sayang. Nanti kalau pulang jangan lupa hubungi aku ya." Ucap Ardan begitu sampai didepan kelas istrinya.
"Iya mas." Ani tersenyum kemudian mencium punggung tangan Ardan. Sebaliknya Ardanpun mengecup kening istrinya. Dan semua itu tak luput dari pandangan semua yang berada disana.