Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 24


__ADS_3

*Huh *..... Ardan melangkahkan kakinya dengan kasar. Dia kesal, sangat kesal terlebih kedua sahabatnya yang benar-benar tak percaya kalau Ani adalah istrinya. Baiklah memang Ardan dan Ani selisih 15tahun namun Ardan masih terlihat tampan dan karena memang dia sudah berumur dia terlihat lebih berwibawa.


Aduh mas Ardan kayak anak kecil aja sih. Tapi lucu juga sih. Baru kali ini lihat mas Ardan banyak tingkah gitu. Dulunya kupikir sangat garang. Eh malah bener-bener kebalikannya. Hihihi.....


"Heh ngapain kamu disitu? Cengar cengir lagi. Kamu mau tidur diluar ?" Ardan masih bersungut-sungut kesal.


"Eh iya mas." Buru-buru Ani mengikuti langkah Ardan masuk ke kamar.


"Kamu istriku ingat itu. Istri." Sembari menjatuhkan diri diatas kasur.


Hah? Maksudnya apa? Bukankah aku memang istrinya ya. Masa masih bahas yang ditempat tadi?


"Kenapa diam? Ayok bobok". Ardan menepuk-nepuk kasurnya. Gadis itu melangkah ke kamar mandi mengganti bajunya dengan piyama tidur. Sebenarnya baju tidur miliknya semuanya sangat tipis. Itu karna pilihan greeta karna yah memang greeta ingin segera menimang cucu. Akhirnya dia membeli piyama saat dia berbelanja di pasar tradisional. Memang murah. Yah lumayanlah daripada harus pakai baju tidur itu seperti menjadikan diri sendiri umpan untuk kucing garong disebelahnya ini.


"Ani...." Panggil Ardan pelan.


"Iya mas."


"Apa kamu menyesal menikah denganku?"


Hah ? Pertanyaan macam apa itu? Seharusnya yang menyesal itu anda bukan saya karna anda menikahi gadis miskin seperti saya.


"Emmm ... Tidak mas."

__ADS_1


"Aku mencintaimu."


D e g .... Jantung Ani kini mulai maraton lagi. Lagi lagi saat mendengar Ardan menyatakan perasaannya.


"Aku tau kau menikah denganku karena terpaksa tapi aku jujur dengan perasaanku. Aku jatuh cinta padamu saat pandangan pertama. Jadi tolong kedepannya lihatlah cintaku. Aku tau aku tak sempurna. Aku juga tau kalau usia aku mungkin juga seperti pamanmu. Namun kuharap kau menerimaku apa adanya."


Deg deg deg.... Oh jantungku tolong kondisikan. Dia hanya sedang kesal karna sahabatnya mengatakan dia tua.


"Kenapa mas bilang begitu. Mas kan dari awal juga sudah tau kalau aku janda. Mungkin temanmu itu belum tau kalau aku janda. Jadi berkata sekenanya saja. Jangan khawatir mas. Aku tetap akan bersamamu." *Aku tak mau jadi janda lagi tahu *!!!


" Oke tidurlah ini sudah malam."


"Mas...."


"Enggak. Anu.... Itu mas.... Tawaran mas yang waktu itu."


Ardan mengernyitkan dahinya. Tawaran apa?


"Itu Lo tentang melanjutkan sekolah."


"Oh... Kau mau mengambil jurusan apa?"


"Kalau.... Desain gimana mas? Aku dari dulu pengen desain baju." Ya dulu baginya itu adalah hal yang mustahil. Namun kini berbeda sekarang dia adalah istri dari Ardan Wijaya yang tak perlu memikirkan biaya apapun.

__ADS_1


"Boleh. Kalau gitu aku akan mendaftarkan mu di universitas XX ya itu kampus paling ternama dikota ini sayang."


"Terserah mas aja. Aku makasih banget mas udah kasih aku kesempatan ini. Aku gak bakal sia-siain kesempatan ini mas"


Ardan tersenyum. Dia benar-benar bahagia karna lambat laun Ani menerima setiap pemberiannya. Disambarnya ponsel miliknya. Kemudian menelpon seseorang.


"Urus semua dokumen-dokumennya. Besok daftarkan istriku di universitas gajah Mada. Ambil jurusan desain. Lusa istriku sudah harus masuk kekampus itu. Oke.... setelah beres kabari aku secepatnya." Kemudian telpon ditutup. Ardan kemudian menoleh ke arah istrinya itu.


Begitukah cara orang kaya menggunakan kekuasaan dan uangnya?


"Sudah malam. Waktunya tidur sayang." Ani mengangguk kini Ardan merebahkan tubuhnya disamping tubuh istrinya memeluknya dari belakang. Ani tak menolak dipeluk Ardan karna kini dia telah terbiasa dengan Ardan yang tidur disampingnya. Bahkan memeluknya dari belakang. Dan kemudian mereka terlelap ke alam mimpi masing-masing.


💞💞💞


Hari ini adalah hari yang ditunggu tunggu. Ya, hari ini adalah hari pertama Ani masuk ke kampus. Benar-benar diluar mimpinya. Sebenarnya Ardan hari ini mau mengantarkannya berangkat ke kampus. Namun dicegah oleh Ani. Karna dia pikir pekerjaan seorang Presdir pastilah sangat sibuk. Mengingat bahwa Ardan pun terkadang membawa sebagian pekerjaan untuk diselesaikan dirumah. Kini dia bisa dengan percaya diri memasuki kampus ternama dikota itu. Impian setiap orang pada umunya.


" Ani?" terdengar suara laki-laki yang dikenalnya. Tidak. Dia bukan hanya mengenalnya. Namun suara itu adalah milik orang yang dulu paling dekat dengan denyut nadinya.


Ani was was.... Sesaat kemudian dia menoleh.


"Ke... ke Napa kamu ?"


 

__ADS_1


__ADS_2