Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 308. Aku mengawasimu, bocah!


__ADS_3

Mereka semua makan malam dengan bahagia. Kecuali, Artur kali ini seakan makanannya hambar. Lihatlah sorot mata tajamnya menatap tingkah laku seorang gadis dengan nyalang. Sabrina, gadis itu terus tersenyum tanpa berhenti sedetikpun. Bahkan sesekali ia memergoki ekor mata gadis itu menatap lekat wajah ayahnya. Sangat menjengkelkan.


Setelah selesai, Artur mengantarkan Sabrina pulang. Hal yang membuat Artur jengkel adalah, ketika gadis itu masih tersenyum tak jelas. Meskipun kini keduanya telah berada di jalan. Terlebih Sabrina sesekali membuat ulah karena berteriak tak jelas.


"Kau bisa diam tidak?" tanya Artur kesal. Menghentikan secepatnya laju sepeda motornya.


"Kenapa?" tanya Sabrina dengan polos.


"Kau itu sudah bisa dikatakan gila! Kau senyum-senyum sendiri. Bahkan bicara sendiri! Memalukan! Apa kau tau itu? Kau bahkan dilihat oleh orang-orang tanpa kau sadar! Lihat!" Artur mendengus. Saat ini mereka berads di jalan raya dengan lampu merah yang menyala di rambu lalu lintas. Hal itu mengharuskan mereka untuk berhenti. Dan disinilah, Sabrin menjadi pusat perhatian.


"Apa yang salah? Aku tak mengganggu mereka. Aku adalah seorang gadis yang tengah jatuh cinta. Bukankah itu hal yang wajar, jika aku menggambarkan suasana hatiku?" celoteh Sabrina. Karena cukup kesal, Sabrina bahkan turun dari sepeda motor Artur.


"Tapi kau gila! Astaga, kau masih saja tidak menyadarinya?" Artur mengusap wajahnya dengan kasar. Kesal tiada terkira menggerogoti hatinya. Gadis aneh! Teriaknya dalam hati.


"Dari tadi kau selalu membentakku, Artur. Aku ini sedang jatuh cinta, ya wajarlah jika aku senyum-senyum terus. Lagian nih ya ini tuh cinta pertamaku. Wajib dong aku mengapresiasikannya?" tanya Sabrina tanpa dosa.


"Kau! Ya sudah, ayo kita lanjut dan segera sampai di rumahmu!" teriak Artur hendak kembali mengemudikan sepeda motornya. "Jika kau tidak segera naik, aku akan meninggalkanmu!"


"Ish, kau itu galak sekali!" gerutu Sabrina.


Meskipun begitu, Sabrina segera melesat menaiki sepeda motor Artur. Dengan cepat Artur menancap gas karena takut Sabrina akan menggila lagi. Tak terasa kini mereka telah sampai dirumah Sabrina.


"Aku tidak mampir. Ini sudah malam!"


Sebelum Sabrina menjawab, Artur sudah menancap gas begitu saja. Membuat Sabrina mengomel berkali-kali. Entah mengapa Artur begitu mengesalkan hari ini.


"Dasar! Jadi lelaki kenapa kau galak sekali! Mama! Aku jatuh cinta!"


********

__ADS_1


"Tadi malam kamu pulang jam berapa, Nak?" tanya Elena. Wanita paruh baya itu membangunkan Sabrina yang tengah terlelap. Karena Sabrina bergeming, Elena menggebrak meja.


Braakkkk.


"Oppa tampan!" teriakan Sabrina yang spontan dan segera membuka kedua matanya karena terlonjak kaget. Elena yang mendengar oppa tampan, tidak mungkin ia tidak tau artinya.


"Sabrina, siapa oppa tampan?" tanya Elena heran.


"Ma-mama, bukan apa-apa. Ma, hari ini hari minggu. Biarkan aku tidur lebih lama lagi."


"Ini sudah siang, Brina. Hari ini kita ada agenda. Kedua adikmu saja sudah dijemput oma. Ini sudah jam 6 pagi, ayo bangun. Kita harus segera bergegas untuk perjalanan," ucap Elena dengan menarik selimut Sabrina.


"Memang kita mau kemana sih, Ma? Sudahlah ini hari minggu! Aku mau tidur!" Sabrina menarik selimutnya kembali.


"Brina! Jika kau berani tidur lagi, aku akan menyuruh kakekmu untuk menjagamu. Lihat saja, bagaimana dia mendisiplinkanmu!" ancam Elena. Seketika Sabrina segera bangkit.


"Nggak, Ma! Aku bangun, aku sudah bangun oke? Bisa-bisa kakek melemparku untuk berlatih militer!"


"Bukankah ini keluarga yang aneh? Hei, aku ini perempuan, Man! Kenapa aku harus berlatih taekondow, kungfu, dan boxing? Ajaib sekali keluargaku ini!" keluh gadis itu. Sabrina segera bergegas, atau jika tidak hukuman dari papanya akan menanti dirinya.


Saat Sabrina menuruni tangga,ada dua orang yang begitu dikenalnya. Siapa lagi jika bukan Artur dan oppa tampannya. Secara reflek Sabrina segera berlari menuruni tangga. Apakah agenda hari ini bersama mereka? Bukankah itu artinya dia bisa melihat oppa tampannya itu dengan jarak yang dekat? Amazing! Rejeki nomplok!


"Oppa tampan!" teriak Sabrina saat gadis itu telah berhasil menuruni tangga yang terakhir. Senyumnya mengalahkan sinar mentari yang sedang bersinar. Sedangkan di sudut lain Elena yang mendengar oppa tampan segera waspada. Kedua netranya menatap nyalang Sabrina seakan mengatakan aku mengawasimu, bocah!


Mati! batin Sabrina saat kedua matanya bertubrukan dengan tatapan mata sang mama.


****


Ini namanya surga dunia! Roti sobek ada dimana-mana. Sabrina membatin bahagia.

__ADS_1


Sabrina hanya mendesah dalam hati. Hari ini adalah agenda liburan dengan rekan kerja Rendy. Tentu saja ini adalah surga baginya. Terlebih roti sobek milik William yang begitu menggoda. Kulit putih, wajah tampan, kemudian ditambah kecamata hitam yang benar-benar menambah wibawanya. Begitu sempurna di mata Sabrina. Gadis itu tak hentinya menggumamkan surga ketika dia menatap lekat tubuh William.


"Ooooh katakan, ini surga! Dia benar-benar tampan bukan?" gumam Sabrina.


Senyum Sabrina merekah berikut dengan kedua matanya yang dimanjakan. Tetapi senyum itu lenyap seketika saat dia melihat ada rombongan gadis-gadis yang mendekati William. Dimana terlihat para gadis itu menggoda William. Tak cukup sampai disitu, kedua netra Sabrina menatap sesuatu yang membuat nyalinya ciut. Seketika pandangan gadis itu menatap ke bawah. Kearah dadanya yang ... kempes.


"Sialan! Mentang-mentang mon ... tok saja dia bisa ganjen begitu. Padahal wajahnya juga biasa-biasa aja. Cih! Lihat aku, aku ini masih cantik dan masih muda. Mereka menor sekali! Apa kurangnya aku coba?" gumam Sabrina dengan kesal.


"Kurangnya kau itu rata!" seru Artur yang tiba-tiba berada di belakang Sabrina. Gadis itu menoleh. Seketika darahnya berdesir.


Ya tuhan! Roti sobek lagi! Bisa-bisa aku beneran punya sakit jantung kalau begini mah! Tunggu, bukankah ini bocah sialan itu ya? Euforia Sabrina dalam hati.


"Apa katamu tadi?" tanya Sabrina.


"Kau budek? Aku bilang, kekuranganmu itu cuma 1!" teriak Artus dengan menaikkan intonasinya.


"Apa?" tanya Sabrina kesal. Apa lagi ini? Apa bocah jelek itu tidak tau jika hatinya dongkol?


"Dadamu itu rata!" seru Artur. "Tidak seksi sama sekali!" setelah mengatakan hal itu, Arturpun segera meninggalkan Sabrina.


"Sialan! Kau! Mentang-mentang perutmu bagus kau bisa mengataiku seenaknya? Hah? Hei, aku masih bicara padamu bocah jelek!" teriak Sabrina dengan dongkolnya. Kepalanya pening, tentu saja karena dia saat ini berada di pantai. Itu hal yang wajar.


"Hubunganmu dan Artur lumayan baik ya?" sebuah suara bariton menyautinya. Sabrina yang sudah kesal diubun-ubun karena merasa harga dirinya diinjak-injakpun, hanya bisa menjawabnya dengan kesal tanpa menoleh sedikitpun.


"Hubungan yang buruk! Dia menjengkelkan. Apa katanya tadi? Aku ini rata? Waah dia tidak tau apa jika aku ini cantik? Aku bahkan lain dari gadis lainnya," Sabrina mendengus.


"Oh, lain? Apa maksudmu?" suara bariton itu kini bertanya lagi.


"Tentu saja aku bisa mengalahkan 5 preman sekaligus! Aku bahkan dididik sangat keras. Jarang bukan, ada gadis yang begitu keren sepertiku! Omong kosong apa itu tadi? Aku rata? Rasanya aku benar-benar ingin mencabut rambutnya itu hingga botak!" teriak Sabrina dengan kesal kemudian gadis itu menoleh saat terdengar gelak tawa yang begitu mengesalkan. Serta merta gadis itu terlonjak kaget.

__ADS_1


"Hahaha." Sabrina mematung. Tamat sudah riwayatnya.


Lelaki yang berada di depannya adalah oppa tampan. Yang artinya, ayah kandung Artur. Lebih buruknya lagi dia mengumpat serapah anak semata wayangnya. Hancur lebur sudah image yang ia bangun sebagai gadis yang anggun! Seketika ia teringat jika dirinya juga mengatakan tentang kemampuan bela diri miliknya. Tuhan, kubur aku sekarang!


__ADS_2