Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Season 2. Undangan Makan Malam


__ADS_3


Elena Priscillia.



Rendy Saputra Wijaya


******


"Leo mengundangku makan malam?" tanya Rendy sembari mengingat kejadian yang menurutnya menyenangkan itu. Entah bagaimana dirinya begitu cocok saat berkolaborasi dengan Leo. Rendy tersenyum sinis.


"Bagaimana Tuan Muda? Apa Tuan Muda akan menghadiri undangan tersebut?" tanya Kei penasaran.


"Berikan nomor ponsel Leo. Terima saja undangan itu. Tidak ada salahnya untuk menambah teman dan kolega bisnis. Oh ya ... Carikan gaun untuk Elena. Aku akan mengajaknya makan malam. Aku rasa dia jug ingin jalan-jalan diluar," kata Rendy sembari memasukka nomor ponsel milik Leo.


"Baik Tuan Muda. Saya akan melaksanakannya sesuai dengan perintah anda," sahut Kei. Lelaki itu menundukkan kepalanya. Kemudian mulai beringsut meninggalkan ruang kerja milik Rendy.


"Tunggu Kei!" panggilan Rendy membuat Kei menoleh segera. "Panggil saja desainer gaun terkenal di London ini. Biar Elena memilih gaunnya sendiri. Berikut dengan tas, sepatu dan accesories yang dia inginkan. Pastikan Elena menerimanya dengan senang hati. Jika tidak, maka lebih baik hancurkan toko itu sampai ke dasar." Tatapan mata Rendy seakan membunuh. Begitu pula dengan aura disekitarnya yang penuh dengan penekanan.


"Baik Tuan Muda."


****


Elena mematung diri. Menatap orang-orang yang berlalu lalang di kamarnya. Gadis itu mematung tanpa sepatah katapun. Entah apa yang terjadi, yang jelas saat ini orang-orang sedang memasukkan banyak sekali barang mewah.


"Nona Muda ... Sudah selesai. Jika anda kurang puas, maka anda bisa menghubungi kami. Dengan segera kami akan membawa dan menukar kembali barang yang tidak anda sukai," kata seorang pelayan di sebuah butik terkenal di kota London.


"Hah?" Elena melongo. Ini apa maksudnya? Gadis itu terdiam tanpa sepatah katapun.


"Apa kau menyukainya?" Sebuah suara bariton yang dikenalnya terdengar ditelinganya. Segera Elena menoleh dan didaatinya Rendy beserta Kei dibelakangnya.


"Apa kau menyukai semua barang yang kuberikan untukmu?" tanya Rendy.


"Ja-jadi semua barang itu untukku?" tanya Elena tak percaya.


"Kau tidak menyukainya?" tanya Rendy sekali lagi namun penuh penekanan.


"A-apanya? I-ini buatku? Kau bercanda? Aku kan nggak pernah minta untuk dibelikan! Bawa kembali saja, lebih baik Paman berikan saja aku uang. Bajuku masih bagus kok yang kemarin aku beli itu," ucap Elena.

__ADS_1


"Kau menolak pemberian dariku?!" tanya Rendy. Kini nadanya mulai naik 4 oktaf. Membuat Elena merinding ketakutan.


"Bu-bukan begitu ... Itu semua pasti mahal bukan? A-aku lihat tadi masih ada labelnya. Harganya bikin aku pusing Paman. Bukankah lebih baik beli di pasar? Pasti dapat banyak, terlebih lagi harganya lebih terjangkau bukan Paman?" tutur Elena.


"Kei! Pecat semua karyawan yang membawa semua barang-barang itu kemari. Kemudian butiknya hancurkan hingga kedasar. Jangan biarkan mereka selamat sedikitpun dari apa yang aku perintahkan," kata Rendy sembari menatap Elena tajam.


Hah? Elena terlonjak kaget. Apakah begini caranya orang kaya menghabiskan uang? Ini artinya bukankah aku tidak punya pilihan lain untuk menolak pemberiannya. Astaga, mataku bahkan tidak salah lihat. Bahkan pakaian dalamnya saja kulihat sekilas dari Victoria secret. Ini gila ... Bagaimana dia bisa memberikannya padaku secara cuma-cuma? Batin Elena dengan keras. Gadis itu mematung diri. Seakan bingung harus bagaimana.


"Bagaimana? Kau terima atau kau lebih memilih untuk melihat mereka semua kehilangan pekerjaannya?" tanya Rendy dengan sinisnya. Elena menoleh kearah para pelayan butik itu. Kedua matanya melihat tatapan sayu para pelayan tersebut. Sepertinya dirinya akan menanggung rasa bersalah seumur hidup jika membuat mereka semua dipecat karena sebuah penolakan darinya.


"Baiklah Paman ... Dengan senang hati aku akan menerimanya!" kata Elena dengan sebuah senyum yang dipaksakan.


"Begini lebih baik bukan?" Rendy melanjutkan melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga. Namun saat dirinya berpapasan dengan Elena, lelaki itu justru mengusap pucuk kepala milik Elena. "Seharusnya kau menurut sejak awal." Rendypun melangkahkan kembali kakinya. Meninggalkan Elena dengan sejuta rasa.


Heh ... Ini masih belum apa-apa Elena. Lihat saja besok malam. Kau akan lebih kaget lagi. Yang jelas aku akan membawamu untuk menemaniku menghadiri undangan makan malam itu. Heh ... Benar bukan tifak ada yang bisa lolos dari pesona seorang Rendy Saputra Wijaya.


****


Catatan author : Maaf abang Rendy tetapi Elena kan abang paksa. Bukan keinginannya sendiri 😂😂😂



Elena Priscillia.



Rendy Saputra Wijaya


******


"Leo mengundangku makan malam?" tanya Rendy sembari mengingat kejadian yang menurutnya menyenangkan itu. Entah bagaimana dirinya begitu cocok saat berkolaborasi dengan Leo. Rendy tersenyum sinis.


"Bagaimana Tuan Muda? Apa Tuan Muda akan menghadiri undangan tersebut?" tanya Kei penasaran.


"Berikan nomor ponsel Leo. Terima saja undangan itu. Tidak ada salahnya untuk menambah teman dan kolega bisnis. Oh ya ... Carikan gaun untuk Elena. Aku akan mengajaknya makan malam. Aku rasa dia jug ingin jalan-jalan diluar," kata Rendy sembari memasukka nomor ponsel milik Leo.


"Baik Tuan Muda. Saya akan melaksanakannya sesuai dengan perintah anda," sahut Kei. Lelaki itu menundukkan kepalanya. Kemudian mulai beringsut meninggalkan ruang kerja milik Rendy.


"Tunggu Kei!" panggilan Rendy membuat Kei menoleh segera. "Panggil saja desainer gaun terkenal di London ini. Biar Elena memilih gaunnya sendiri. Berikut dengan tas, sepatu dan accesories yang dia inginkan. Pastikan Elena menerimanya dengan senang hati. Jika tidak, maka lebih baik hancurkan toko itu sampai ke dasar." Tatapan mata Rendy seakan membunuh. Begitu pula dengan aura disekitarnya yang penuh dengan penekanan.

__ADS_1


"Baik Tuan Muda."


****


Elena mematung diri. Menatap orang-orang yang berlalu lalang di kamarnya. Gadis itu mematung tanpa sepatah katapun. Entah apa yang terjadi, yang jelas saat ini orang-orang sedang memasukkan banyak sekali barang mewah.


"Nona Muda ... Sudah selesai. Jika anda kurang puas, maka anda bisa menghubungi kami. Dengan segera kami akan membawa dan menukar kembali barang yang tidak anda sukai," kata seorang pelayan di sebuah butik terkenal di kota London.


"Hah?" Elena melongo. Ini apa maksudnya? Gadis itu terdiam tanpa sepatah katapun.


"Apa kau menyukainya?" Sebuah suara bariton yang dikenalnya terdengar ditelinganya. Segera Elena menoleh dan didaatinya Rendy beserta Kei dibelakangnya.


"Apa kau menyukai semua barang yang kuberikan untukmu?" tanya Rendy.


"Ja-jadi semua barang itu untukku?" tanya Elena tak percaya.


"Kau tidak menyukainya?" tanya Rendy sekali lagi namun penuh penekanan.


"A-apanya? I-ini buatku? Kau bercanda? Aku kan nggak pernah minta untuk dibelikan! Bawa kembali saja, lebih baik Paman berikan saja aku uang. Bajuku masih bagus kok yang kemarin aku beli itu," ucap Elena.


"Kau menolak pemberian dariku?!" tanya Rendy. Kini nadanya mulai naik 4 oktaf. Membuat Elena merinding ketakutan.


"Bu-bukan begitu ... Itu semua pasti mahal bukan? A-aku lihat tadi masih ada labelnya. Harganya bikin aku pusing Paman. Bukankah lebih baik beli di pasar? Pasti dapat banyak, terlebih lagi harganya lebih terjangkau bukan Paman?" tutur Elena.


"Kei! Pecat semua karyawan yang membawa semua barang-barang itu kemari. Kemudian butiknya hancurkan hingga kedasar. Jangan biarkan mereka selamat sedikitpun dari apa yang aku perintahkan," kata Rendy sembari menatap Elena tajam.


Hah? Elena terlonjak kaget. Apakah begini caranya orang kaya menghabiskan uang? Ini artinya bukankah aku tidak punya pilihan lain untuk menolak pemberiannya. Astaga, mataku bahkan tidak salah lihat. Bahkan pakaian dalamnya saja kulihat sekilas dari Victoria secret. Ini gila ... Bagaimana dia bisa memberikannya padaku secara cuma-cuma? Batin Elena dengan keras. Gadis itu mematung diri. Seakan bingung harus bagaimana.


"Bagaimana? Kau terima atau kau lebih memilih untuk melihat mereka semua kehilangan pekerjaannya?" tanya Rendy dengan sinisnya. Elena menoleh kearah para pelayan butik itu. Kedua matanya melihat tatapan sayu para pelayan tersebut. Sepertinya dirinya akan menanggung rasa bersalah seumur hidup jika membuat mereka semua dipecat karena sebuah penolakan darinya.


"Baiklah Paman ... Dengan senang hati aku akan menerimanya!" kata Elena dengan sebuah senyum yang dipaksakan.


"Begini lebih baik bukan?" Rendy melanjutkan melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga. Namun saat dirinya berpapasan dengan Elena, lelaki itu justru mengusap pucuk kepala milik Elena. "Seharusnya kau menurut sejak awal." Rendypun melangkahkan kembali kakinya. Meninggalkan Elena dengan sejuta rasa.


Heh ... Ini masih belum apa-apa Elena. Lihat saja besok malam. Kau akan lebih kaget lagi. Yang jelas aku akan membawamu untuk menemaniku menghadiri undangan makan malam itu. Heh ... Benar bukan tifak ada yang bisa lolos dari pesona seorang Rendy Saputra Wijaya.


****


Catatan author : Maaf abang Rendy tetapi Elena kan abang paksa. Bukan keinginannya sendiri 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2