Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 447. Sabrina Tak Enak Badan.


__ADS_3

"Hei, kau kenapa?" Lexi bertanya ketika mendapati wajah Sabrina yang tampak memerah.


Tanpa bersuara, Sabrina pun bangkit dari duduk dan berlari mencari toilet terdekat. Merasa aneh, Artur dan Lexi saling berpandangan beberapa saat ebelum akhrinya bangkit berdiri. Keduanya memutuskan untuk menyusul Sabrina. Sebelum pergi, Lexi mengeluarkan satu lembar berwarna merah dan menaruhnya di meja.


"Artur, menurut lu Sabrina sakit apa?" Lexi bertanya saat keduanya telah berada tepat di depan toilet wanita.


"Aku tidak tahu. Tadi saat sarapan baik-baik saja. Bisa jadi dia kelelahan karena memang kemarin banyak begadang." Artur menyahut seraya memejamkan kedua mata. Artur pun menoleh ke arah Lexi. "Dengar, jangan berpikir lagi untuk mengejarnya. Aku sudah memberitahumu yang sesungguhnya," imbuhnya.


Lexi menganggukkan kepala. Lalu ia berkata, "Gua sih kecewa. Sayangnya, gua nggak mau merebutnya. Jadi, gua sangat kecewa lantaran gua ngerasa dia berbeda dari gadis zaman sekarang. Lu paham 'kan maksud gua?"


Artur mengangguk. "Awalnya aku juga syok dengan pernikahan mereka. Lambat laun, aku bisa menerimanya."


"Gua pikir, ayah lu pasti sangat takut kehilangan istri mudanya." Lexi mencebikkan bibir. Seolah merasa kalah start. "Oh, lu tahu Sherly?"

__ADS_1


Artur menoleh. Menatap Lexi dengan dua alis yang bertaut. "Anak yang selalu menempel pada Meisya?"


Lexi mengangguk. "Putri dari Max Ginson. Katanya akan mengadakan pesta sebagai perkenalan. Menurut lu, kita dateng nggak?"


Artur berpikir sejenak. "Aku lihat mamaku saja. Masalahnya sebagai teman baru dia berusaha mengakrabkan diri dengan kita. Niat baik orang."


"Niat baik apa?" Suara Sabrina mengagetkan dua orang yang terlibat pembicaraan yang serius.


"Sebenarnya, kau ini kenapa, Ma? Jika sakit aku bisa mengantarmu pulang." Artur menawarkan diri.


--


"Artur, aku ingin makan yang enak." Sabrina tiba-tiba berbicara setelah lama terdiam.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan dari kelas menuju parkiran Sabrina hanya diam saja. Akhir-akhir ini dia juga tampak lesu. Artur cukup canggung ketika Sabrina memilih bungkam. Tampak sekali jika Sabrina seperti sedang kelelahan. Artur paham. Bisa saja, sang ayah sangat buas di ranjang kan? Artur kini menatap manik biru milik Sabrina. Sebelum akhirnya menghembuskan napas beratnya.


"Mau makan di mana? Asal jangan yang aneh-aneh. Kamu sepertinya sedang tidak enak badan." Artur membuka pintu mobil untuk Sabrina. Setelah Sabrina masuk, Artur berlari kecil dan masuk ke dalam mobil. "Baiklah. Katakan kamu ingin makan di mana?" Artur bertanya lagi.


"Ke perusahaan ayahmu. Entah kenapa aku ingin ke sana." Sabrina menyenderkan kepalanya. Sedangkan Artur memilih melajukan mobilnya membelah jalanan kota.


Sabrina menatap malas ke arah keluar jendela. Selain perasaan yang aneh, entah mengapa ia gampang sekali marah. Termasuk saat ini. Tujuan utama ke perusahaan William hanya ingin melihat keadaan William setelah pertemuannya dengan Anggi. Bukan maksud terlalu mengekang. Akan tetapi perasaan Sabrina sebagai seorang istri tidak boleh dipandang sebelah mata.


Artur melirik Sabrina melalui kaca spion depan. Tadi Artur tidak salah lihat. Kedua mata Sabrina terlihat kuyu dan aura tidak enak menguar dari tubuhnya. Artur yang tidak ambil pusing hanya mampu mengikuti Sabrina tanpa kata.


Setelah samai di perusahaan itu, para karyawan yang mengenal Sabrina dan Artur membungkukkan badannya. Dengan perasaan yang gamang, Sabrina terus melangkahkan kaki menuju ruangan William. Wanita itu tak sabar ingin melihat keadaan William.


Pintu ruangan direktur terbuka. Tampak William duduk di kursinya dengan gagah. Di dalam ruangan itu terlijat Dante, Ardi dan Anggi yang tersenyum sinis.

__ADS_1


"Honey?" William bangkit berdiri. Perasaan tak enak melanda hati pria itu.


"Maaf mengganggu. Aku lapar." Sabrina berucap datar tanpa ekspresi. Entah apa yang sedang dipikirkannya.


__ADS_2