Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 419. Sesuatu yang sulit


__ADS_3

"Hai, Amelia. Kau sepagi ini di sini?" sapa William.


Pria itu segera menjabat tangan adik iparnya. Seperti biasa, Amelia akan menatapnya dengan tajam. Gadis itu masih saja terlihat angkuh. William bisa memakluminya. Karena Amelia adalah gadis yang masih belia.


"Apa aku tidak boleh kemari?" ketus Amelia.


"Tentu boleh. Aku senang kau kemari. Kau mencari Sabrina?" tebak William.


"Ya. Aku dan dia sudah memiliki janji. Anda akan memberikan izin bukan?" selidik Amelia.


"Tentu saja. Dia sudah meminta izin tadi malam. Pulangnya jangan terlalu malam. Anak gadis tidak baik pulang terlalu larut." William menghentikan kalimatnya. Saat ia mendapati sang istri tercinta telah turun ke bawah.

__ADS_1


"Honey, aku akan pulang sore. Kau tidak masalah bukan? Besok kita juga akan ke acara reuni itu. Lalu hari Senin, aku baru akan ke kampus. Hari ini aku ingin melihat Aretha palsu itu. Aku menyayangimu, Honey! Aku pergi dulu. Ayo, Amelia." Sabrina mendaratkan kecupan di pipi William. Lalu ia berjalan mengikuti jejak langkah kaki Amelia yang berjalan lebih dulu.


"Padahal, aku ingin dia beristirahat. Tapi ternyata dia malah pergi. Ya sudahlah. Aku juga akan beristirahat. Lah, iya. Ada meeting hari ini." William menepuk jidatnya. Tatkala mendapati sosok Ryu berjalan memasuki rumah.


"Tuan William. Nona Ara meminta saya untuk mengingatkan meeting penting bersama investor baru kita." Ryu membungkukkan badannya.


"Untung saja kau kemari, Ryu. Aku benar-benar hampir melupakannya. Baiklah. Aku ganti baju dulu," ucap William sembari berlalu. Meninggalkan Ryu berdiri mematung di tempatnya.


Tiga puluh menit kemudian, William telah turun dari lantai dua. Kini ia dan Ryu berjalan menuju mobil. Dengan segera, Ryu menginjak pedal gas dan mengemudikannya menuju ke kantor. Berbeda dengan William. Berbeda lagi dengan keadaan Sabrina. Ia dan Amelia saat ini telah sampai di tempat rahasia setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam lamanya. 


"Dia Azumi. Aku sudah melepaskan topengnya. Sekarang, kau ingin memberikan dia hukuman apa?" tanya Amelia. Sepertinya ia cukup bersemangat kali ini.

__ADS_1


"Bawa dia ke hadapanku. Sepertinya menarik melakukan hal kecil. Ayo!" Sabrina menggerakkan tangannya. 


Membuat dua orang pria berjalan menuju jeruji besi. Dua pria itu membuka jeruji besi itu dan segera menyeret tubuh Azumi keluar dari jeruji besi yang telah menemaninya selama kurun waktu beberapa lama.


"Dudukkan di sana. Dia sudah lumpuh kan? Itu berarti dia tidak akan bisa lolos dari sini. Cepat dudukkan dia di sana!" Sabrina menunjuk tempat yang menurutnya menyenangkan untuk bermain. Dua pria itu pun menganggukkan kepala dan segera meletakkan tubuh tak berdaya milik Azumi.


"Ambilkan aku kursi," titah Sabrina. Setelah mendapatkan kursi, Sabrina kembali berbicara. "Carikan aku batu kecil yang banyak. Di mana ukurannya cukup menyenangkan untuk melempar."


Tanpa menjawab ucapan Sabrina, dua orang pria itu keluar dari ruangan bawah tanah yang terendus bau tidak enak samar-samar. Amelia pun menjatuhkan tubuhnya di kursi tepat di samping Sabrina berada. Dua orang pria itu kembali setelah lama mencari batu. Kemudian mereka berdua menyodorkan satu ember yang berisi banyak sekali batu. Sabrina lalu menyeringai licik. Ia mengambil satu batu dan bersiap untuk melemparkannya kepada Azumi.


"Ini hukuman awal untukmu. Karena ulahmu, temanku mengalami kejadian yang mengerikan. Jadi, jangan salahkan aku ya. Jika dirimu akan terluka. Karena itu justru akan menjadi hal yang menyenangkan bagiku." Sabrina lali tergelak hebat. Tawanya menggelegar memenuhi setiap sudut kamar.

__ADS_1


Sabrina lalu melemparkan satu batu, tepat mengenai kepalanya. Lagi, Sabrina justru semakin merasa menang tatkala bisa menghujani Azumi dengan banyak batu. Hal itu semakin lama menyebabkan darah kian mengoyak jiwa dan raga Azumi.


"Azumi, aku akan membuat hidupmu bagai di neraka! Kau jangan khawatir. Melihat kau bermandikan darah, aku semakin menyukaimu. Karena saat itu, kau bagai barang yang tak berguna!" desis Sabrina.


__ADS_2