
"Tolong maafkan kami tuan".
"Memaafkan kekurangajaran kalian kepada nona muda berharga kami? Jangan anggap enteng kesalahanmu pak Marzuki. Aku juga tak buta. Mataku bisa melihat ada bekas tamparan di wajah nona muda kami yang berharga. Katakan tangan sial mana yang melakukannya !!!"
"Tolong tuan maafkan saya. Saya tak tahu jika dia istri Presdir." Marzuki memelas. Seakan sikap angkuh nan sombongnya lenyap entah kemana. Sekarang yang terpenting baginya adalah menyelamatkan nyawanya.
"Heh pak Marzuki jadi maksudmu jika itu bukan istri Presdir artinya kamu akan membenarkan diri atas sikapmu tadi kepada seorang perempuan? Kau bahkan tak tanggung-tanggung untuk mengeroyoknya !!! Benar-benar kotor kau pak Marzuki !!!"
"Ma...maafkan saya tuan". Kini Marzuki hanya bisa merutuki kesalahannya. Namun hatinya benar-benar jauh dari kata penyesalan. Dia semakin geram. Karna orang yang direndahkannya sekarang memiliki posisi yang penting di keluarga Wijaya .
"Baiklah ini peringatan pertama dan yang terakhir untuk kalian. Jika lain kali kalian melakukan hal yang sama entah itu di manapun aku tak akan segan lagi karna kau sudah diperingatkan !!!"
Marzuki kini tersenyum. Yang terpenting adalah sekretaris kejam ini sudah memaafkan ku. Cihhhh... Memangnya aku akan tinggal diam saja. Aku akan memikirkan berbagai cara untuk menghancurkan Ani. anakku harus merebut tuan muda Ardan. kalau Johan saja bisa berada digenggamannya aku yakin tuan muda Ardan pun bisa saja meninggalkan perempuan sialan itu.
Hehehehe aku akan membuat Ani merasakan apa yang terjadi hari ini padaku. Lihat saja. Ahhhh aku semakin gila karna tuan muda Ardan. Aku harus mendapatkannya. Sama seperti Johan dulu. Ani .... mungkin kita sudah ditakdirkan untuk saling membunuh satu sama lain untuk yang kedua kalinya. Namun lihat saja akan kupastikan bahwa pemenang kali ini adalah aku.
"Heh jangan bodoh kau Marzuki. Aku melepaskanmu bukan berarti aku tidak mengawasimu." Kata sekretaris Herman saat Marzuki hendak bangun dari posisinya yang tadinya dia memohon kepada sekretaris Herman.
Deg .... Sialan kau sekretaris Herman.
"Jangan kau pikir aku bodoh. Aku dan Presdir sudah tau masa lalu kalian bersama nona muda. Jadi jika kalian berani menyentuh nona muda kami. Aku tak akan segan menghancurkan hidup kalian berdua."
__ADS_1
Deg deg deg jadi Presdir menyelidiki kami juga? Marzuki.
Ap ..apa ? Jadi perempuan sialan itu sudah cerita dengan Presdir.
"Saat saya menyelidiki masa lalu nona muda. Saya menemukan kalian juga. Bagaimana cara busuk kalian memisahkan nona muda dari suaminya dulu. Oh ya pak marzuki apa bapak gak heran kenapa saya dan tuan muda Ardan bisa kebetulan berada disini?"
Deg ... Benar juga itu pun juga tak ada di pemikiran Marzuki maupun intan. Bagaimanapun juga seharusnya dia memikirkan hal itu. Namun otaknya kini dipenuhi hanya untuk menyelamatkan diri mereka saja.
"Karna ada banyak pengawal disekitar nona muda. Jadi jangan lagi aku melihat kalian menyakiti nona muda secara langsung. Aku akan membuat kalian terhempas dari perusahaan Wijaya. Dan membuat kalian bahkan tak lagi bisa berdiri tegak. Ini peringatan pertama dan terakhir. Ingatlah nyawa kalian lebih berharga dari apapun kan ? Tuan muda tak akan berbelas kasihan dua kali ingat itu !!!" Ucapan sekretaris Herman yang terakhir ia tekankan jika tidak akan ada lain kali bagi mereka berdua.
Sepeninggalnya sekretaris Herman keduanya tenggelam dalam pikirannya
masing-masing sembari menatap punggung sang sekretaris. Yang kemudian semakin lama semakin menghilang.
Cih aku harus hati-hati memikirkan cara untuk menyingkirkan Ani. Dia gak pantas jadi istri seorang Presdir. Aku akan memikirkan rencana secara matang untuk mendepak perempuan sialan itu dari sisi Ardan. Marzuki.
"Intan ayo kita pergi."
"Iya pa."
Ani tak dapat duduk dengan tenang. Sekarang yang ada di pikirannya jika dia pergi ke kantor suaminya maka dia akan sering bertemu dengan mereka. Apalagi jika mendengar mereka memiliki saham di perusahaan wijaya. Dia meremas bajunya. Rasanya benar\-benar gelisah memikirkan sikap mereka padanya. Padahal jelas\-jelas dia tak berbuat apapun.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Ardan tau saat meninggalkan kedua orang itu istrinya gelisah.
Istrinya diam.
"Sayang apa lagi yang kau pikirkan? Apa kau memikirkan kedua orang itu?"
"I.....i... iya mas. Katanya mereka memiliki saham disini? Emmm katanya sekitar 7 persen." Ucap Ani sambil terbata. Rasanya dia merutuki ucapannya sendiri. Takut suaminya salah mengartikannya.
"Hem... Lalu apa yang kau takutkan? Aku bahkan bisa membeli saham mereka jika kamu mau."
"Ap... apa? Ba...bagaimana mas bisa bilang begitu? Itu saham 7 persen bukankah gak sedikit uangnya? Kenapa mas bisa berkata seperti itu. Aku tak menginginkannya."
Seberapa kayanya sih mas Ardan itu? Kenapa membeli saham seperti membeli gorengan di warung saja.
"Kalau kau menginginkannya kau bisa mendapatkannya. Katakan kau ingin maka mas bakalan berikan."
Katakan kau menginginkannya sayang !! Selama kita menikah kau bahkan tak pernah meminta apapun dariku !!! Kau hanya menerima setiap yang kuberi namun tentunya kau protes terlebih dahulu.
"Enggak mas. Aku gak pengen. Aku cuma mau fokus kuliah saja. Lagian aku sudah cukup bahagia. Menerima cinta dari mas. Bagiku itu sudah cukup."
*Ah.... Kamu benar-benar membuatku semakin mencintaimu*.
__ADS_1
Aku sudah bahagia saat ini lalu apa lagi yang aku inginkan. Memiliki cinta dari mas sudah cukup. Toh keluarga disesaku juga sudah lebih baik. Bapak sudah memiliki area persawahan yang luas. Adikku bisa kuliah dengan nyaman memiliki kendaraannya sendiri. Masihkah aku serakah dengan menginginkan saham yang dimiliki keluarga Intan. Tidak.