
Sabrina meneliti selembar kertas yang diberikan oleh William. Yang ada saat ini, dadanya penuh sesak. Sungguh, ia juga seorang wanita yang ingin dicintai. Apakah benar, ini jalan yang harus ia tempuh? Mengorbankan masa depannya, untuk seorang pria yang bahkan tidak menginginkan kehadirannya? Sabrina menjadi gamang. Gadis itu mendesah gelisah.
"Bagaimana ini? Maju atau mundur ya? Tapi, aku begitu menginginkannya. Argh! Cinta ini, benar-benar gila!" Sabrina mengacak rambut. Seumur hidupnya, ia benar-benae galau akan cinta.
Sabrina menerawang ke langit-langit kamarnya. Memikirkan masa depannya, yang abu-abu. Jika selamanya William tak memberikan kesempatan untuknya, maka Sabrina akan memilih jalan lain.
"Aku akan menghancurkanmu, seperti kau menghancurkanku, Uncle. Lihat saja. Saat ini aku mengalah dululah," gumam Sabrina.
Malam kian larut. Sabrina mulai menenggelamkan dirinya, di bawah selimut yang tebal. Tak berapa lama, Sabrina terbuai sang mimpi. Dingin kian menusuk tulang, Sabrina benar-benar terlelap, hingga datangnya sang fajar menyingsing.
Sabrina membeku di tempatnya. Ia tidak salah lihat kan? Uncle William menjemputku? Sabrina membatin.
"Sabrina, ayo," ajak William. Sabrina mengalah. Gadis itu tak bersuara. Sangat malas, jika mengingat kata-kata Wiliam kemarin.
Gadis itu memilih menjaga jarak dengan William. Setidaknya untuk meredam emosinya, yang masih meluap. William melirik sosok di sampingnya. Sebelumnya, ia menaruh curiga kepada Sabrina. Akan tetapi, mengingat tingkah Sabrina hari ini ia mulai meragukan hal itu. Mobil melesat membelah jalanan yang masih sedikit lengang. Membuat mereka telah sampai di waktu yang tepat. Sabrina segera membuka pintu mobil. Lalu berlari secepatnya, memasuki kelas.
"Apa dia masih marah padaku, Ryu?" tanya William kepada Ryu. Sedangkan Ryu, hanya bisa mengerutkan dahi tanpa menjawab pertanyaan dari William.
__ADS_1
Ryu segera menancap pedal gas mobilnya. Mengemudikan menuju perusahaan William, yang sudah membaik. Semua berkat bantuan dari Rendy. Meski mereka berdua sahabat, akan tetapi permintaan Rendy cukup gila. Dalam hati, William bertanya-tanya. mengapa Rendy justru menjodohkannya dengan Sabrina? Mengapa bukan Artur saja? Pikirannya berkecamuk. Tanpa sadar, mobil telah memasuki halaman parkir kantor miliknya.
Di sekolah, Sabrina termenung. Pikirannya masih diliputi renjana. Ah, lagi-lagi buntu. Ia juga tidak mungkin, membatalkan perjanjiannya dengan sang papa. Bisa-bisa ia ditelan hidup-hidup, karena telah mengingkari janji. Tak lama kemudian, datanglah Artur. Bocah remaja itu, langsung mendudukkan bokongnya di samping Sabrina yang mematung. Kedua alis Artur menukik tajam.
"Hei," sapa Artur. Dengan malas Sabrina menoleh sekilas. Lalu tatapannya kembali pada meja kayu miliknya. "Kau sedang banyak pikiran?" tebak Artur. Kembali Sabrina menoleh. Malas.
"Pergilah. Kau membuatku sebal." Sabrina mengatakannya tanpa basa-basi.
Interaksi keduanya, memicu banyak mata memandang mereka. Pasalnya, satu sekolah juga paham. Jika mereka berdua, adalah musuh bebuyutan. Lantas sekarang? Mereka berdua bahkan duduk dalam bangku yang sama! Sungguh, pemandangan yang luar biasa.
Artur mencondongkan tubuhnya kearah Sabrina. "Kau memikirkan tentang pernikahanmu dengan ayahku?" bisik Artur. Bisikan itu, berhasil membuat Sabrina tertarik.
"Terima saja." Artur mengatakannya dengan tegas.
"Apa maksudmu?" Sabrina menatap tajam Artur. Sebenarnya cukup malas, untuk membahas ini. Tetapi lagi-lagi, ia harus mengalah.
"Kau terima saja, tawaran papamu untuk menikah dengan papaku. Tapi, yah dengan surat perjanjian. Kau kan masih muda. Apa kau ingin terjebak dalam kegilaan papamu?" Artur berbicara serius. Meskipun ia memakai suara berbisik, Sabrina masih bisa mendengarnya.
__ADS_1
Artur sialan! Itu semua, ideku! Argh. Kau membuatku semakin pusing. Aku benar-benar mencintai ayahmu. Bagaimana bisa, kau berfikir aku juga korban? Sabrina mendengus dalam hati.
"Sebenarnya, aku juga tak ingin menerimamu sebagai pengganti ibundaku," celetuk Artur tiba-tiba.
Bangsat! Dasar, Artur sialan! Astaga. Jika suatu hari kalian berdua membuatku kesal, lihat saja bagaimana aku membereskan kalian berdua! Mungkin aku juga akan melemparkan granat panci, untukmu dan ayahmu sialan! Sabrina membatin kesal.
"Kau tidak membantu sama sekali. Pergilah, jangan membuatku tambah kesal." Sabrina mengusir Artur. Kekesalannya semakin menggunung.
Kau pikir aku juga mau, memintamu menikah dengan ayah? Aku hanya ingin menyelamatkan, perusahaan yang dibangun oleh ayah dan bundaku. Itu adalah pembuktian cinta mereka. Sabrina, aku membencimu. Memang, kau begitu mempesona. Sayangnya, kau telah mengusik posisi ibundaku. Setelah satu tahun pernikahanmu dengan ayah nanti, aku akan membuat ayah membuangmu. Artur mengepalkan kedua tangannya.
"Artur, pergilah. Jangan membuatku tambah kesal," rengek Sabrina. Terlihat sekali, wajahnya sedang kesal.
"Baiklah. Sampai jumpa!" Artur melesat pergi. Meninggalkan Sabrina dalam kekesalan yang menggunung.
Bel pulang sekolah, telah berbunyi. Sabrina berjalan malas, keluar dari kelas. Sesekali gadis itu menghela napas. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, saat baru saja keluar dari pintu gerbang sekolah. Pasalnya, William sudah menjemputnya.
"Sabrina, masuklah." William membuka satu pintu mobilnya. Membuat Sabrina mau tak mau masuk ke dalam mobil. Ia juga meraskan banyak sekali tatapan tajam yang mengintainya.
__ADS_1
Aku bisa mati berdiri jika begini. Sungut Sabrina dalam hati.