
"Hanya kaget, saat kami mendengar jika Sabrina akan menikah." Steward membuka suara. Melirik tajam, kearah Sabrina.
"Keputusan sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat. Jika kau ingin membantah, ya sudah. Jadilah penerus kami," kata Rendy.
Hening. Steward maupun Amelia, sangat malas untuk menjadi penerus kedua orangtuanya. Sabrina sendiri, memilih untuk makan. Tidak ingin mengambil pusing.
"Terserah." Steward menyerah.
William si bajingan itu, akan aku hancurkan sekali lagi. Jika aku tahu, dia menyakiti adikku. Steward membatin.
Acara makan malam, berubah menjadi mencekam. Setelah selesai, mereka semua memilih masuk ke dalam kamar masing-masing. Sabrina sendiri, memilih untuk membungkam. Malas jika harus berhadapan dengan dua saudaranya yang lain. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, berukuran king size.
"Uncle William." Sabrina menggumamkan nama William.
Aku berusia 18 tahun. Menikah dengannya, juga tidak masalah. Toh, aku sudah memiliki KTP. Kenapa aku harus bingung? Dia bagaikan cahaya, yang menelusup masuk menerangi jalan kegelapanku. Apa aku salah mencintainya? Bukankah itu hak semua orang? Sabrina membatin nelangsa.
Ia bangkit. Berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Setelahnya ia memakai dress tidur, dan mulai merangkak naik ke atas ranjang. Tak berapa lama, sang dewi mimpi mulai membelai Sabrina. Membawanya terlelap dalam kedamaian.
__ADS_1
Hari yang dinantikan pun tiba. Sabrina dan William telah resmi, menjadi sepasang suami istri. Pengantin baru itu, menjalani dengan wajah yang datar. Begitu pula dengan serangkaian acara, yang sederhana.
Tepat pukul 22:00 WIB, Sabrina dan William telah sampai di depan kamar hotel yang telah dipesan oleh Rendy. Dua orang itu berdiri dalam kecanggungan. Sejurus kemudian, William mulai mampu menyesuaikan keadaan. Pria itu segera membuka pintu kamar hotel. Keduanya masuk ke dalam kamar. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Setelah lama mematung diri, William membuka suara.
"Mandilah. Lalu nanti, kau tidurlah diatas kasur. Aku akan tidur, di sofa sana," ucap William seraya menunjuk sebuah sofa panjang.
Sabrina memutar kedua bola matanya. Sembari berjalan ke kamar mandi, gadis itu masih saja menggerutu dalam hati. Senyum tersungging di bibirnya, tatkala mengingat langkah pertama berhasil. Membawa William ke dalam dekapannya.
"Tidak apa-apa, Sabrina. Semua butuh waktu. Setidaknya, hanya kamu yang memiliki William."
Setelah membersihkan diri dan mematut di depan cermin, Sabrina keluar dengan kaos oblong berwarna hitam. Dipadu dengan celana hotpans berwarna hitam. Saat ia keluar, terlihat William acuh dan hanya memfokuskan pandangannya ke ponsel. Sabrina memilih mengabaikannya. Lalu segera menyembunyikan diri di balik selimut yang tebal.
"Kenapa pakai itu?" tanya William.
"Suka saja." Sabrina terdengar malas, meladeni William.
Gadis itu memilih berjalan keluar kamar. Meninggalkan William dalam kebingungan. Semenjak menikah, sikap Sabrina berubah.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" William menggumam.
Pria itu kemudian berjalan meninggalkan kamar hotel. Saat berada di loby hotel, Sabrina terlihat menunggu di sebuah sofa. William menghentikan langkahnya. Memindai Sabrina dari kejauhan. Gadis itu nampak berbeda.
Jika dibandingkan biasanya, Sabrina kali ini terlihat dewasa, anggun dan elegan. Seperkian detik, William terpesona. Hingga tiba-tiba ada yang menubruknya dari belakang.embuat William tersadar seketika. Pria itu lalu berjalan menuju Sabrina berada.
"Ayo kita pulang," ajaknya.
Tanpa menjawab, Sabrina bangkit. Memilih mengekor di belakang William. Setelah sampai di parkiran, keduanya langsung memasuki mobil. Dengan cepat William menginjak pedal gas. Hening melenggang. Hingga tiba saat dimana, Sabrina mengerutkan dahi.
"Maaf, ini bukan jalan ke rumahku atau rumahmu." Sabrina menginterupsi.
Sekilas, William menoleh sebentar. "Benar. Karena kita akan tinggal di rumah baru," ungkap William.
Sabrina terlihat syok. "Jadi, maksudmu aku harus pindah ke rumah itu hari ini juga?" Wajah Sabrina pias.
__ADS_1
"Benar."