
"Hei, kau marah hm?" tanya William.
Pria itu mengeringkan rambut Sabrina yang basah. Percintaan dilakukan dengan cepat. Mengingat ada teman-teman Sabrina yang ada di bawah. Gadis itu terus mengerucutkan bibirnya. Menyadari William sedang memanfaatkan situasi.
"Ayolah. Kenapa marah? Dosa lo cuekin suami." Lagi, William membujuk Sabrina.
Kata-kata William tentang dosa, seketika membuat Sabrina membalikkan badan. Gadis itu menatap wajah William dengan seksama.
"Huh! Bukannya tadi malam sudah?" gerutu Sabrina.
"Iya, sudah. Tapi kalau difikir-fikir, aku ini sudah berpuasa lama. Selama Artur ada, aku tidak mendapatkannya. Delapan belas tahun lo." William tetap membela diri.
Tiba-tiba rasa iba menelusup masuk ke dalam rongga hati Sabrina. Gadis itu menghembuskan napas berat. Memang apa yang dikatakan William ada benarnya. Jika pria itu mau, pasti William sudah membooking wanita malam untuk memenuhi hasratnya. Atau mencari wanita untuk dijadikan simpanan dan menghangatkan ranjangnya. Tapi, nyatanya William tak melakukan keduanya.
"Tapi, Uncle. Aku ini baru buka segel. Jangan dipakai terus-menerus. Nanti teman-temanku curiga dan berfikir aneh-aneh. Ini sepertinya sudah lama aku pergi. Aku harus kembali ke bawah. Jangan membuat ulah lagi!" Sabrina menekankan kata-katanya. Bahkan jari telunjuk Sabrina menunjuk wajah William.
"Aku berjanji akan menjadi suami yang penurut. Asal istriku ini menjaga jarak dengan pria manapun," cetus William.
__ADS_1
Sabrina menghembuskan napas. "Uncle sangat paham bagaimana hatiku. Tanpa aku menjelaskan, aku rasa Uncle sudah tahu jawabannya. Aku pergi. Ingat pesanku."
Sabrina bangkit dari duduknya. Lalu berjalan mendekati pintu dan menghilang di baliknya. William menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan.
"Aku ingin menikmati kebersamaan kita, Sabrina. Aku takut akan menyesal untuk kedua kalinya ditinggalkan oleh kekasih hati. Aku tak akan menyia-nyiakan kebersamaan kita." William mengusap wajahnya dengan kasar.
Sementara di bawah, Sabrina mematung di ujung tangga. Gadis itu sedang mencari alasan yang tepat karena terlalu lama pergi. Kemudian Sabrina dengan mantap berjalan menuju dapur.
"Sabrina, kau kemana saja?" keluh Dixton.
"Oh, ada telfon dari mamaku. Maklum hari minggu. Kenapa?" Sabrina menarik kursi. Lalu menjatuhkan bokongnya.
"Xander Grup?" Sabrina segera menoleh ke arah Artur.
Yang ditatap justru mengendikkan bahu. "Tadi aku sudah menolak. Tapi, mereka bersikeras."
"Papa Mamaku tidak mengizinkan untuk mewawancarai perusahaan mereka," sahut Dixton dengan sendu.
__ADS_1
Sabrina menghela napas. "Baiklah. Kapan rencananya?"
"Besok," tukas Dixton dan Justin bersamaan.
"Em, apa kita besok juga akan mengajak Aretha?" tanya Sabrina ragu-ragu.
"Apa dia sudah baik-baik saja?" balas Artur. Imbuhnya, "Bisa saja ia sedang trauma."
"Aku ingin menghiburnya. Artur, kau mau mengantarku kan?" Sabrina merajuk.
Mendengar nada suara Sabrina yang mendayu, Artur memutar bola mata kesal. Bahkan Artur menggelengkan kepala berulang kali. Terakhir ia memijit kepala.
"Astaga! Apa begini rasanya punya mamak seusia dengan kita? Bisa-bisanya aku jadi supir dia sekarang? Anehnya, kenapa aku mesti nurut coba?" batin Artur dengan kesal.
"Kenapa, Artur? Kau tidak mau mengantarku bertemu dengan Aretha? Begitu? Kalau begitu, aku akan mengatakan kepada ayahmu. Kalau kau tidak mau mengantarku!" ancam Sabrina.
"Bukan begitu. Apa Aretha sudah bisa diajak berbicara? Dia baru saja kehilangan dua orang yang dia cintai. Oh, aku akan mengusahakannya," ucapan Artur berbanding terbalik. Saat ia mendapatkan sepuluh lembar seratus ribuan dari Sabrina.
__ADS_1
Sabrina mencebikkan bibirnya. "Dasar anak tiri k*mpret!" dengus Sabrina dalam hati.