
"Ani apa kamu gila? Kenapa bisa kamu punya teman kasar kayak gini?" ucap Johan.
"Anda yang kasar tuan. Sudah saya bilang anda jangan mendekati nona muda. Dia sudah menikah, dan anda lebih baik menjauh darinya !!"
"Hei !!! Kamu itu cuma pelayannya bisa kamu kunci gak tu mulut? Nyerocos melulu. Heran ya kenapa juga kamu ikut campur urusan kami?!" ucap Johan dengan kesal. Melemparkan pandangan tak suka terhadap Agnes. Bisa-bisanya mantan istrinya itu selalu memiliki teman yang kasar.
"Johan cukup !! Antara aku dan kamu udah gak ada apapun lagi. Gak ada hubungan atau apalah itu. Jadi bisakah kamu jangan menggangguku?" Ani yang dari tadi menutup mulutnya rapat kini melemparkan kata-katanya dengan kesal. Terlihat dari ekspresi wajahnya.
"Gak ada hubungan apapun? Hahahaa......" suara tawa yang mencekam dari Johan membuat Ani dan Agnes bergidik ngeri. "Ani apa kamu lupa aku adalah ayah dari Rendy?"
Mata Agnes terbelalak kaget. Apa maksudnya ini?
Ani memejamkan kedua matanya. Akhirnya apa yang dia takutkanpun terjadi juga. Jika suatu saat mantan suaminya mencoba mengusik dan mengklaim sebagai ayah dari Rendy. Pasti bocah laki-laki usia tiga tahun itu akan bingung. Dan itu akan mempengaruhi perkembangannya.
"Ya kamu benar. Kamu memang ayah dari Rendy. Tapi Johan sepertinya kamu lupa. Bukankah kamu hampir membunuh nyawa ibu kandungnya? Satu-satunya yang bersimpati dengannya. Satu-satunya yang merelakan seluruh dunianya hancur hanya untuk menyelamatkannya?" wajah Ani memerah padam. Menahan tangis dan juga amarah yang membludak didadanya.
__ADS_1
Agnes terdiam mencoba mengikuti alur yang ada didepannya. Sekarang dia mulai menangkap. Bahwa nona mudanya dulu pernah menikah. Dengan laki-laki yang saat ini ada dihadapan mereka. Terlebih dilihat dari amarah nona mudanya. Namun yang menjadi pertanyaan baginya hampir membunuh nona mudanya?! Dan kini dia mulai berfikir laki-laki dihadapannya ini benar-benar seorang psikopat. Kemungkinan besarnya adalah, jika laki-laki itu sudah dikuasai emosinya maka tak akan dapat diredam dengan mudah. Begitu pikirnya.
"Kamu mendendam padaku soal itu? Bukankah semua karena Intan yang menjebakku? Kenapa kamu tak percaya padaku?"
"Johan !!! Cukup !! Semuanya sudah berlalu. Ada denganmu? Bukankah kamu dan Intan sudah bertunangan? Tolong, lebih baik kita kembali dalam kehidupan kita masing-masing,"
"Tidak !!! Aku tau aku salah. Tapi kumohon maafkan aku," Johan menundukkan kepalanya.
"Baiklah.....hanya maaf bukan? Oke aku maafin kamu. Jadi tolong jangan ganggu aku dan Rendy. Kami sudah memiliki kehidupan kami sendiri, ingatlah dan renungkan apa yang pernah kamu lakukan padaku. Jangan pernah mengungkit apapun diantara kita," Ani segera membuka pintu mobilnya diikuti oleh Agnes yang mulai beranjak mengikuti dirinya membuka pintu depan mobilnya. Namun saat Ani hendak memasuki mobil tangannya tiba-tiba ditarik paksa oleh Johan. Dan seketika Ani pun jatuh kedalam pelukan Johan karena tidak siap akan pertahanan diri.
"Johan lepas!!!" Ani berontak namun percuma, Agnes yang melihat itu pun segera menarik rambut Johan sehingga laki-laki itu terjerembab kebelakang. Ani pun oleng dan segera Agnes menangkap tubuh mungil majikannya. Setelahnya menggiring Ani masuk kedalam mobil.
"Tak kusangka anda benar-benar ceroboh tuan Johan," Agnes memandangnya sinis. Kemudian dia bersiul. "Terpaksa aku memberikan peringatan kedua. Jadikan ini pelajaran untuk anda intropeksi diri," Beberapa saat kemudian muncul beberapa pria bertubuh tegap dan berpakaian serba hitam. "Berikan peringatan untuknya, ingat hanya salam kecil. Oh iya tuan mungkin jika anda bertemu dengan sahabat kami yang satunya dia mungkin akan turun tangan sendiri. Tapi maaf tidak denganku, karena aku lebih suka tidak mengotori tanganku," Agnes segera memasuki mobilnya sekelebat bayangan mereka memulai aksi mereka memberikan salam peringatan. Namun tetap saja memberikan rasa sakit untuk Johan. Ani melihat itu. Dia tau siapa para laki-laki itu. Ya itu adalah bodyguard yang dimaksud.
💞💞💞
__ADS_1
"Kamu yakin?"
"Yakin kak, kan ada kak Agnes ada kak Monica juga. Lagian aku bakalan sekelas nanti sama kakak ipar. Aku bisa dirumah terus," Rianna mengerucutkan bibirnya. Saat ini dia berada di kantor Ardan. Entah datang dari mana perasaan menggelitik untuk ikut memasuki bangku kuliah bersama dengan Ani.
"Baiklah.....Pak Herman !!! Tolong urus. Sudah makan?" tanya Ardan masih duduk dikursi kebesarannya.
"Belum," ucap Rianna sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku pengen makan sesuatu... Kamu mau ikut?"
"Tentu saja !!" ucap gadis cantik itu dengan senyum yang terkembang dibibirnya. Dengan antusias dia menunjukkan ekspresi senangnya.
Ardan menyambar jas yang dia taruh diujung kursi kebesarannya. Segera saja menggandeng tangan Rianna. Pak Herman menyusul dibelakang keduanya. Saat keluar dari ruangannya Ardan dan Rianna menjadi sorotan para karyawan disana. Mereka mulai bisik-bisik perihal keduanya yang bergandengan tangan. Pak Herman menghela nafas pelan. Dia tau hubungan keduanya seperti apa. Rianna yang menjadikan Ardan sosok kakak untuknya bersandar. Begitu pula dengan Ardan yang begitu simpatik atas apa yang mendera gadis mungil itu. Namun tentu saja berbanding terbalik jika mereka dihadapkan dengan masyarakat luar. Pemikiran yang negatif tentu saja akan menyerang keduanya.
Saat mereka sudah sampai ditempat yang dimaksud pak Herman dan Rianna pun sama-sama melemparkan pandangan herannya. Bahkan keduanya sama-sama melongo.
__ADS_1
"Hei kenapa kalian diam? Katanya kamu lapar Ri? Ini kita sudah sampai malah kamu melamun gitu?" ucap Ardan kesal. Pasalnya kedua orang yang datang bersamanya untuk makan. Malah berdiri tegak didepan restoran. Oh tidak. Sebenarnya mereka kini sedang didepan sebuah tempat dengan papan nama "Warung Pecel lele". Dimana Ardan yang dulu bahkan gak bakalan menyentuh apapun yang berkaitan dengan "lele". Keduanya syok tak bergeming dari tempatnya. Seakan semangat dan antusiasme keduanya lenyap diterpa angin.