Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Season 2. Bersiap.


__ADS_3

Setelah mendapat pesan tersebut Elena segera memutar otak agar bisa terlepas dari Rendy. Akhir-akhir ini lelaki itu terlalu posesiv akan dirinya. Lalu apa alasan yang tepat untuk membuat Rendy mengikatnya? Bahkan sekarang dirinya harus tidur di kamar yang sama dengan Rendy.


Huh. Menghela nafas berat, pikirannya tetap melayang kearah pesan tersebut. The Queen telah mendapat misi selanjutnya. Disana bahkan juga diperkirakan Stevan akan ikut hadir disana. Tunggu, bukankah jika ada pameran berlian yang ditujukan oleh konglomerat ini biasanya pasti akan mengundang para keluarga konglomerat yang ada di dunia? Jika begitu maka Rendy akan ikut serta dalam pameran berlian tersebut. Semoga saja. Batin Elena dalam hati.


Gadis itu mulai menuruni tangga. Terlihat di bawah Rendy dan Kei telah bersiap. Elena menajamkan pandangannya. Mencoba mendekat untuk menyembunyikan kegelisahannya, gadis itu memaksakan senyum bertengger di bibirnya.


"Paman ada apa ini?" tanya Elena penasaran. Gadis itu menangkap pemandangan yang membuatnya menautkan kedua alisnya. Sebuah koper?

__ADS_1


"Elena berjanjilah padaku satu hal. Jangan pernah melanggar apa yang aku perintahkan untukmu. Selama beberapa hari, aku akan keluar kota untuk menyelesaikan bisnisku. Saat kamu di rumah, aku harap kau hanya pergi ke luar hanya untuk ke kampus. Jangan pulang terlalu malam atau setelah aku kembali dari perjalanan bisnis ku aku akan menggantung mu di alun-alun kota. Terlebih jika aku mendengar kabar kau pergi bersama seorang lelaki lain di saat aku tidak ada. Ingatlah bahwa kau adalah wanita ku," ucap Rendy sembari menajamkan tatapannya pada Elena.


Sepertinya langit masih berpihak padaku. Nyatanya saat ini paman Rendy malah justru dijauhkan dari London. Aku bisa siap-siap untuk melaksanakan misi dari mami. Setelah ini aku harus menghubungi Lady. Kami berdua akan bergerak secepat mungkin. Kata Elena dalam hati


"Elena ... Apa kau tidak mendengarkan aku?" tanya Rendy dengan kesal. Lelaki itu bahkan meninggikan suaranya.


"Tentu saja aku mendengarnya Paman. Lalu kapan Paman akan pulang?" tanya Elena. Pertanyaan dari Elena justru membuat Rendy tertawa terbahak-bahak. Mwmbuat Elena mengerucutkan bibirnya karena kesal. Kenapa ditertawakan? Memangnya ada yang lucu dari pertanyaanku? batin Elena kesal.

__ADS_1


Dasar orang kaya bisanya cuma memarahi, membentak, bertindak sesuka hati. Memangnya siapa yang mau cari laki-laki baru? Bahkan di otakku ini isinya hanya bagaimana membunuh Steven saja. Bagaimana bisa aku memikirkan sebuah kencan? Sudah jelas perjanjian kita dari awal aku hanya perlu mengikutimu tanpa perlu tahu siapa dirimu. Gumam Elena dalam hati.


"Paman ... Kau belum berangkat saja sudah membuatku hampir mati karena ketakutan. Masa iya aku masih memiliki keberanian untuk menentangmu. Kau benar-benar ya. Mana ada aku kencan bersama laki-laki lain. Padahal aku tidak pernah kemana-mana," jelas Elena dengan mencebikkan bibirnya.


"Baiklah .. Oke kita berangkat." Rendy segera bangkit dari posisinya. Lelaki itu pun mendekati Elena dan kemudian memberikan satu kecupan bibir sebagai tanda perpisahan keduanya. Entah Sejak kapan keduanya menjadi begitu dekat.


"Jaga dirimu dengan baik. Mungkin aku akan pergi selama satu minggu. Tunggu aku. Aku akan menepati janjiku." Setelah mengatakan hal itu, Rendy segera mengikuti jejak kaki Kei yang sudah mulai memasuki mobil. Meninggalkan Elena yang tengah mematung sembari menyentuh bibirnya. Ciuman kali ini terasa sangat lembut. Berbeda dari ciuman mereka tadi malam yang terasa begitu panas.

__ADS_1


"Kalau begitu waktunya The Queen beraksi," desis Elena.


*****


__ADS_2