
"Ayolah mas,"
"Sayang, aku nggak bisa masak."
"Tapi aku pengen mas Ardan yang masakin. Aku pengen."
"Nanti kamu malah keracunan sayang. Dari kecil aku nggak pernah mencolek peralatan dapur," masih kekeh untuk mempertahankan harga dirinya.
Masa iya aku harus masak? Duh, tumben banget sih istriku manja begini.
"Mas," mata Ani mulai berkaca-kaca. Seakan ingin menumpahkan emosi kekecewaannya dengan linangan air mata. Dan itulah yang menjadi kelemahan suaminya.
"Sayangku, biar Jesslyn dan Lita saja ya yang masak. Mereka mumpung nggak ada kerjaan tuh," tahan Ardan menunjuk kearah segerombolan orang yang sedang menonton tv. Mereka adalah anggota dari geng mafia miliknya. Siapa lagi jika bukan Kaisar, Jack, Jesslyn, dan Lita. Namun dikarenakan Ardan sedang tak ingin menjelajahi dunia gelapnya lagi, keempat kaki tangannya yang terkenal itu kini menjadi pengangguran. Ardan sudah menolak untuk diikuti. Maka dari itulah kini dirinya lebih fokus mencurahkan segala waktu dan kasih sayangnya untuk keluarganya. Sedangkan keempatnya saat ini malah menumpang dengan sesuka hati mereka dirumah milik Ardan Wijaya. Sepertinya predikat pengagguran akan melekat jauh lebih lama untuk keempat kaki tangan Ardan tersebut. Karena bakat dan kemampuan yang mereka miliki lain dari yang lain.
Karena mendengar kegaduhan keempatnya menoleh kearah Ardan dan istrinya. Mereka memang belum mengenal dekat istri tuan mereka. Jujur saja, keempatnya kagum begitu melihat sosok istri dari Ardan Wijaya. Mariani, sosok wanita yang berparas ayu bertubuh mungil dengan rambut hitam yang indah sepanjang pinggangnya. Jika dilihat keduanya terpaut usia yang cukup jauh. Terlebih postur tubuh Ani yang mungil. Mungkin semua orang tak akan menyangka jika Mariani sudah memiliki seorang anak lagi.
"Nggak mau! Aku maunya kamu mas yang masak. Hiks hiks kamu nggak mau ya masakin aku? Aku pengen makan masakanmu," Mariani kini menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sayang," sebisa mungkin memanggil dengan lembut walaupun kini rasa kesal mulai menjalari hatinya.
"Mas Ardan cuma nasi goreng aja kok. Itu kan mudah mas. Ayo dong nasi goreng kasih udang sama telur asin," mendongakkan kepalanya untuk melihat seperti apa ekspresi wajah suaminya.
"Tapi sayang aku nggak pernah masak. Takutnya nanti aku malah salah kasih bumbu. Kasihan anak kita nanti," mengusap lembut perut yang mulai membuncit milik istrinya.
"Mas Ardan itu yang nggak kasian sama anaknya sendiri! Padahal aku pengen makan nasi goreng itu kan kepengennya anak kita mas," kembali memasang wajah memelas.
Ya ampun. Seumur-umur istriku nggak pernah manja begini. Kenapa imut begini sih istri kecilku ini. Aku juga pengen nurutin semua keinginan dia sih. Tapi kalau aku sendiri yang masak malah takutnya rasanya aneh.
"Mas Ardan," ucap Ani dengan lirih. Wanita itu masih setia menundukkan kepalanya. Membuat dada Ardan semakin sesak saja.
Usia kandungan Ani sudah memasuki 5 bulan. Perutnya mulai terlihat membuncit. Itulah kenapa dia sangat menyukai daster. Selain nyaman dipakai, kain daster itu sendiri pun terbuat dari bahan yang adem. Walaupun harganya murah sekalipun, Ani tak perduli. Baginya kenyamanan adalah yang utama.
"Iya mas Ardan annti bakalan aku habisin. Jangan lupa kasih udang ya, terus kasih juga telur asin kemarin bi Inah udah beli kok," sebuah senyuman kini terukir jelas dibibir ranum istrinya.
Sangat sederhana untuk bisa membuat istriku tersenyum. Memang kamu wanita yang luar biasa sayang.
__ADS_1
"Istirahatlah dikamar nanti kalau sudah siap aku panggil."
"Nggak mas. Aku pengen nemenin mas Ardan di dapur. Pengen lihat prosesnya."
"Boleh. Tapi kalau sudah capek mending masuk kamar ya sayang."
"Oke mas Ardan," kini keduanya berjalan menuju dapur. Delapan pasang mata itupun masih memperhatikan gerak-gerik kedua pasangan suami istri itu.
"Kenapa makin lama disini makin ngenes aja ya? Kalian ngerasa nggak?" tanya Jack.
"Ngerasa apa?" Lita masih fokus menatap punggung milik tuan dan nona mudanya hingga banyangan keduanya lenyap dibalik tembok.
"Ngenes!" sarkas Jesslyn.
"Apa hubungannya?" Lita dengan polosnya masih mencoba untuk mengerti.
"Ya ampun Jack! Sono ajarin tuh yayang mbebmu. Masa gitu aja gak ngerti?" Jesslyn memutar bola matanya.
__ADS_1
Nggak sadar apa ya kalau kita berempat ini tuh jomblo? Ya ampun apalagi malam ini malam Minggu. Tapi aku malah mupeng dirumah majikan sambil nonton tv ditemenin mereka yang juga jomblo dari lahir. Dan yang lebih ngenes lagi aku harus nonton sinetron azab kesukaan si Jack! Jesslyn, Jesslyn kenapa hidupmu begini banget sih? Ngenes banget jadi cewek jomblo dari lahir. Apalagi dirumah ini penuh aura kebucinan tingkat tinggi dari tuan muda yang kukagumi. Mati aja deh lu Jesslyn! Udah pengangguran jomblo lagi.