
Ani merekahkan senyum bahagianya. Sedangkan Ardan meliriknya bahagia. Terlihat juga warga desa yang mengetahui kedatangannya kemudian berbisik-bisik. Namun Ani mengacuhkan mereka dia tetap tersenyum lebar karna bahagia.
Namun tiba-tiba senyumnya lenyap. Mengingat sesuatu yang penting namun dia malah melupakannya.
"Kenapa?" Ardan menyadari raut wajah istrinya berubah.
"Mas... Nanti mas nginepnya dihotel aja ya?"
"Kenapa? Kau malu jadi istriku?!!!" Ardan menaikkan suaranya dia kesal dengan kata-kata istrinya.
"Bu.. bukan begitu mas. Ru...rumahku. rumahku jelek kita ke pusat kota saja ya. Cari hotel biar Ardan nyaman tidurnya."
Ardan tak menjawab kata-kata istrinya. Dia tetap tenang seperti sedia kala. Ani memajukan bibirnya. Kenapa tidak jawab sih? Aku seperti ngomong sama hantu tau !!!!
Sesampai didepan rumahnya.....
Deg deg deg..... Detak jantungnya berdetak lebih kencang. Bagaimana bisa? Dia melirik rumah disamping rumahnya. Rumah Leli sahabatnya. Kemudian melangkahkan kakinya ke samping sebelah kanan rumahnya. Benar rumah Bagas. Tapi kenapa? Bagaimana bisa? Karna rumah didepannya kini tak lagi terbuat dari bilik bambu. Bangunannya terdiri dua lantai namun lantai atas belum sepenuhnya jadi. Terlihat pintu gerbang dan kemudian dihalaman rumah itu ada dua buah sepeda motor matic. Belum lagi tampilan rumah itu rumah minimalis. Sudah ada barang-barang mewah menurut Ani. Ada kursi kayu yang mungkin terbuat dari kayu jati. Bangunannya kokoh. Sudah dicat sedemikian rupa. Seperti impiannya. Rumah itu benar-benar seperti keinginannya. Masih lama dia termangu. Ardan membuka pintu gerbangnya. Setelah terbuka benar-benar keluarganya ada disana. Dia terlonjak kaget.
"Ayah? Ibu?" Dia masih keheranan dengan apa yang terjadi. Namun panggilan dari anaknya membuyarkan semua pikirannya. Menggapai-gapai dirinya minta digendong. Kemudian diraihnya anaknya.
__ADS_1
"Bunda," Suara kecil nan menggemaskan itu membuatnya terenyuh. Seharusnya dia bisa bersama anaknya. Namun anaknya malah dia tinggal bersama keluarganya.
"Ayo masuk."
Ardan mengangguk. Ani melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Benar benar sudah berubah semuanya. Kini dia benar benar yakin siapa dalang dibalik ini semua. Diliriknya suaminya. Benar, tersangkanya diam tak menunjukkan respon kagetnya.
Saat malam....
Setelah menidurkan anaknya Ani kembali melihat suaminya. Ditatapnya lekat wajah suaminya yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Mas terima kasih."
"Buat rumah ini. Terima kasih ini sudah kelewat dari apa yang aku bayangkan."
"Buang rasa terima kasihmu itu. Aku suamimu sudah selayaknya aku memberikanmu kebahagiaan."
Ani luluh tak terasa hatinya bergetar. Ada rasa bahagia yang menyejukkan hatinya. Tak hanya itu. Adiknya kini tak perlu repot-repot naik angkutan umum untuk pulang dan pergi saat bepergian. Dia benar-benar bahagia. Berbeda sekali dengan perlakuan Johan.
"Rendy sudah tidur?" Tanya Ardan diliriknya bocah kecil yang kini berada dipelukan istrinya.
__ADS_1
"Iya mas ada apa?" Sudahlah jika memang mas Ardan menginginkannya maka aku akan memberikan haknya. Lagi pula apa yang dia berikan untuk keluargaku sudah kelewat dari apa yang ingin dia berikan. Jadi sudah selayaknya dia memberikan keinginan Ardan. Karna dia sadar dia tak memiliki apapun untuk diberikan kepada suaminya.
"Ayo... ada yang ingin kubicarakan dengan semuanya. Kita keluar. Mungkin ayah dan ibumu sudah menunggu diluar." Ardan mengambil beberapa berkas entah apa itu. Namun yang menjadi pertanyaan bukan itu. Tapi apa yang akan dikatakannya kepada keluarganya. Pikirannya terbang kemana-mana.
"Hai ayo.... Kenapa tak bergerak sama sekali?"
"Ah iya mas." Buru-buru dia menaruh guling disamping tubuh mungil anaknya itu. Kemudian mengecup keningnya dan berlalu mengikuti langkah kaki Ardan menuju ruang keluarga.
Sebenarnya ada apa ini kenapa semuanya kumpul begini?
"Ini untuk bapak dan ibu." Ardan memberikan sebuah berkas Terlihat jelas kini apa isi berkas itu.
"Maksudnya ini apa nak?" Tanya ayah Ani dengan terbata. Meskipun amsih dengan logat Jawa yang kental namun setidaknya kini dia bisa sedikit berbicara bahasa Indonesia dengan menantunya.
Benar..... Berkas itu berisi surat-surat untuk area persawahan. Ardan memberikan dua buah berkas. Yang artinya ada dua petak sawah yang diberikan.
"Itu untuk ayah dan ibu. Mulai sekarang kalian tak perlu repot-repot bingung mencari uang. Aku tau istriku saat ini sedang mengumpulkan uang bulanannya hanya untuk memberikan ini kepada kalian. Aku ingin menghargainya. Jadi biar dia tak perlu bersusah payah mengumpulkan uang. Biar aku saja yang membelikan ini. Aku harap kalian bisa menerimanya. Untuk menghargai niat baik istriku."
Mas Ardan sebenarnya hatimu terbuat dari apa?
__ADS_1