Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 82


__ADS_3

"Heh sial !!! Minggir dong."


"Loe apaan sih Yon ?! Dari tadi badmood Mulu. Loe kata gue gendut makan tempat!!!" gerutu Kevin.


"Ahhhh!!! Lagian loe Napa kesini sih?!" Tanya Dion yang masih saja kesal.


"Lah kan tadi gue udah bilang gue mau curhat. Ngomong-ngomong Yon loe ngapain kesini malam-malam?!" Kevin benar-benar penasaran karna yang dari tadi dibahas hanya masalahnya saja. "Loe punya masalah?"


"Nggakkkk!!! Masalah apaan?!" Berbalik badan membelakangi Kevin.


"Yon gue kenal loe itu gak cuma dua tahun tiga tahun Lo. Tapi tujuh tahun. Gue ngerti loe pasti ada masalah. Dan loe pasti gak mau cerita sama kita."


"Masalah apaan sih. Enggak."


"Apa loe lagi patah hati Yon?"


"Patah hati sialan. Gue gak mau ya bucin kayak loe. Loe yang paling tenang aja bisa berantakan gini. Ardan yang dingin aja bisa sebucin itu sama istrinya. Nggak deh ya bisa-bisa gue gak bisa bebas lagi." Dion masih saja berdalih. Namun Kevin yakin ada sesuatu yang disembunyikan Dion. Inilah kenapa Dion yang paling misterius. Karna dia sangat tertutup.


"Yon loe masih nganggap gue sama Ardan sahabat nggak sih?" Pertanyaan Kevin yang memang tak akan pernah bisa Dion hindari. Karna dia sangat menjunjung tinggi persahabatan itu sendiri. Dion membalikkan badannya. Merebahkan tubuhnya posisi yang sama diambil Kevin .


"Gue ketemu loe tujuh tahun yang lalu sedangkan Ardan lima tahun yang lalu. Loe pikir gue bisa kayak gini tanpa dukungan kalian? Yang loe kata dulu gue anak preman berandalan atau apalah itu. Kita udah nglewati susah sama-sama seneng sama-sama. Loe kira gue bantuin Ardan kemarin apa? Ada resiko besar juga buat gue. Dan loe juga gak mungkin melewati masa-masa sulit waktu perusahaan bokap loe bangkrut. Karna gue tau sama Ardan loe bener-bener terpuruk waktu itu. Tapi loe gak mau minta tolong ke kita. Padahal kalau lihat tabungan gue. Gue bisa bantuin loe buat beliin rumah. Loe gak mau akhirnya gue bangun club' sampai besar kayak sekarang ini. Kita semua pernah berada di bawah walaupun Ardan kagak sih. Seenggaknya kita selalu bersama. Gue gak bisa lupain itu."


"Lah kalau loe pikir persahabatan kita penting Napa loe gak jujur sama kita?"

__ADS_1


Dion terdiam. Rasanya dia sudah dijebak oleh Kevin. Kevin benar-benar sangat memahami dirinya dan juga Ardan.


"Gak !!! Loe pasti ngetawain gue."


"Hei loe kira gue sahabat macam apa?! Lagian loe bener-bener ya bikin emosi. Napa kalo tiap ada masalah gak pernah mau cerita. Tapi malah minggat kayak gini. Gue tau sifat loe Yon!!!" Bangkit dari posisi rebahan. Kini dia duduk bersila.


Nih anak ada masalah bukannya cerita malah minggat. Kevin.


"Cepetan bilang nggak?!!!" Intonasi suara Kevin naik dua oktaf.


Hah....Dion menghela nafas.


"Gue disuruh nikah."


"Apaan sih?! Loe kira nikah gampang? Nggak gue masih belum pengen nikah. Gue gak mau terkekang kayak loe sama Ardan. Gue gak bakalan bisa bebas."


"Ya elah Yon?! Loe apaan sih. Jatuh cinta itu indah men. Jangan cari duit mulu. Ada banyak hal tentang cinta. Dan itu sama kayak persahabatan. Ada yang nemenin loe kayak sahabat. Susah seneng bareng. Coba deh ya loe buka hati loe buat seorang gadis. Emang loe gak sayang sama nyokap bokap loe? Perusahaan loe gede. Loe anak tunggal. Udah ngebangkang nyari masalah mulu. Gak mikir perasaan orang tua? Ini gue ngomong karna gue cuma punya nyokap aja. Loe ingat Yon orang tua kita udah mulai menua setiap waktu. Mereka hanya ingin rumah mereka ramai dengan adanya menantu dan cucu. Kebahagiaan mereka hanya terletak disitu. Uang bukan segalanya." Benar Kevin sangat tau ambisi Dion. Dion sudah memulai bisnisnya sendiri. Kerajaan uang miliknya yang sudah ada di mana-mana. Makanya meskipun Dion terlihat tak bekerja. Penghasilannya sudah masuk ke rekeningnya setiap bulannya. Tanpa dia turun tangan sendiri.


Kevin melihat Dion mulai bimbang. Ditariknya sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Kemudian dia membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya. Biar Dion memikirkannya.


Memang. Uang bukan segalanya. Tapi..... Masa iya gue harus mau dijodohin kayak gini? Mana gue gak tau lagi tu cewek siapa.


"Ada banyak hal tentang cinta? Hah..... Yang bener aja." Pikirannya benar-benar buntu. Kemudian dia memejamkan matanya dan mulai memasuki alam mimpinya.

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗


"Hai Monic..."


"Aaaahhh bebeb...." Monica memeluk Ani dengan hangat. Kini mereka tengah bersiap-siap untuk pergi ke taman bermain. Agnes sudah sibuk sedari subuh menyiapkan segala hal untuk nona mudanya.


"Wah gila ya beb berkat Agnes disamping kamu. Kamu makin cantik deh tiap harinya." Mengacungkan dua jempol ibu jarinya.


"Apaan sih?!" Ani tersipu malu. Benar sekali apa yang dikatakan Monica. Agnes sangat mengerti tentang fashion. Dan bahkan cara bermake up-nya sangat bagus. Dilihat dari polesan make up tipis Ani yang terlihat menawan.


"Loh beb. Mas Kevin juga ikut?" Tanya Monica saat melihat tiga pria tampan mendekat kearah mereka. Mereka memakai pakaian casual. Sangat berbeda dari yang biasanya. Mata Monica menatap Kevin yang tengah menelpon seseorang. Terlihat tampan dan keren.


Ya ampun bisa-bisa copot nih jantung. Ganteng banget sih. Aaaaa apa ini pria yang sama dengan kemarin yang menembakku? Ini gila.


Monica membuang wajahnya. Tak ingin terlalu memfokuskan matanya melihat pemandangan indah di depan matanya.


"Sayang sudah semua ya?" Tanya Ardan.


"Sudah mas. Kita berangkat sekarang." Ani menggandeng tangan suaminya. Dirinya sangat bersemangat. Ingin membawa anaknya pergi liburan. Dan bahkan melewati Monica begitu saja.


"Lah..... Kok aku ditinggal. Huh mentang-mentang ada suaminya lupa ya sama aku?!" Gerutu Monica. Menghentakkan kakinya. Kemudian mencoba melangkahkan kakinya mengikuti sahabatnya. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menarik ujung dreesnya. Dia hari ini memakai dress dengan lengan panjang transparant dan selutut. Memakai sepatu kets warna putih. Dan memakai tas selempang yang ia gunakan untuk menyimpan hp dan dompetnya.


"Eh copot !!!" Teriak Monica. Namun saat melihat siapa yang menarik ujung bajunya dia lebih terkejut lagi.

__ADS_1


__ADS_2