Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 379. Melelahkan


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Rendy.


"Markas organisasi telah rata dengan tanah. Tetapi, tidak menutup kemungkinan masih tersebar beberapa wilayah. Termasuk di daerah yang menjadi sasaran teror kemarin. Tetapi, kita sudah membumi hanguskan pusat informasi mereka. Otomatis, untuk sekedar bangkit saja mereka akan kepayahan," tukas Julia.


"Terima kasih, Julia. Berkatmu, kami mendapatkan informasi penting ini. Posisimu di sini, menggantikan Sabrina yang tidak bisa bersama kami. Kei pasti bangga denganmu," ucap Rendy seraya menepuk pelan pundak Julis. Gadis itu tersenyum.


"Sayang, ayo kita pulang," rengekan manja keluar dari bibir Elena. Wanita itu bergelayut manja di lengan sang suami.


"Baiklah, ayo kita pulang," ucap Rendy.


Keduanya berjalan dengan santai menuju pesawat jet pribadi. Pasangan yang tak lagi muda itu benar-benar mesra dan kompak. Bagaimana tidak? Mereka bekerjasama dalam menangani medan tempur. 


"Benar apa yang dikatakan oleh ayah Kei. Tuan Rendy benar-benar angkuh dan menyeramkan. Aura dinginnya tidak main-main. Tapi, sebagai suami dia memang begitu menggilai Nona Queen. Ah, aku jadi iri," gumam Julis.


"Hei, jangan berdiri di sana saja! Kau tidak ingin pulang?" Seorang pria tampan dengan luka di bawah mata sedikit menyeramkan di mata Julia.

__ADS_1


"Maafkan aku, Tuan Mu." Julia berlari kecil menapaki tangga. Ia harus berada di sisi sang majikan. Posisinya memang menggantikan Kei. Dibantu dengan Mu, yang selalu berkata dengan nada tidak enak.


Di belahan bumi yang lain, seorang gadis tampak kesal melihat bunga mawar merah indah yang disodorkan di depannya. Pria yang memberinya bunga, justru tersenyum. Seolah menampakkan betapa tampan dirinya.


"Ini untukmu," ucap Lexi dengan semangat.


"Aku tidak mengerti. Bukankah kemarin aku sudah mengatakan dengan jelas? Aku tidak menyukai bunga," tolak Sabrina dengan halus.


"Memang, dan aku juga masih mengingatnya. Hanya saja, tidak mungkin seorang gadis membenci bunga? Sabrina, kumohon terimalah ini. Bunga ini sebagai lambang kita telah berbaikan dan berteman." Lexi berkata seenaknya.


"Hei, Bung. Sabrina sudah mengatakannya berulang kali. Kau jangan memaksanya begini. Kau laki-laki bukan?" sindir Artur.


"Hei, Bung. Semua mata yang melihat juga paham hal ini. Sabrina tidak ingin menerima bunga darimu," pungkas Dixton.


"Sudah kubilang aku hanya bicara dengan Sabrina! Kenapa dengan kalian ini? Sabrina saja diam. Kenapa kau yang tidak terima? Atau kau menyukai Sabrina? Heh, lihat dirimu. Sangat jauh jika dibandingkan denganku!" ejek Lexi pada Dixton.

__ADS_1


"Kau.." Dixton menggeram.


"Diam! Kenapa kalian malah bertengkar? Aku tidak tahu apa yang sedang kalian perbincangkan!" Sabrina memijit pelipisnya. Sungguh ia pusing dengan situasi yang berisik ini.


"Sabrina, ayo kita pergi," ajak Artur. 


Ia menarik tangan Sabrina agar mengekor di belakangnya. Namun, belum sempat menjauh, Lexi sudah menarik tangan Sabrina. Otomatis menghentikan langkah Sabrina begitupula dengan langkah Artur.


"Apa-apaan kau, brengs*k!" bentak Artur.


"Aku belum selesai bicara dengan Sabrina! Kenapa kau seenaknya membawa Sabrina pergi?" kesal Lexi.


"Jangan kau sentuh, Sabrina!" Artur menepis kasar tangan Lexi.


"Hentikan!" Sabrina menyentak Artur dan Lexi. Gadis itu menatap menyalang pada kedua pria itu. Lanjut Sabrina, "Lexi, aku sudah bilang jika aku benci bunga. Sekalipun kau memberikan barang yang lain, aku juga akan berlaku sama. Aku hanya akan menerima apapun itu dari kekasihku. Bukan yang lain. Minggir!"

__ADS_1


Sabrina berjalan meninggalkan keributan itu dengan hati yang kesal. Para pria terus saja beradu argumen tanpa ujungnya. Padahal, tubuh Sabrina sudah sangat letih sekali.


"Ini melelahkan. Tapi, tadi malam adalah malam yang indah," gumamnya kemudian.


__ADS_2