
"Vin ikut aku. Aku pengen makan bakso,"
"Hah? Bukannya elo gak suka bakso ya?" ujar Kevin namun walaupun dia heran tetap bangkit dari duduknya.
"Apa loe gak tau gue lagi ngidam?"
"Oh iya ya," kemudian menyambar sebuah jaket yang dia taruh disofa.
Ya benar.....disinilah mereka disebuah kamar besar milik Gretha dan Nico. Hanya tempat inilah yang paling aman. Karena selain kedap suara kamar ini cukup canggih yang termasuk juga anti peluru.
Karena Ardan merasa hidupnya mulai terusik. Hanya disini dia akan tenang karena anak dan istrinya akan aman.
Dikamar yang begitu luas ini terdapat satu ranjang ukuran big size saat ini ditempati oleh Ani dan Ardan. Sebuah sofa yang sangat empuk yang kini sedang diduduki oleh Kevin, Nico dan Monica sedangkan Rianna. Gadis itu sibuk kesana kesini memasang pengharum ruangan.
"Sepertinya kita perlu tempat tidur lagi?" usul Gretha yang duduk ditepi ranjang miliknya.
"Itu benar juga mi. Sayang untuk sementara kita disini dulu ya?" Ardan yakin jika saat ini Smith tengah membuat rencana baru lagi. Cepat atau lambat Smith akan berulah. Mengingat istrinya sudah diintai sejak lama. Bukan tidak mungkin dia akan terluka suatu hari nanti.
Ani hanya bisa mengangguk. Sebenarnya dia ragu. Dia ingin sekali bertanya tentang masa lalu suaminya. Mau bagaimana lagi situasi belum memungkinkan.
"Monica maaf sepertinya kau tidak bisa pulang sementara waktu. Mengingat mereka mungkin bisa nekat," ucap Ardan.
"Tapi pak aku kan gak ada kaitannya dengan keluarga Wijaya. Lagian kalau aku tidak pulang keluargaku akan mencariku," sanggah Monica.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku memberikan keluargamu uang? Menyekolahkan adik-adikmu?"
"Oke deal," tanpa fikir panjang Monica menyetujuinya. Memang uang adalah cara yang tepat untuk mengendalikan Monica yaa benar. Namun bukan berarti Monica materialistis namun mengingat kondisi keuangan keluarganya. Lebih baik dia menerima tawaran keluarga Wijaya bukan? Dia dapat uang dan adiknya bisa bersekolah. Ayah ibunya tinggal memikirkan uang untuk kebutuhan yang lain atau menabung untuk masa tua mereka.
"Lalu baju gantiku?"
"Gampang nanti biar kami yang mengurus yang penting kau mau menjaga istriku aku sudah bisa sedikit tenang,"
"Ayo bro katanya elo pengen makan bakso," sungut Kevin.
"Oh oke. Aku ambil Rendy dulu," Ardan berjalan menuju pintu.
"Kak aku ikut beli bakso ya?" rengek Rianna.
"Tapi aku pengen makan bakso kak," mata Rianna kini berkaca-kaca.
"Nanti aku bungkusin ya," Ardan kemudian membuka pintu.
"Beneran ya?" mengusap air matanya yang sudah jatuh dipipinya.
"Iya," segera Ardan turun kelantai bawah mencari bocah balita laki-laki itu. Disituasi yang mulai mencekam ini dia harus berhati-hati dan waspada apapun yang terjadi.
"Ayah....." Rendy berlari begitu melihat Ardan. Ardan tersenyum begitu Rendy berlari kearahnya. Dan hap dia segera menangkap bocah laki-laki itu. Menghujaninya dengan banyak ciuman.
__ADS_1
"Bunda dimana yah?"
"Diatas.... sebentar ya. Biiii tolong ya bawa kompor listrik sama lemari es yang paling besar itu kemudian taruh dikamar papi dan mami. Sekalian sama penanak nasinya. Jangan banyak bicara lakukan cari laki-laki untuk memindahkannya,"
Seperti mengungsi? Tapi ini lebih baik. Cepat atau lambat Smith juga akan sampai kerumah ini. Sedikitpun aku gak pengen ambil resiko.
"Bundaa....."
"Oh....anak bunda !!" Ani langsung meraih tubuh bocah laki-laki itu,"
"Eh itu apa mas?"
"Ini semua barang-barang Rendy,"
Belum cukup rasa herannya terobati tiba-tiba ada banyak orang yang memindahkan sebuah kasur spring bed. Belum lagi barang-barang yang diminta Ardan tadi. Membuat Ani semakin mengerutkan dahinya. Begitu pula Monica.
*Kenapa seperti mengungsi saja? Monica.
Sepertinya Ardan sudah bersiap untuk kemungkinan sebuah penyerangan. Kevin*.
Semua telah ditata rapi. Ada satu ranjang ukuran big size yang ada dipojok kiri yang digunakan oleh Ani saat ini. Kemudian spring bed ditengah dan sebuah ranjang ukuran big size di pojok kanan. Kemudian Beberapa lemari dikeluarkan. Meminimalisir pemborosan tempat. Karena memang ada banyak orang disana.
Hanya satu lemari pakaian yang akan digunakan untuk bersama. Kemudian sebuah kompor listrik dan lemari es berada diujungnya, didekat kamar mandi. Sebuah sofa menjadi sebuah pembatas untuk dapur dadakan dan kamar bersama dadakan itu.
__ADS_1
Hanya Ani dan Monica yang tidak tau alasannya. Sedangkan sisanya sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin perang tidak dapat dielakkan lagi.