Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 157


__ADS_3

"Aduh," rintih Ardan. Ani mencubit perut suaminya. Ini sudah malam, bisa-bisanya Ardan meminta sesuatu yang berlebihan.


"Maaf nak? Ini sudah malam. Karyawan saya sudah pulang semua. Jadi saya rasa itu tidak mungkin saya kerjakan sendiri. Membutuhkan banyak waktu dan bahan,"


"Ayolah Bu. Masa tidak bisa?" rengekan Ardan kembali terdengar. Ani menggelengkan kepalanya.


"Maaf, lebih baik kalian cari yang lain. Saya lelah, maaf bisakah kalian pergi dari sini?"


💞💞💞


"Ri, kamu udah sadar?" tanya Monica. Wajahnya yang tadi mengantuk, kini seakan memiliki energi tambahan. Ini sudah tengah malam saat dirinya hendak membaringkan tubuhnya, dia melihat Rianna tengah terbangun.


Mendengar ucapan Monica, mereka semua terhenyak dan langsung mendekati ranjang Rianna. Gadis itu tersadar meskipun lemah. Wajahnya yang penuh lebam itu seakan membuat hati Monica sedikit ngilu.


"Nak panggil dokter," titah Nico membuat Monica memencet tombol darurat. Beberapa menit kemudian terlihat seorang dokter yang menangani Rianna datang beserta perawat.


"Syukurlah keadaan pasien sudah lebih baik. Mungkin besok sudah bisa pindah ke ruang perawatan. Kalau begitu kami permisi dulu,"


"Terima kasih Dokter,"

__ADS_1


Dokter dan perawat itupun segera pergi meninggalkan mereka. Kini mereka semua bersyukur karena keadaan Rianna jauh lebih baik.


"Katakan kamu menginginkan apa nak?" Gretha membelai lembut kepala Rianna. Membuat genangan air mata di sudut matanya.


"Kenapa? Katakan saja kalau kau ingin sesuatu," Nico mendekati ranjang Rianna.


"Aku rindu mama," ucap Rianna lirih. Membuat mereka semua saling berpandangan.


"Sembuhlah. Nanti kita ziarah ke makam mama bersama-sama. Aku akan mengenalkan calon istriku," ucapan Kevin membuat sudut melengkung dibibir Rianna. Gadis itu tersenyum lembut sebelum mengaduh sakit.


"Tidurlah Ri, kamu pasti lelah,"


"Kakak ipar dan kak Ardan kemana? Lihatlah! Aku terbaring sakit disini tapi mereka malah pergi kencan!"


"Memang ya kak Ardan selalu saja menyusahkan,"


Kembali Rianna berdecak kesal. Ia teringat keinginan Ardan terakhir kali. Bayangan kepala ikan lele tiba-tiba membuatnya merinding. Hal yang paling dia benci.


"Sudah tidurlah. Ini sudah malam,"

__ADS_1


"Tapi aku tadi sudah tidur Pi," menggembungkan pipinya. Membuat wajah penuh lebam itu terlihat menggemaskan.


"Lihatlah wajahmu penuh luka begitu. Sekarang kau tidak ada cantiknya lagi. Lebih baik kamu istirahatlah biar besok kamu lebih baik," ucapan Kevin membuat mata Monica mendelik tajam. Bagaimana dia bisa mengatakan itu dengan jelasnya? Terlebih kata tidak cantik lagi! Hei! Itu termasuk dalam perkataan yang menghina bukan?


"Benarkah? Apa separah itu?" kini Rianna mulai menjamah wajahnya. Namun baru sedikit saja disentuh gadis itu mengeluh karena sakit. "Ah,"


"Sudah aku bilang bukan? Wajahmu sekarang sudah seperti ayam yang mati kemarin! Tidurlah! Agar wajahmu lebih baik besok,"


"Kak Kevin berani bilang begitu?!" mata Rianna mendelik tajam. Terlebih mata Monica yang juga menatapnya tajam.


"Aku mengatakan yang sebenarnya! Kenapa mata kalian berdua melototiku begitu?"


"Kalian berhenti! Kevin, jangan membuat Rianna marah. Ingatlah kesehatannya lebih penting sekarang. Nanti kalau Rianna ada apa-apa kau jangan seperti anak ayam yang kehilangan induknya! Sekarang kalian semua tidur. Besok Rianna akan pindah ruangan," Nico melerai perdebatan mereka.


"Kenapa aku tiba-tiba merasa kasihan ya sama kakak ipar. Pasti saat ini tengah kesal gara-gara kak Ardan merengek seperti bocah," gumam Rianna. Kini matanya kembali tertutup. Aku pikir aku sudah mati. Ayolah Rianna jangan berfikir buruk. Ingat yang lain saja. Jangan diingat kejadian itu. Ingat yang lain. Pokoknya ingat yang lain.


Walaupun tubuh Rianna bergetar dengan hebatnya karena mengingat kejadian yang tragis itu tapi gadis itu memilih menutup mata.


💞💞💞

__ADS_1


"Sayang! Kau yang benar saja?" teriakan dan rengekan Ardan kembali terdengar. Ani menulikan telinganya. Dia sudah lelah karena efek kehamilannya. Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang. "Sayang!"


"Apa sih mas?" Ani menoleh kearah Ardan. Laki-laki itu terlihat mengerucutkan bibirnya. Jangan lupakan kue buaya kecil yang berada ditangannya. Ya benar, mustahil mereka mendapatkan kue buaya dengan ukuran besar. Jadi Ani meminta untuk dibuatkan dengan bahan seadanya. Jadilah sekarang kue buaya seukuran telapak tangan. Maklumlah namanya juga dengan bahan seadanya.


__ADS_2