
"Kalian kan sama-sama tak tahu malu. Bercinta didalam kamarku. Dan kemudian mengusirku. Tenang saja Intan aku tak akan melakukan hal itu padamu. Karna aku tau kamu bisa gila jika hidup tanpa mantan suamiku kan?" Ani tersenyum.
"Kau...."
"Cukup hentikan. Ani jangan cari masalah".
"Aku ? Bukankah tadi yang memanggilku Intan? Tunanganmu? Kemudian dia memakiku. Apa aku tak boleh mengatakan yang sebenarnya?"
Jika dipikir sekali lagi memang begitu kenyataannya. Namun Johan tak ingin dirinya dipermalukan. Dia tetap bersikukuh bahwa Ani lah yang salah.
"Kalau kau tak menyulut emosinya dia tak akan memakimu. Aku yakin kau masih memiliki rasa untukku. Tapi buang rasa cintamu itu karna aku tak butuh." Johan masih dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Kamu salah.... Aku sudah tak memiliki rasa apapun padamu."
"Jangan bohong kamu. Aku yakin kamu masih cinta kan sama Johan karna kamu gak terima dia ninggalin kamu dan ceraiin kamu!!!"
"Hmmmm. Kamu tenang saja jika itu permasalahanmu padaku. Dengarkan ini baik-baik." Ani menampakkan wajah seriusnya. " Aku dan Johan tidak mungkin bisa bersama kembali. Jangan pernah ganggu hidupku kembali. Karna aku sudah menikah." Setelahnya dia berlalu menerobos kerumunan dari sekian banyak orang. Rasa di dadanya kini telah membuncah sempurna. Air mata yang sedari tadi dia bendung kini runtuh tak terelakkan. Monica mengejarnya sayup-sayup memanggil namanya namun dia tak menggubris secepat kilat dia harus pergi dari tempat. Itu. Sepeninggal Ani Johan terlihat kaget dan sejurus kemudian dia mengepalkan tangannya. Seakan tak terima dengan kalimat terakhir yang dia lontarkan.
Ardan melirik manusia didepannya. Matanya terlihat sembab. Dan dia hari ini tak memasak makan malam untuknya. Ada yang tidak beres.
"Hei".
Cara memanggilku kenapa santai begitu tuan.
" Ya mas ada apa? Kamu butuh sesuatu."
"Enggak."
"Oh yaudah." Kini matanya kembali menatap novel yang dibacanya. Tak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Ardan.
__ADS_1
"Hei..."
"Ya mas. Kenapa?"
"Enggak".
Sialan berhentilah bersikap kekanakan. Kau itu kenapa suka sekali sih gangguin aku mas. Kemudian fokus kembali dengan buku yang sedari tadi dia baca.
" Katakan ada apa?"
Hah? Apa jangan-jangan mas Ardan tau apa yang terjadi?
"Emm... Kenapa mas?" Ani gugup mencoba memperbaiki letak duduknya.
"Dari tadi kamu murung banget ada apa? Seharusnya kamu senang karna bisa meneruskan kuliah dikampus terbaik dikota J. Tapi kenapa pulang-pulang kau seakan habis pulang dari Medan perang saja? Bukankah tadi pagi kau masih baik-baik saja?"
"Enggak kok mas. Lagian siapa yang bully aku?"
"Gak ada apa-apa kok mas".
"Katakan atau aku cari tau sendiri."
"Uuuhh mas apaan sih?",
"Sayang...!!! Katakan atau aku cari tau sendiri!!!"
"Aku udah bilang aku gak dibully hanya teringat keluarga dirumah. Karna lama sekali aku tidak berkunjung."
"Benarkah?" Ardan tersenyum sebenarnya dia telah mengetahui semuanya karna dia memiliki seseorang yang menjaga Ani karna Ardan tau karna kejadian sebelumnya Ani menjadi lebih diam. Jadi dia diam-diam memberikan Ani seorang penjaga agar dia mengetahui semua yang terjadi pada istrinya.
"Iya mas."
__ADS_1
"Kalau begitu kosongkan jadwalmu akhir pekan."
"Kenapa?"
"Bukankah tadi kamu bilang merindukan keluargamu ? Sekarang kenapa kok malah banyak tanya?"
"Eh. . ... Yang benar mas?" Mata istrinya kini telah berbinar-binar. Terlihat raut wajahnya kini mulai cerah kembali.
"Hmmmmm"
"Bener gak sih mas jangan bercanda dong gak lucu tahu." Ani kini memanyunkan bibirnya pasalnya tadi dia sudah sangat bahagia karna akan bertemu dengan anaknya. Rendy.
"Siapa yang bercanda? Kalau kau benar-benar ingin berterima kasih padaku karna akhir pekan kita akan kerumah keluargamu maka kau berikan aku imbalan apa?"
Jadi kau tak ikhlas ? Sialan aku pikir kau benar-benar tulus tuan.
"Sudahlah mas...." Merebahkan tubuhnya. "Aku tak punya apapun untuk ku berikan kepadamu. Jadi ya sudah mungkin belum waktunya aku pulang kampung."
"Kau punya."
"Aku sudah bilang aku tak punya apa-apa!!!"
"Kau punya!!!!"
"Apa?" Kini dia duduk. Rasanya benar-benar kesal melihat suaminya. Kenapa harus mengajak berdebat sampai-sampai otot mau keluar semua.
"Tubuhmu". Ardan kini menurunkan suaranya. Ditatap kembali istrinya itu dengan penuh cinta.
Deg deg...deg ... Hei jantung. Ya Allah apa mas Ardan minta haknya ya? Deg.. Duuuhh memang sudah haknya mas Ardan sih tapi aku belum siap.
"Aku mencintaimu Ani". Ardan memajukan tubuhnya diciumnya bibir sang istri yang nampak berwarna merah muda itu. Lembut. Cukup lama mereka berciuman. Ani kini tak lagi menolak Ardan mentah-mentah. Terbukti dia menerima ciuman suaminya. Mungkin seiring berjalannya waktu Ani bisa perlahan menerima keberadaan Ardan. Ardan melepas ciumannya.
__ADS_1
"Tidurlah. Aku mencintaimu." Cupp Ardan memberikan kecupan di kening istrinya. Ani mengangguk kemudian menyusul Ardan masuk kedalam selimut mereka. Malam kian beranjak.