
"Dengar, Azumi. Aku belum selesai denganmu. Aku akan menyiksamu sekali lagi. Mungkin, sampai aku merasa puas. Ingatlah. Kau telah membuat manusia tak bersalah harus meregang nyawa karenamu! Anto! Kau harus membersihkan darah yang ada di tubuhnya. Lalu obati dia. Dia harus tetap sehat sebelum aku benar-benar puas menyiksanya. Setelah aku puas, aku baru akan memberimu izin untuk mati. Baiklah. Aku pergi dulu. Ayo, Amelia!" Sabrina berlalu meninggalkan ruangan tersebut dengan rasa puas yang menyeruak di dalam dada.
"Rasanya menyenangkan bukan?" Amelia membuka suara. Keduanya kini berjalan menuju mobil.
"Tentu! Aku akan membalas setiap apa yang telah ia lakukan kepada orang-orang yang tak bersalah itu," timpal Sabrina. Kedua gadis itu memasuki mobil. Sabrina lalu menginjak pedal gas dan melajukannya menuju ke rumah William.
Sabrina menatap langit-langit kamar dengan seksama. Hari ini ia bolos absen, dikarenakan ia hampir tidak bisa bangun. Berkat tadi malam kehebatan William sedang dipertaruhkan, maka ia harus rela digempur habis-habisan. Hanya karena Sabrina terlambat pulang ke rumah. Maka dia harus siap dengan hukuman dari sang suami tercinta.
"Padahal, aku kan hanya bermain dengan Amelia sebentar. Mengapa dia harus menghukumku? Padahal besok kita harus ke acara reuni itu!" Sabrina menggerutu.
"Honey?" panggil William.
Karena Sabrina yang masih belum beranjak dari tempatnya, William segera mendekati Sabrina yang berbaring di atas ranjang. Samar-samar William mampu melihat lekuk tubuh Sabrina yang indah dibalik Victoria Secret yang dikenakan oleh William. Gaun yang tadi siang ia beli setelah meeting selesai.
Tanpa ingin membuang waktu, William segera mencium bibir ranum milik Sabrina. Gadis itu tersentak kaget. Namun pada akhirnya tenggelam dalam ciuman hangat William. Setelah puas bermain di bibir Sabrina, bibir William bergerak menuruni leher dan menyapu setiap inchi leher jenjang milik Sabrina. Sabrina semakin menggila tak kala tangan kekar milik William menarik kain tipis yang ia kenakan. Kedua bola matanya melebar saat melihat kain tipis itu kini telah teronggok dilantai.
"Honey, kau membuatku gila!" desis William.
William membuka paha mulus milik Sabrina. Kemudian dia tersenyum melihat pemandangan yang indah itu, William merab* daerah kewanitaan Sabrina yang tidak berbulu itu dengan jari tengahnya sambil memperhatikan milik Sabrina yang masih berwarna merah delima itu. William semakin tak sabar. Lalu dia menerjang milik Sabrina yang sudah mulai basah itu dengan ujung lidahnya.
"Emh."
Lenguhan yang meluncur dari bibir Sabrina justru semakin membuat William menggila. Lelaki itu memainkan lidahnya di daging kecil yang berbentuk kacang itu dengan lembut dan sesekali menyesapnya dalam.
"Ho-Honey. Ja-jangan disitu." pinta Sabrina.
__ADS_1
Sabrina terus berusaha menahan kenikmatan itu dan mencoba menggerakkan pinggangnya agar William terhenti. Tapi William menahan kedua paha Sabrina dan kembali memainkan lidahnya di milik Sabrina yang semakin basah itu.
William mengelus miliknya dan berusaha memasukkan ke area sensitif milik Sabrina. Dia berusaha memasukkan miliknya yang sudah keras dan berurat itu ke dalam inti milik Sabrina, tetapi lagi-lagi Sabrina mengatupkan rapat kedua pahanya yang seputih susu itu.
William menjadi kesal lalu dia mencium bibir Sabrina. Kelembutan dan gairah yang telah memuncak dan berkobar di antara keduanya, membuat Sabrina terhanyut. Dengan mudahnya kini William menyesak masuk ke dalam inti milik Sabrina meskipun telah lama dan bersusah payah.
"Sa-sakit," rintih Sabrina
"Tenang, Honey. Tahanlah ini hanya sebentar." William berusaha selembut mungkin.
"Sakit!" teriak Sabrina seraya meremas sprei putih.
Kini milik William telah masuk dengan sempurna di inti milik Sabrina. Kemudian William menggerakkan pinggangnya maju mundur dan merasakan sensasi yang luar biasa karena himpitan milik Sabrina yang masih sempit.
"Cih! Jika dia tidak galak, pasti akan menjadi laki-laki yang sempurna di mataku. Lihatlah tadi sebelum dia melompat ke ranjang. Bagaimana dia memarahiku habis-habisan. Dasar laki-laki dikasih ikan asin pasti sikapnya lembut. Badanku sakit semua," rutuk Sabrina dalam hati.
"Honey?" panggil William dalam keremangan cahaya
"Hmmm."
William bergerak mencium bibir Sabrina. Gadis itu terkesiap kaget saat William kembali mulai bermain dengan dua buah gunung miliknya yang kini menjadi bagian favorit William. Kembali lagi ranjang itu bergoyang mengikuti irama percintaan panas kedua muda mudi yang dimabukkan oleh surga dunia. Tanpa banyak kata namun saling menginginkan satu sama lain. Saling mendamba untuk sama-sama merasakan nikmat dunia yang baru saja mereka berdua rasakan.
Hingga keduanya sama-sama mencapai puncak nikmat surga duniawi. William memandang wajah Sabrina yang tampak sudah kelelahan meladeni kebuasannya.
Sungguh, hal yang tak pernah ada di pikiran William. Namun saat ini, lihatlah gadis kecil yang pernah ia tolak dulu bahkan saat ini berada di bawah kungkungannya. Lelaki itu pun mendaratkan bibirnya di kening William. Kemudian kembali membaringkan tubuhnya di samping Sabrina.
__ADS_1
"Ho-Honey. Aku mau bersih-bersih dulu." Sabrina Pun bangkit dari posisinya.
Saat hendak menginjakkan kakinya di lantai, tiba-tiba Sabrina Pun mengambang di udara. Seketika gadis itu mengeratkan pegangannya dengan melingkarkan tangannya di leher William.
"Ayo kita mandi bersama." William segera menggendong tubuh Sabrina.
Selang 1 jam kemudian mereka berdua keluar dengan jubah handuk. Mandi? Sabrina mendengus kesal. Pasalnya bukan hanya mandi. Tapi lagi-lagi William mengatakan, ayo coba suasana baru. Tanpa permisi lelaki itu bahkan kembali menyerangnya.
"Honey?" William terkesiap.
"Diam kau! Kau mau buat aku tidak bisa jalan ha? Kau, kau huh! Lebih baik aku kembali ke kamarku!" Sabrina bangkit.
"Jangan! Malam ini saja kau tidur disini. Ya ya tidur disini. Lihat ini sudah jam 3 pagi."
Mendengar perkataan William, sontak saja kedua mata Sabrina melirik jarum jam yang terpajang di dinding. Kedua matanya membulat saat mengetahui jam kini menunjukkan pukul 3 pagi lebih 5 menit. Seketika Sabrina langsung mengarahkan tatapan tajamnya pada William.
"William!" teriakan Sabrina menggema di setiap sudut kamar. Sontak, William menutup kedua telinganya. Bahkan saking kesalnya, Sabrina berteriak memanggil namanya saja.
***
Di lantai bawah Ryu sudah bersiap. Bahkan lelaki itu mulai gelisah. Tidak biasanya William terlambat. Bukankah selama ini William selalu on time? Apa dia sedang sakit? Sehingga dia tidak segera turun? Ryu melangkahkan kakinya menaiki tangga. Baru saja separuh perjalanan, Ryu kembali turun ke bawah lagi.
Ragu, kemarin William sudah mengingatkan jika dirinya akan bersama Sabrina untuk menagih hukuman. Itu artinya mereka berdua pasti sedang bersama saat ini. Tetapi mengingat hari ini ada meeting penting, dirinya kembali harus secepatnya mengingatkan William. Ryu kemudian melirik jam tangan miliknya. Ini sudah jam setengah 9. Bagaimana ini?
Dibalik Ryu yang sedang gelisah, di lantai atas ada dua orang berbeda gender justru lagi-lagi sedang berolahraga. Gempa seakan tiada hentinya mengamuk di ranjang mereka. Tiada lelah, dan melupakan seseorang di bawah yang sedang gelisah. Yang ada hanya dua orang muda mudi yang sedang dimabuk cinta.
__ADS_1