
Kedua pria itu roboh seketika setelah memberikan hadiah timah panas kepada Sabrina dan Artur. Beruntungnya Artur selamat dari peluru yang melesat itu. Sayang, Sabrina justru terluka. Karena salah satu peluru mengenai tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, Yanzi dan Nathan justru roboh karena jarum beracun milik Sabrina. Keduanya meregang nyawa detik itu juga. Melihat Sabrina yang juga roboh, Artur segera berlari untuk melihat keadaannya.
"Sabrina! Kau tidak apa-apa?" tanya Artur. Wajahnya kini diliputi rasa panik yang luar biasa.
"Aku tidak apa-apa. Hubungi segera Darren untuk membawaku ke rumah sakit keluarga Wijaya," jawab Sabrina dengan terbata.
Artur segera menghubungi Darren yang ada di luar hotel. Setelah itu, tergopoh-gopoh Darren mendatangi Artur dan juga Sabrina. Dengan segera Artur menggendong Sabrina. Sedangkan Darren mengikuti dari belakang. Pria itu telah menyiapkan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Setelahnya, Ben segera membuka pintu begitu terlihat orang yang sedang dinantikannya itu. Disaat yang bersamaan beberapa anak buah She's Devil mengurus dua jasad milik musuh.
Ben lalu mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit milik Keluarga Wijaya setelah memastikan semua orang telah masuk ke dalam mobil. Tak ada yang berbicara di dalam mobil. Mereka semua hanyut dalam pikirannya masing-masing.
Sesampainya di rumah sakit, Sabrina segera dilayani. Mereka sadar siapa Sabrina. Untuk itu, beberapa dokter dengan cepat mengambil alih Sabrina. Di sisi lain, Darren segera menghubungi Elena dan Rendy. Memberikan kabar jika Sabrina terluka.
"Putar balik! Kita ke rumah sakit Wijaya. Sabrina terluka," titah Rendy.
"Apa?" tanya William. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat.
"Jangan panik, Wil. Sabrina anak yang kuat. Kita berdo'a saja," ucap Rendy. Mencoba menenangkan William yang terlihat panik dan gusar.
Mobil segera putar balik menuju rumah sakit Wijaya. Di dalamnya mereka tak banyak bicara. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Terlebih William. Ia benar-benar merasakan takut yang luar biasa.
"Ya Tuhan. Aku mohon selamatkan istriku. Jika ia selamat, aku akan memperlakukannya lebih baik lagi. Kumohon jaga Sabrina untukku. Jangan sampai aku wanitaku kembali pergi. Aku tak akan sanggup, Tuhan." William membatin gelisah.
Mobil telah sampai di rumah sakit besar milik keluarga Wijaya. Mereka segera berlalu menuju tempat Sabrina dirawat. Rasanya William tak sabar untuk melihat kekasih hatinya.
__ADS_1
"Artur! Bagaimana keadaan Sabrina? Kenapa dia terluka? Mana dia? Kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu tak menjaganya?" William memberondong Artur dengan segala pertanyaan.
"Wil, tenanglah! Sabrina baik-baik saja. Artur, bagaimana bisa Sabrina terluka?" tanya Rendy.
Disaat seperti ini memang Rendy masih bisa tenang. Setidaknya ia masih bisa menyembunyikan kekalutan hatinya. Jujur saja, Sabrina jarang sekali terluka. Sedangkan Elena, diam membisu di belakang Rendy. Wanita paruh baya itu duduk di kursi tunggu di dekat Artur.
"Bagaimana keadaan anakku?" tanya Elena dengan nada lirih.
"Satu tembakan mengenai dirinya, Oma. Kejadian itu sangat cepat. Aku sudah berulang kali berusaha menyelamatkan Sabrina. Akan tetapi sepertinya aku tetap saja belum mampu untuk menjaganya," jawab Artur. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Semoga saja, dia baik-baik saja. Kita berdo'a, Artur," ucap Elena.
"Aku tidak mungkin tenang, Rendy. Sabrina tengah terluka! Bagaimana bisa aku tenang? Sementara dirinya saja masih dalam penanganan dokter!" sentak William.
Rendy menarik napas lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia tahu sahabatnya itu terlalu takut. Terlebih, dulu ia pernah kehilangan sang istri yang sangat ia cintai. Pantas saja jika William saat ini ketakutan akan kehilangan Sabrina.
William menghela napas panjang. "Ya. Dia pasti juga ingin pergi berbulan madu bersamaku. Dia sudah berjanji akan pergi jalan-jalan bersamaku. Kami akan bahagia bersama." Raut wajah William terlihat kalut. Sekalipun pria itu tersenyum. Tampak jelas sekali wajahnya yang masih khawatir dan takut kehilangan.
"Aku sudah benar memberikan anak gadisku kepadamu, William. Kau mencintai anakku dengan tulus. Syukurlah. Apa yang aku takutkan dulu tidak benar-benar terjadi. Nyatanya hubungan mereka baik-baik saja. Artur juga tampaknya menerima kehadiran Sabrina dengan baik," kata Rendy dalam hati.
"Sabrina, bertahanlah." Artur membatin.
Tiba-tiba pintu kamar Sabrina terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang penuh kelegaan. Beberapa orang mulai bangkit. Terlebih William yang panik itu segera mendekati dokter.
"Peluru yang ada di tubuhnya berhasil kami keluarkan. Beruntung sekali keadaan tubuh Nona Sabrina dalam kondisi yang fit. Nona Sabrina akan sadar dalam waktu dekat. Peluru itu tidak berada di bagian yang berbahaya. Itu patut untuk disyukuri. Kami akan memindahkan Nona Sabrina ke kamar pemulihan. Mari, Tuan Rendy." Dokter itu pamit undur diri.
__ADS_1
Setelah dokter itu pergi, beberapa dokter bedah keluar sembari mendorong ranjang pesakitan milik Sabrina. Terlihat gadis itu terbaring dengan mata yang masih terpejam. Setidaknya kondisi Sabrina baik-baik saja.
"Alhamdulillah! Rendy! Sabrina akan segera sadar!" jerit William.
Bahkan pria itu tanpa sadar memeluk Rendy dengan erat. Melihat suami tercinta dipeluk orang lain, Elena segera menarik tangan Rendy.
"Jangan memeluk suamiku seperti itu. Dilihatin orang nggak enak jadinya," ketus Elena.
"Maafkan saya, Nyonya Elena. Kalau begitu aku harus segera ke tempat Sabrina." William memilih pergi menyusul ranjang Sabrina yang masih didorong para dokter.
"Artur, sepertinya ayahmu begitu bahagia dengan keadaan Sabrina," kata Elena tiba-tiba.
Mendengarnya Artur mengulum senyuman. "Begitulah, Oma. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Artur permisi dulu, Oma." Artur berlalu setelah Elena menganggukkan kepala. Di belakang Artur, Elena dan Rendy berjalan tanpa berbicara lagi.
Kini semua orang berkumpul di ruangan Sabrina. Kamar pemulihan dengan fasilitas yang mewah. Maklum saja, yang sedang dirawat adalah keluarga Wijaya itu sendiri. Bisa dipastikan pelayanannya sangat mewah. Termasuk kamar yang luas seperti ini.
Entah sudah berapa lama William memegang tangan Sabrina. Ia bahkan masih betah menatap wajah cantik yang saat ini terlihat pucat itu. Rasanya William tak pernah bosan untuk menatap wajah Sabrina.
"Ayah, kau belum makan. Makanlah dulu. Biar Sabrina aku yang jaga di sini," kata Artur.
"Tidak, Nak. Biarkan ayah di sini. Menunggu Sabrina. Dia harus bangun dengan melihatku. Dia harus bangun," sahut William dengan suara yang serak.
"Tapi, Ayah. Bukankah Ayah juga harus menjaga tubuh Ayah agar tetap sehat? Kalau Ayah sakit bagaimana? Siapa yang akan menyambutnya ketika Sabrina telah bangun? Ayolah, Ayah. Sayangi tubuh Ayah," desak Artur.
"Tidak, Artur. Ayah harus berada di sini. Nanti jika Sabrina bangun, dia akan mencari ayah bagaimana?" tolak William.
__ADS_1
"Ck! Bagaimana caraku membuat ayah bisa makan? Dasar bucin," rutuk Artur dalam hati.