
Koenigsegg CCXR Triver milik Rendypun kini telah sampai di sebuah restaurant berlokasi 1-5 West Street . Tepat jam 8 lebih 40 menit waktu London. Keduanya baru saja menginjakkan kakinya di restaurant The Ivy. Tanpa mereka sadari, sepasang mata elang mengamati gerak-gerik Elena.
Drrttt drtt. Sebuah panggilan telpon menyadarkan Rendy dan Elena. Lelaki itu kemudian berdecak kesal saat mengetahui siapa yng menelponnya. Sesaat Rendy menatap Elena ragu.
"Angkat saja Paman. Siapa tau itu penting," ucap Elena.
"Baiklah ... Tunggulah disini," ucap Rendy sembari berlalu begitu pula dengan Kei yang terus berada dibelakang Rendy. Keduanya meninggalkan Elena sendirian.
"Aku bingung deh. Kenapa juga aku diajak kemari? Dasar orang kaya ... Sekalinya bertemu malah ngundang makan malam. Bikin aku riweh aja. Hah ... Biasanya juga jam segini rebahan. Nikmatnya dunia," gumam Elena.
Sesaat suasana di depan restaurant The Ivy hening mencekam. Elena segera melongokkan kepalanya untuk mencari keberadaan Rendy dan juga Kei yang selalu setia dibelakangnya. Namun sayangnya tiba-tiba dari arah samping Elena muncul beberapa orang aneh. Mereka semua terlihat seperti seorang yang sedang mabuk.
Sialan ... Jangan sampai mereka menghampiriku. Jika mereka sampai mencari masalah denganku, aku tak akan bisa melawan. Karena ini ditempat umum. Terlebih lagi, aku kemari bersama dengan paman Rendy. Memang seharusnya aku tetap di rumah. Jika aku tetap di rumah mungkin aku tak akan bertemu para lelaki sialan ini. Gumam Elena dalam hati.
__ADS_1
Gadis itu segera membalikkan badannya. Hendak mencari keberadaan Rendy. Karena dirasanya situasi dan kondisi mulai berubah mencekam. Sesaat baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah, sebuah tangan yang kekar dan kasar meraih satu tangan miliknya.
"Mau kemana kau cantik?" seorang lelaki mencengkram tangannya erat. Elena meringis sembari mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Nihil, tidak ada sosok Rendy maupun Kei dimanapun.
"Lepaskan tanganmu sial*n!" teriak Elena.
Jika paman Rendy dan tuan Kei tidak datang juga, maka aku libas saja mereka semua. Tujuh orang? Heh ... Lumayan! Kata Elena dalam hati.
"Jangan malu-malu Nona. Kita akan bermain pelan-pelan oke? Lebih baik kau menurut saja. Ha-ha-ha." Mereka semua tertawa dengan bau alkohol yang begitu menyengat.
Elena dan beberapa orang itu terkesiap kaget. Rendy dan Kei, ya ... Kedua lelaki itu kini telah muncul didepan Elena. Sesaat Elena tersenyum melihat kedatangan Rendy yang sudah ada di pelupuk matanya. Akhirnya dirinya tak perlu lagi repot-repot mengatasi kadal-kadal jalanan itu.
"Siapa kalian? Mengganggu kita bersenang-senang saja! Heh atau kalian juga menginginkan wanita itu hah? Kalau begitu minggir. Tenang saja semua pasti akan kebagian untuk menikmatinya nanti! Ha-ha-ha," ucap lelaki yang tadinya mencengkram tangan Elena.
__ADS_1
"Kei! Kau adalah tanganku. Kau paling mengerti aku bukan? Aku paling tidak suka berbagi milikku. Terlebih ... Menyentuh wanitaku! Kei! Urus mereka agar mereka bisa seumur hidup mengingat kejadian ini!" seru Rendy.
Seketika ketujuh orang itu menghentikan gelak tawa mereka. Dengan gesit Kei mengeluarkan sebuah belati kemudian segera beringsut mendekati lelaki yang tadinya menarik tangan Elena.
"Arrrgggghhhhhhttt!" suara lolongan dari bibir lelaki itupun lolos sudah. Menyiratkan sebuah rasa sakit yang tiada tara. Seketika orang-orang yang tadi begitu percaya diri kini mundur alon-alon. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Keluh mereka semua dalam hati saat melihat sebuah jari kawan mereka telah putus hingga menyebabkan kucuran darah. (Aku nulis ini padahal sambil makan 😂😂 untung tetep terasa enak)
"Sebuah jarimu yang hilang adalah salam pertemuan pertama dariku. Jika ada yang lebih membuatku kesal, maka nyawa kalian yang akan melayang!" Kei masih berdiri tak bergeming sedikitpun membuat mereka semua berlutut.
"Ampun Tuan. Maafkan kesalahan kami. Kami tidak berani lagi. Mohon maaf Nona jika kawan kami telah bersikap kurang ajar padamu. Aku mohon lepaskan dia karena dia telah mendapatkan balasannya," ucap salah seorang preman yang menyadari jika dirinya dalam bahaya.
Elena bungkam. Dia kemudian menoleh kearah Rendy yang masih dengan ekspresi yang sangat sulit untuk dijelaskan. Elena menggangguk. Kemudian para preman itu pergi meninggalkan restaurant tersebut. Serta tidak lupa membawa kawan mereka yang terluka.
Aku harus menyelidiki siapa paman Rendy dan tuan Kei. Kejadian ini menyiratkan mereka bukanlah orang yang sembarangan. Batin Elena.
__ADS_1
Tanpa mereka bertiga sadari sepasang mata terus mengawasi mereka. Namun yang lebih dominan adalah tatapan setajam elang itu terfokus pada Elena. Siapa orang itu? Jawabannya hanya di novel di bawah ini. Permaisuri yang agung lanjut makan lalu bobok. Salam sayang dari Permaisuri 😘😘