
"Uhuk." Elena terbatuk begitu mendengar pertanyaan yang diluar dari rencananya.
"Bruft." Begitu pula dengan Rendy yang ikutan tersentak kaget mendengar penuturan Ardan. Seakan rencananya membawa Elena gagal total.
Gagal total. Sesal Rendy dalam hati.
Ini sih senjata makan tuan namanya. Rutuk Elena dalam hati.
"Ada apa dengan kalian berdua? Kalian tak sedang menyembunyikan apapun bukan?" tanya Ardan curiga yang melihat reaksi keduanya.
"Ma-mana mungkin Ayah!" jawab Rendy dengan sedikit terbata.
"Lalu kenapa reaksi kalian seperti itu? Bukankah wajar jika sepasang kekasih pada akhirnya menikah? Ayah kan hanya bertanya saja, kapan kalian berdua menikah? Mengapa kalian berdua kaget begitu?" tanya Ardan.
Dih bener juga. Kenapa aku serba salah sih? Emang bawa nih cewek sama-sama bikin si*l. Kalau gitu napa aku mungut nih cewek sih? Gerutu Rendy dalam hati. Lelaki itu menoleh kearah Elena. Membuat Elena memutar kedua bola matanya kesal. Lantaran, dirinyalah yang pada akhirnya harus mencari jalan keluar sendiri.
"Bukan begitu Om. Rendy baru saja mengenalkan saya kepada keluarga ini. Tetapi dengan cepatnya anda menanyakan perihal menikah. Bukankah seharusnya anda mengenal baik saya? Lagipula, anda sama sekali belum menanyakan perihal saya dari keluarga mana. Lalu, saya ini berasal dari keluarga menengah kebawah. Saya tak terlalu berharap nantinya akan mendapat sambutan yang luar biasa hangat seperti ini." Elena menundukkan kepalanya. Membuat Mariani bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
Hebat ... Sedetik yang lalu dia makan tanpa beban. Sekarang dia membuat semua orang seolah memojokkannya yang berasal dari kalangan biasa. Elena ... Aku akan mencari tahu tentang masa lalu yang kau sembunyikan. Rendy membatin. Dia begitu memuji akting dari gadis yang memiliki sejuta rahasia itu.
"Hei Nak. Kenapa kau berbicara seperti itu? Ini masalah hati. Dua hati yang saling mencintai. Lebih baik diikat menjadi satu jalinan yang suci. Jangan khawatirkan itu semua. Karena restu dari kami berdua telah ada untuk hubungan kalian kedepannya. Jadi bisakah kami secepatnya bertemu dengan kedua orangtuamu?" tanya Mariani. Kini gantian Elena yang terkesiap kaget.
Setan! Kenapa malah aku yang ada diujung tanduk gini? Beneran ini senjata makan tuan namanya.
"Bolehkah saya membicarakan terlebih dahulu dengan kedua orangtua saya?" tanya Elena. Gadis itu meremas ujung gaunnya.
"Memang anak yang berbakti. Bicarakan lebih dulu niat baik keluarga Wijaya. Jika kedua orangtuamu mengijinkan maka kami sekeluarga akan segera meminangmu," tutur Ardan Wijaya sebagai seorang kepala keluarga.
Setelah pembicaraan yang sengit itu, mereka semua kembali melanjutkan makan malam dalam diam. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu sedikit memecah kesunyian.
Elena memandang keluar jendela. Pemandangan diluar menampakkan semarak rutinitas pagi hari. Pagi-pagi buta dirinya dan Rendy segera berpamitan untuk pulang dan kembali ke London. Kedua muda mudi itu membisu dan menulikan telinganya masing-masing. Terlebih Elena, gadis itu begitu dongkol karena harus dipojokkan berulang kali. Disaat dirinya dipojokkan itulah Rendy sama sekali tak membantunya. Lelaki itu justru membutakan semua panca indranya.
"Paman! Ayo kita cari perhitungan!" teriak Elena memecah sunyi. Rendy menoleh kearah Elena dan memberikan tatapan tajam.
"Apa?" tanya Rendy acuh.
__ADS_1
"Kau harus membayarku dua kali lipat!" Elena menunjukkan 2 jemarinya kearah Rendy.
"Jelaskan! Mengapa aku harus membayar dobel?" Rendy menyilangkan kedua tangannya didada bidang miliknya.
"Kau membuatku hampir mati Paman! Kau bahkan tak membantuku sedikitpun dari kecurigaan kedua orangtuamu!" Kata Elena sengan nada kesal.
"Hei ... Dengar ya. Kamu tahu kan didunia ini nggak ada yang gratis?" tanya Rendy.
"Tahu dan sangat mengerti hal itu! Jangan diingatkan lagi!" Elena menghadap Rendy. Kini keduanya saling berhadapan.
"Kau tahu itu. Tapi mengapa kau sekarang protes padaku? Dengar, menjadi tunanganku itu sebuah pekerjaan untukmu. Kemudian kita ibaratkan saja aku ini majikan. Kau pembantuku atau orang yang bekerja padaku. Nah selama kamu bekerja adalah kegiatan seperti yang tadi malam bukan?" tanya Rendy mencoba memastikan.
"Tentu saja. Maka dari itu bukan, aku ini berpura-pura sebagai tunangan kontrakmu. Jadi tadi malam itu adalah hari pertamaku bekerja. Lalu apa hubungannya dengan perihal aku protes masalah gajiku?" tanya Elena dengan kesal.
"Bukankah ada jawabannya? Tadi malam adalah hari pertamamu bekerja. Sebagai seorang yang bekerja padaku, pada saat jam kerja bukankah aku tak punya kewajiban untuk ikut campur situasi dan kondisi mu? hei... Jangan lupakan akulah yang akan membayar mu bukankah begitu?" Rendy kini malah melontarkan pertanyaan dengan nada kesal.
"Oh benar juga ya ini kerjaanku Paman. Kenapa aku lelet sekali ya," gumam Elena sembari sejenak termenung.
__ADS_1
"Makanya pinter sedikit," sahut Rendy. Lelaki itu kini kembali keposisi semula.
"Tapi kan aku nggak ngerti cara kerjanya jadi tunangan kontrak. Apalagi aku kan jomblo akut. Kenapa aku merasa masih dibohongi ya?" gumam Elena dengan lirih.