Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 172


__ADS_3

"Papa,"


Smith segera menoleh kearah sumber suara. Matanya menatap Rianna yang menangis tanpa suara. Dia menggelengkan kepalanya.


Tidak mungkin. Kau hanya salah dengar saja.


Smith melanjutkan kembali membuka handle pintu saat melangkahkan kakinya diambang pintu, dia kembali mendengar suara yang memilukan.


"Papa!" Rianna berteriak histeris. "Jangan tinggalkan aku!"


Smith segera berbalik dan memeluk Rianna. Membenamkan kepala gadis itu kedalam pelukannya. Kemudian mereka berdua menangis bersama. Ani yang melihatnya pun meneteskan air matanya.


Sepertinya Rianna sudah lebih baik. Aku bahagia melihat mereka berdua bersama kembali.


"Maafkan papa,"


Rianna masih terisak. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


"Terima kasih Nak. Terima kasih,"


"Sama-sama tuan. Rianna berhak bahagia,"


***


"Hei ! Gadis aneh! Kenapa lampunya dimatikan?!"


"Kau mau atau tidak! Kita lakukan dengan cepat! Aku ingin segera pulang dan berkumpul dengan semuanya!"


"Tapi aku suamimu! Aku berhak mendapatkannya! Kenapa kau malah mematikan lampunya?"


"Hei kadal buntung! Diamlah! Kenapa kau berisik sekali?" Agnes berdecak kesal. Kemudian dia merangkak keatas tempat tidur.

__ADS_1


"Nyalakan lampunya! Aku tidak bisa melihatmu!" masih di atas tempat tidur sembari berteriak.


"Kau kan bisa meraba! Aku ada di sampingmu kadal buntung!"


"Gadis aneh! Kau nyalakan lampunya tidak?"


"Tidak! Kau mau jatahmu apa tidak? Kalau mau jatahmu ikuti saja aku! Jangan banyak bicara!"


"Kau sinting? Ini sangat gelap!" meraba-raba sekitarnya.


Entah apa yang terjadi namun tangan Dion tiba-tiba tersentak.


"Aduh!"


"Kau pegang apa?!"


"Ya mana aku tahu! Aku pegang empuk-empuk gitu kayaknya mantap juga,"


"Aduh!"


"Kau sinting! Itu gunung kembarku! Kau benar-benar bang***!"


"Dasar cewek gila! Gimana aku tau? Aku udah bilang kan ini gelap! Gimana kita mau mantap-mantap?" Dion rasanya frustasi. Bagaimana bisa mereka bulan madu tetapi istrinya memilih gelap-gelapan. Bukan hanya itu saja. Dion bahkan harus menahan emosi lantaran pukulan istrinya sendiri. Hanya gara-gara dia salah pegang. Lalu bagaimana yang benar? Bukannya memang begitu orang melakukan hubungan suami istri? Lah ini rasanya dia seperti serba salah saja.


"Sudah, jangan banyak bicara cepat lepaskan bajumu! Aku juga akan melepaskan bajuku!" Agnes segera melepas semua pakaiannya.


"Gila!" umpatan kembali terdengar dari mulut Dion. Rasanya dia benar-benar gila sekarang karena harus menuruti permintaan istrinya.


"Lakukan dengan cepat! Aku ingin mengakhiri bulan madu sial** ini!"


"Kau sinting! Milikku bahkan belum bisa berdiri! Bagaimana bisa masuk kelubangmu?"

__ADS_1


"Ya sudah cepat buat berdiri atau aku akan menendang telurmu hingga menetas!"


"Yang benar saja! Kau laki-laki apa seorang gadis sih? Beneran deh! Bisa gila aku lama-lama!" Dion mengacak rambutnya frustasi.


"Kau bilang aku harus segera hamil agar mereka tak lagi menuntut kita macam-macam!"


"Kau gila? Bagaimana bisa mantap-mantap kalau senjataku saja belum bisa berdiri?!"


"Kau kan playboy kadal buntung! Jangan tanya aku! Aku ini masih orisinil! Kau cari saja cara untuk membuatnya berdiri!"


"Apa aku harus memperkosamu?"


"Kau mau mati ya?" mengayunkan sebuah guling yang ada di dekatnya sekuat tenaganya. Alhasil Dion yang berada di sisi tepi ranjang pun akhirnya terjungkal ke atas lantai.


"Aduuh," keluh Dion.


"Kau dimana siala**?" Agnes pun meraba-raba sekitar. Rasanya tidak ada siapapun.


"Kau! Dasar istri durhaka! Bagaimana bisa kau membuat suamimu babak belur dimalam bulan madu?! Kau benar-sinting!"


"Sudahlah. Kau jangan membuang waktu! Ayo mantap-mantap ini sudah jam berapa? Kau membiarkan aku telanj***!"


Siala* dari tadi aku terus-terusan dihajarnya. Sepertinya aku harus segera menerkammu! Sudahlah... gak perduli meski aku harus babak belur. Ini sudah tanggung. Lele beruratku sudah berdiri begitu dia mengatakan dirinya telanj***.


"Sudahlah kau ikuti saja arahanku!"


Segera Dion mencengkram tubuh Agnes menguncinya dan kemudian mengikat kedua tangannya diatas ranjang. Dia melakukannya dengan cepat.


"Kau gila kau brengs**! Apa yang kau lakukan?! Kau memegang apa?!"


Tanpa perduli umpatan dan tendangan dari Agnes. Dion melancarkan misinya, membuat bobol mahkota berharganya. Tak peduli lagi rintihan dan raungan istrinya dibawahnya.

__ADS_1


Kalau dia menghajarku nanti. Biar saja aku tak perduli. Bonyok bonyok deh. Kepalang basah. Aku menginginkan lubang miliknya.


__ADS_2