
Smith keluar dari ruangan pengap itu dengan perasaan yang aneh. Saat dia menatap netra biru milik gadis yang tak berdaya itu. Tatapan mata yang tajam dan tegas. Seolah menyiratkan bahwa gadis itu adalah seorang yang memiliki aura ketegasan. Tatapan tajam dari gadis itu seolah menghunus pedang tajam dihatinya. Meninggalkan suatu gelenyar aneh yang tidak biasa.
"Ambil posisi masing-masing. Kita tidak memiliki cukup amunisi jadi kalian harus menghematnya. Pakai disaat yang terpenting saja," Smith sudah sampai ditempat yang terdapat monitor cctv. Disana dia dapat melihat adegan-adegan yang sangat dikenalnya. Mereka baku hantam saling menyakiti dan bertahan satu sama lain. Membawa senjata tumpul maupun senjata tajam jangan lupakan sebuah pistol yang terselip dibalik jaket mereka.
Disisi lain....
"Eh ta* ayam lu kenapa sih? Padahal gue udah bawa mobil pelan. Pelang banget malah," Kevin mendengus kesal lantaran Ardan kembali muntah. Lagi-lagi tanpa aba-aba Ardan kembali mengeluarkan semua yang ada didalam perutnya. Mengabaikan omelan Kevin yang membuat telinganya sakit.
Seharian ini bahkan ada sesuap nasi pun masuk kedalam perutnya. Karena setiap suapan yang dia masukkan kedalam mulutnya selalu berakhir diwastafel. Tak satupun yang berhasil masuk kedalam perutnya. Padahal hari ini mereka ada penyerangan penting untuk menyelamatkan Rianna. Tapi lihatlah belum ada separuh dari perjalanannya Ardan kembali mabuk. Kevin yang sudah tak sabar dengan kembalinya mereka berkolaborasi mendengus kesal.
Entah yang keberapa kalinya Kevin mengumpati Ardan. Mengatai ta* ayam hingga pantat ayam sekalipun. Sedangkan Agnes dan Dion sudah meluncur ke lokasi Rianna disekap. Kevin mengacak rambutnya frustasi. Ini sudah jam 1 siang tapi Ardan masih saja betah dengan kebiasaan barunya.
__ADS_1
"Awas aja lo Vin elo belum aja ngrasain kayak beginian. Rasanya udah mau mati perlahan aja,"
"Ckckckk tau ah dasar pantat ayam," menjauh dari Ardan. Ingin rasanya Ardan mencekik leher Kevin dan mengatainya serta memberikan bogeman mentah untuknya. Namun sayang untuk berdiri saja dia sudah tidak kuat.
"Vin, gimana mereka udah sampai?"
"Udah, gue udah dapat kabar dari Zack mereka sudah bertempur. Loe masih kuat nggak? Kalau nggak mending kita pulang aja. Kayaknya percuma juga elo turun tangan," Kevin tak tega melihat wajah Ardan yang pucat pasi itu.
"Iya gue ngerti. Tapi loe udah sehat? Mau disini apa lanjut?" tanya Kevin dengan hati-hati.
"Lanjut aja. Eh coba deh gantung ini," Ardan mengeluarkan pengharum ruangan dengan aroma strowberry. "Gue suka bau ini Vin,"
__ADS_1
Sebenernya gue merinding liat Ardan lebih suka wangi strawberry. Nggak sinkron banget sama wajah dan kelakuannya yang sangar. Tapi yah kasian juga jika harus liat dia udah kayak orang mati, pucet begitu.
Kevin segera mengganti pengharum ruangan dari yang beraroma bunga ke aroma buah strawberry. Kemudian mereka segera melanjutkan perjalanan.
Sudah tiga puluh menit berlalu tapi Ardan baik-baik saja. Kevin menautkan kedua alisnya. Lalu kenapa tadi baru jalan sebentar Ardan udah mabok darat aja sih? Batinnya.
Saat mereka sampai dilokasi. Mereka sudah tercerai berai. Entah itu anak buah pihak Ardan maupun anak buah Smith. Namun begitu memasuki rumah bak istana itu Ardan melihat Zack dan Kaisar sedang bergelut keduanya melawan anak buah Smith yang sudah memiliki level tinggi. Saat Zack dan Kaisar melihat kedatangan Ardan mereka memberikan isyarat agar segera memasuki ruangan selanjutnya.
Terlihat dua orang yang sangat dikenalnya. Siapa lagi jika bukan Agnes dan Dion. Saat Kevin dan Ardan sampai Agnes dan Dion saling memunggungi dengan dikepung sekitar enam orang bertubuh kekar. Tidak ada jalan keluar namun diluar dugaan Agnes melompat dari kedua tangan Dion dan Agnes bersalto ria diudara setelahnya gadis itu memberikan tendangan telak tepat diwajah pria berbadan kekar itu. Tentu saja kolaborasi enam orang itu pecah. Seketika Dion melayangkan tinju boxingnya disertai beberapa tendangan tekondow yang dipelajarinya.
Dua orang yang saling menolak pada akhirnya mampu berkolaborasi tanpa rencana apapun.
__ADS_1