Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 85


__ADS_3

Disebuah ruangan.....


"Apa ini sekretaris Herman?" Tanya Marzuki penuh tanya. Dia heran lantaran di akhir pekan dia dipanggil ke kantor. Bahkan yang membuatnya lebih heran lagi adalah kehadiran para pemegang saham.


"Jawabannya ada di map coklat ini tuan Marzuki. Saya harap anda tahu langkah selanjutnya." Tegas sekretaris Herman.


Dengan perlahan Marzuki mengambil map coklat yang disodorkan oleh sekretaris Herman. Kemudian dia memandang sejenak ke arah sekretaris itu.


"Begitu pula dengan kalian semua yang hadir di sini silahkan buka map coklat yang ada di depan kalian." Herman masih berbicara dengan tenang namun tegas.


Baiklah ternyata bukan hanya Marzuki saja yang mendapat map coklat itu.


Ada apa ini? Kenapa tatapan Herman sangat menakutkan.


Map berhasil dia buka. Begitu pula dengan semua yang hadir di ruangan itu.


"I....i...ini....." Tangannya seketika gemetar. Keringat dingin mulai mengalir secara perlahan.


"Sepertinya memang andalah yang paling tau jawabannya tuan Marzuki." Kata seorang pemegang saham yang memang tak suka dengan perangai Marzuki. Sepertinya dengan kejadian ini dia bisa menendang Marzuki dari perusahaan Wijaya.


"Jika diteruskan sepertinya anda akan menjadi-jadi. Lebih baik segera anda tinggalkan tempat ini. Saya yakin anda bahkan tak akan memiliki apapun disini lagi. Cepat atau lambat."


"Ti....tidak !! Saya...."


"Jika tuan muda Ardan yang melihat hal ini. Resiko yang anda tanggung akan lebih besar dari ini. Hal yang benar-benae akan sulit untuk diampuni. Korupsi." Herman menekankan kesalahan Marzuki.


Habis sudah.


Marzuki menundukkan kepalanya. Hatinya gelisah. Tubuhnya lemas.


"Tapi saya punya tawaran terakhir untuk anda. Jika anda menyetujuinya maka saya akan melepaskan anda. Dan membiarkan anda bebas. Jika anda tak menyetujui ini maka keputusan terakhirnya adalah berakhir di kantor polisi."


Marzuki menegakkan kepalanya. Keputusan yang sangat berat. Tapi dia masih penasaran tawaran apa yang ditawarkan Herman.

__ADS_1


"A..a..apa tawaran anda tuan?" Tanya Marzuki. Setidaknya dia harus tahu dulu tawaran apa itu.


"Sahammu akan dibeli oleh tuan muda Ardan. Dengan harga ini. Silahkan dibuka." Sekretaris Herman memberikan sebuah dokumen. Membuat mata Marzuki membulat.


"Tuan apa ini tidak salah? Kenapa harga sahamku anjlok?"


"Hei Marzuki kau kan korupsi masih baik tuan muda membeli sahammu. Daripada kau berakhir di penjara." Cetus Angga.


Kenapa bisa jadi begini. Benar lebih baik aku menjualnya aku masih dapat uang. Daripada aku harus berakhir di penjara.


"Baiklah tuan. Saya akan tanda tangan." Marzuki akhirnya menandatangani dokumen pengalihan itu. Dia hanya terfokus pada nilai uang yang akan menjadi miliknya. Namun dia melupakan siapa penerima pengalihan saham itu.


"Bagus." Herman menyeringai.


*Saya menyelesaikan tugas saya dengan baik tuan muda.


💕💕💕*


"Aduh mas. Aku mau beli es krim. Lihat cafe itu." Jari telunjuk Monica menunjuk sebuah cafe kecil yang ramai pengunjung. "Sepertinya enak."


"Jangan seperti anak kecil. Kita bisa kesana dengan santai." Oceh Kevin sembari melangkahkan kakinya menuju cafe es krim.


"Apa?! Hei mas Kevin kau benar-benar menyebalkan ya." Teriak Monica. Namun Kevin tak menggubrisnya. Dia tetap dengan santai melangkah ke cafe tersebut.


" Mau yang rasa apa?"Tanya Kevin.


"Ah yang coklat mas. Yang itu banyak coklatnya." Tunjuknya pada papan menu.


"Oke. Carilah tempat duduk." Kevin beranjak memesan es krim yang dipilih Monica dengan sabar.


Beberapa saat kemudian Kevin berusaha mencari dimana Monica duduk. Ya ketemu gadis itu melambaikan tangannya.


"Sudah?"

__ADS_1


"Kau benar-benar gak sabaran ya." Ledek Kevin.


"Apanya?" Monica menautkan kedua alisnya.


"Tadi kau hampir saja jatuh hanya untuk es krim."


"Biarinlah."


"Hah ... Kau itu seorang gadis tapi makanmu benar-benar. Hanya melihat es krim saja sudah seperti anak kecil lari-lari."


"Oh jadi mas Kevin gak ikhlas nih kesini sama aku?"


"Bukan!! Seharusnya kamu bisa lebih hati-hati."


Obrolan mereka terhenti karna seorang pelayan mengantarkan pesanan Kevin.


"Ini untukmu." Menyodorkan es krim dengan porsi besarnya kearah Monica. Sedangkan untuk dirinya sendiri dia memilih porsi normal.


"Hmmm. Mas Kevin gak pesan kayak punyaku?"


"Aku porsi normal." Jawab Kevin dengan entengnya. Kemudian mulai menyendokkan es krim ke dalam mulutnya.


"Mas Kevin ngledekin aku ya?" Sesaat Monica menghentikan aktivitasnya yang manakala itu mulai menyendok es krim miliknya.


"Enggak. Bukannya makanmu selalu banyak. Aku takut aja nanti kamu kurang."


"Iya makanku banyak tapi bisa bikin mas Kevin suka. Jangan ngledekin aku!!!" Dengan kesal mulai menyendok es krim itu kedalam mulutnya.


Huh bilang aja kalau aku rakus !! Enak aja. Lagian kamu suka Lo sama yang rakus gini.


💕💕💕💕


Jangan lupa vote. Biar author lebih semangat.

__ADS_1


__ADS_2