
"Sayang..... bisakah kau serahkan tubuhmu malam ini padaku?" Ardan mencium pundak istrinya lembut. Membuat istrinya geli.
Apa mas Ardan meminta izin untuk jatahnya? Huft.... Ani.... ingat kamu harus memberikan semua kehidupanmu untuk suamimu cepat atau lambat.
"Iya mas Ardan."
Ardan mengangkat kepalanya tak percaya. Mencoba mendengarkan sekali lagi apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
"Katakan sekali lagi?."
"Aku akan memberikan jatah buat mas selama ini."
Ardan kemudian membalikkan tubuh istrinya. Diciumnya bibir ranum milik sang istri. Memagut lembut. Awalnya Ani meragu. Namun lama kelamaan dia membalas ciuman suaminya itu. Masih dibawah guyuran shower mereka memulai adegan panas.
"Mas.... mas Ardan kita pindah kekamar saja yuk. Masa main disini?"
Ardan mengangguk. Kemudian dia menggiring istrinya menuju tempat tidur.
****
Pukul 02:17 dini hari.
__ADS_1
"Pakailah ini." Ardan memberikan pakaian tidur untuk istrinya.
"Apa ini? Mas aku kedinginan tau !!! Kenapa malah ngasih yang kurang bahan gini sih !!" Teriak Ani dari balik selimut. Dia membungkus seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal yang hanya menyisakan bagian wajahnya. Bisa dipastikan dia sudah seperti telur gulung sekarang.
"Ada selimut !!!!" Jawab Ardan dengan entengnya.
"Mas !!!"
"Kenapa? Gak suka sama pilihan mas?" Ardan berkacak pinggang menantang istrinya. Pasalnya dia kesal karna sang istri menolak pakaian tidur yang sudah ia siapkan. Bagaimana tidak yang dia siapkan lebih tepatnya adalah lengirie bukan pakaian tidur yang biasa Ani pakai.
"Aku kedinginan mas !!! Masa mas gak kasihan sama aku?" Ani memelas. Dia masih memakai handuk sambil menahan tubuhnya yang sudah dingin karna mandi plus plus tadi. Apalagi diterpa dinginnya AC membuatnya semakin menggigil saja.
"Nanti kita olahraga lagi kalau masih dingin !!!!"
Mata Ani melotot. Bagaimana bisa suaminya berkata seperti itu dengan lantangnya. Bagaimana jika ada pelayan yang mendengarnya? Ani masih dengan pikirannya sendiri.
"Sudahlah aku pakai saja dari pada makin runyam."
"Apa maksudmu?"
"Bukan apa-apa mas."
__ADS_1
"Ani !!!"
"Mas Ardan !!!"
"Hei !!! Kau berani meninggikan suaramu padaku hah?!"
Ani kemudian menyadari kesalahannya. Ditutupnya mulutnya dengan kedua tangannya. Laki-laki didepannya ini benar-benar bisa membuatnya sakit kepala. Kadang saat dia melunak melihatnya saja benar-benar tenang. Tapi kalau dia pasang wajah galak. Rasanya dia kepingin minggat dari hadapan suaminya itu.
*****
"Sayang aku mencintaimu."
"Mas selalu mengatakannya setiap hari. Gak lelahkah?"
"Tidak. Dan selamanya pun tak akan pernah lelah. Lalu bagaimana denganmu?" Ardan memeluk erat tubuh istrinya. Hatinya benar-benar bahagia. Wanita pujaannya kini sudah memberikan hatinya untuk dirinya. Setidaknya menjadi langkah awal untuk hubungan mereka.
"Aku?" Membalikkan tubuhnya. Kini wajah mereka beradu. Ani tersenyum kemudian membelai dada bidang milik suaminya. "Aku juga mulai mencintaimu mas. Setelah apa yang mas berikan untukku. Itu semua membuka hatiku. Aku tau mas benar-benar tulus padaku. Dan aku yakin seiring bertambahnya waktu. Aku akan memberikan seluruh hidupku untuk mas dan Rendy. Terima kasih karna telah hadir dalam hidupku dan juga Rendy. Aku mencintaimu mas." Ani mengecup perlahan bibir suaminya.
"Aku berjanji akan membahagiakanmu dan juga Rendy. Kalian benar-benar mutiara dalam hidupku." Memeluk erat tubuh istrinya.
"Aku tak bisa menjanjikan apa-apa buat mas Ardan. Tapi aku hanya bisa menjanjikan sebuah kesetiaan."
__ADS_1
Ardan menarik ujung bibirnya. Membentuk sebuah senyuman. Hatinya hangat. Benar-benar memabukkan yang namanya cinta itu.