Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 450. Apa itu?


__ADS_3

"Honey? Bisakah kita ke rumah sakit? Wajahmu pucat." William menggenggam tangan Sabrina. Kini mereka berada di dalam kamar. Sabrina terlebih dahulu merebahkan tubuhnya di ranjang.


Sabrina menggelengkan kepala. "Tidak usah. Aku hanya lelah. Aku kesal melihat Anggi sangat gatal keada suamiku. Sangat mengesalkan."


William tak mampu menjawab. Apa yang dikatakan oleh Sabrina terlalu menusuk hatinya. Sabrina menarik kembali tangannya. Kemudian tidur membelakangi posisi William. Pria itu menghela napas. Sekalipun dalam benak ia ingin bertanya, namun ia urung. Melihat wajah Sabrina sangat jelas jika raut wajahnya sangat kelelahan.


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. William kembali mengamati sosok Sabrina yang sepertinya telah tertidur. Ia pun bangkit. Membuka pintu ke arah balkon. Mencari angin agar dada yang sesak sedikit lega. Tak urung ia khawatir. Terlalu lama ia telah jatuh dalam pesona Sabrina yang apa adanya. Tak hanya itu, Sabrina juga memiliki pembawaan yang tenang. Terbukti saat ia menghadapi wanita seperti Anggi.


"Sabrina, kuharap kau baik-baik saja." William menggumam.


Pria yang mengenakan piyama tidur senada dengan milik Sabrina memutar tumitnya kembali. Ia harus menguatkan sang istri agar bisa sedikit lebih baik. William menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Pria itu membalikkan tubuh, lalu melingkarkan tangannya di perut Sabrina. William tersentak.

__ADS_1


"Tunggu, apa itu?" William kini terduduk di ranjang.


Ia tidak salah. Seperti sengatan listrik ketika tangan kekar William melingkar di perut Sabrina. William mengerjapkan mata berulang kali. Degup jantung pria itu terpompa lebih kencang. Sekali lagi, William memandang tubuh yang tergolek lemah tak berdaya itu.


"Sudahlah. Mungkin itu hanya perasaanku saja." William kembali merebahkan tubuh di samping Sabrina. Ia menyelimuti Sabrina dan mulai memejamkan mata.


Pagi harinya, William menggeliat pelan di ranjang. Tatkala mendengar sesuatu yang mengusik tidurnya. Tangan William meraba sisi lain ranjang. Ketika tak mendapati tubuh sang istri, seketika kedua mata William melebar. Benar saja, Sabrina tak ada di sana. Sebelum menemukan istrinya, William mendengar seseorang di kamar mandi. Pria itu bangkit dan berlari menuju wastafel.


Di sela-sela Sabrina mengeluarkan isi perutnya, ia pun berkata, "Pergilah. Ini menjijikkan."


William tak mengindahkan kata-kata Sabrina. Ia memilih mencari minyak kayu putih dan mengoleskannya ke tengkuk leher Sabrina. Setelah selesai, William menggendong tubuh Sabrina menuju ranjang.

__ADS_1


"Aku akan panggilkan dokter. Jangan membantah lagi." William bangkit lalu meraih handphonenya di nakas. Pria itu segera menghubungi dokter sekaligus teman lama William.


"Honey, kau bertahanlah. Apa keluhanmu, Honey?" William menggenggam tangan Sabrina dan mencium dengan lembut.


Tiba-tiba pintu terbuka. William menoleh dan melihat Artur ada di sana. Remaja itu sudah rapi. Sepertinya sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Memang, semenjak berhubungan baik dengan Sabrina, tingkah Artur lebih baik. Ia tak lagi membuat ulah, ataupun sekedar membolos.


"Ayah? Kenapa belum turun untuk sarapan?" tanya Artur. Ia melangkah mendekati ranjang. "Mama sakit? Belum ke rumah sakit untuk periksa? Kenapa Mama bebal sekali?"


"Aku sudah menghubungi Dokter Aldric. Nanti absenkan Mamamu ya? Dia memang ngotot untuk tidak dibawa ke dokter. Ya beginilah, akhirnya orang yang ngotot. Tidak tahu sakit apa, dan pasti akan membuat keadaan lebih parah." William berbicara dengan nada kesal.


"Mama memang limited edition. Ayah tahu itu. Dia tidak takut maut, malah takut dokter. Ya sudah, Artur berangkat dulu." Artur pun bangkit. Ia mencium punggung tangan William dengab takzim. Kemudian beralih kepada Sabrina. Ia melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Pergilah, kau hanhmya akan meledekku." Sabrina mengatakannya tanpa membuka mata. Cukup kesal dengan kata-kata Artur yang mengejeknya.


__ADS_2