Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 429. Aretha Histeris


__ADS_3

Sabrina tak mampu berkata-kata. Di depan kedua matanya sendiri ia melihat Aretha yang memberontak ketika 3 orang dokter dan beberapa perawat menanganinya. Aretha terus saja menangis. Atau sesekali ia tertawa sumbang dan memilukan. Sabrina menutup mulutnya lantaran tak mampu berkata-kata. Rasanya menyakitkan melihat gadis yang terholek tak berdaya perlahan kehilangan kewarasannya.


"Kumohon. Cepatlah pulih seperti sedia kala. Aku ingin menebus kesalahanku." Sabrina membatin seraya masih terisak.


Julia hanya mampu memandang Sabrina dengan raut yang tak bisa diartikan. Ia tahu jika Aretha adalah sahabat Sabrina. Namun Julia tidak menyangka jika Sabrina akan tulus berteman dengan Aretha. Bahkan Sabrina ikut merasakan kesedihan yang sedang didera Aretha.


"Nona Sabrina? Apa Anda ingin berada di sini?" tanya Julia. Ia memecah keheningan. Hanya riuh para dokter yang sedang menangani Aretha masih terdengar jelas di telinga.


"Aku takut, Julia. Aku takut Aretha tidak akan sembuh. Aku harus bagaimana? Tadi kamu dengar sendiri bukan? Jika Aretha mengalami trauma berat. Dia ketakutan melihat orang. Bahkan dia juga ketakutan melihatku. Aku tidak tega, Aretha harus mengkonsumso obat dalam jumlah yang banyak. Sial*an! Jarum akupunturku hanya berguna untuk membunuh ataupun membuat pingsan orang! Argh!" Sabrina menarik rambutnya kasar.


"Jarum akupuntur? Pengobatan metode Tiongkok apa sudah dicoba?" Pertanyaan dari Julia membuat Sabrina terdiam.

__ADS_1


"Benar juga." Sabrina menghapus air matanya. Lalu ia mengambil ponsel yang ada di dalam tas kecil miliknya. Sabrina mulai menghubungi seseorang. "Ben, siapkan pesawat jet pribadi. Malam ini aku ingin pergi ke China. Bagaimana? Apa kau bisa menyiapkannya segera?"


"Nona Sabrina ingin pergi ke China?" tanya Ben di ujung seberang.


"Jika aku memng menghubungimu untuk itu, bukankah benar aku akan pergi ke China? Aku ingin mencari seseorang di sana. Bisa siapkan segera dan jangan membantah? Tenang saja. Aku akan membawa Julia!" Sabrina menekankan satu nama di terakhir kalimatnya.


"Julia? Baiklah, Nona Sabrina. Saya akan siapkan segera!" Ben mengakhiri sambungan telepon.


"Nona akan mengajakku ke China?" tanya Julia seolah tak percaya.


Sabrina mengambil udara sebanyak-banyaknya. Perlahan ia menghembuskannya. "Ya. Apa kau akan membantahku?"

__ADS_1


Julia menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak, Nona Sabrina. Saya akan mengikuti perintah Anda. Apa lagi yang harus saya siapkan, Nona?"


"Antar aku ke Xander Grup. Aku harus meminta izin kepada seseorang terlebih dahulu. Atau aku akan dihukum." Sabrina menatap sendu ke arah Aretha yang ternyata telah memejamkan kedua matanya kembali. Seorang dokter berjalan ke arah Sabrina.


"Nona Sabrina. Anda tidak usah khawatir. Kami akan bekerja semaksimal kami. Semoga Nona Aretha segera sembuh." Seorang dokter berbicara kepada Sabrina. Sabrina melirik name tag di dada dokter tersebut. Dokter Linda.


"Terima kasih, Dokter Linda. Saya tahu Anda Dokter yang akan bekerja dengan sebaik mungkin. Saya titip Aretha. Jaga dia untukku. Kalau begitu saya permisi." Sabrina memutar tumitnya setelah mendapat jawaban anggukan kepala dari Dokter Linda.


Mobil yang dikemudikan Julia memasuki halaman parkir perusahaan Xander Grup. Sabrina segera turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam perusahaan. Di belakangnya, Julia mengekor tanpa bersuara lagi. Sabrina terus melangkahkan kakinya menuju ruangan presdir.


Ketika pintu terbuka, terlihat Ara memakai baju atasan yang cukup ketat dengan menampakkan dad*nya yang menantang meski dibalut pakaian. Ara sedang membungkuk dan seolah posisinya itu sedang memamerkan miliknya yang cukup menyegarkan mata bagi kaum adam.

__ADS_1


"Ara!" Sabrina meninggikan suaranya. Menyentak dua orang yang ada di dalam ruangan itu. Melihat Sabrina yang dilanda emosi, Ara tersenyum sinis.


__ADS_2