
"Sabrina, sudahlah. Percuma berdebat. Lebih baik kita pulang saja. Ini sudah jam 2 malam. Ayo." William mengusap kedua lengan Sabrina dengan lembut.
"Tapi, Uncle." Sabrina meragu. Masih ingin meminta penjelasan.
"Kita pikirkan ini dengan matang. Jangan gegabah. Musuh sangat kejam dan tak memilih siapa korbannya. Ayo, kita pulang. Jangan membuat polisi semakin penasaran dengan kamu," tutur William.
Sabrina menghela napas. Ia mengangguk pelan dan mengikuti William. Pikiran yang kusut pasti akan membuat situasi semakin kusut. Terlebih, Sabrina memiliki banyak pikiran. Tak ingin Sabrina tertekan, ia menggiring Sabrina untuk segera pulang.
Sabrina segera masuk ke dalam rumah saat motor William telah terparkir sempurna di garasi. Gadis itu membuka sarung tangan dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu, Sabrina menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya menerawang.
"Kenapa harus Aretha?" desah Sabrina.
William melepaskan jaketnya. Pria itu menatap ke arah Sabrina dengan dalam. Tatapan yang kini berubah. Seulas senyuman tipis terbit di bibir William. Pria itu segera melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Menyentak tubuh Sabrina yang tengah melamun.
"Ish, Uncle. Membuatku kaget saja," rutuk Sabrina.
William melingkarkan tangannya di perut Sabrina. Mendaratkan satu kecupan di pipi gadis itu. "Masih memikirkan tadi? Ayolah, ini sudah mau pagi. Lebih baik, kau memikirkan aku. Suamimu ini. Kita selalu saja sibuk dengan kerjaan. Hmm, kau tidak merasa ini dingin?"
"Aku hanya penasaran saja. Siapa yang berani berbuat seperti itu. Ini teror kedua yang aku lihat ada di sekitarku," ucap Sabrina.
William memutar kedua mata. "Kau tidak dingin? Aku merasa dingin."
Di malam yang dingin itu akhirnya keduanya memilih berbagi peluh. Bersama-sama mereguk madu cinta yang bagai surga dunia. Melihat Sabrina yang kelelahan, William mengurungkan niatnya untuk meminta ronde kedua. Pria itu segera membopong tubuh Sabrina menuju kamar mandi untuk mandi junub.
Keesokan paginya, sekitar pukul 8 pagi Sabrina menggeliat pelan di atas ranjang. Kepalanya terasa berdenyut karena serentetan kegiatan yang menyenangkan. Meskipun raganya telah lelah, akan tetapi Sabrina cukup merasakan nikmatnya dari madu yang direguk bersama sang suami tercinta. Dipandanginya wajah tampan dan matang sang suami. Tanpa sadar, Sabrina mengukir senyuman. Hingga sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunan Sabrina.
Gadis itu perlahan membuka slot kunci. Saat pintu terbuka, terlihat Artur sudah bersiap. Dahi Sabrina kini mengerut. Seingatnya ini hari Minggu. Lalu mengapa Artur sudah bersiap?
__ADS_1
"Kupikir hari ini hari Minggu?" Sabrina mengutarakan keheranannya.
"Benar. Tapi bukankah tadi malam kita sudah berjanji dengan Justin dan Dixton akan membahas tugas kelompok?" Mendengar penuturan Artur, Sabrina terlonjak kaget.
"Astaga! Aku lupa, Artur. Kau tidak bilang aku bersama ayahmu kan?" tanya Sabrina was-was.
"Ck! Kau pikir aku tidak waras? Aku masih waras, Sabrina. Segeralah bersiap. Sebentar lagi, teman-teman kita akan datang," ucap Artur seraya pergi meninggalkan Sabrina.
"Ini seperti sidak dadakan! Astaga! Untung aku tidak memiliki penyakit riwayat jantung. Coba kalau punya? Bisa mati berdiri aku," gumam Sabrina.
Gadis itu segera mandi. Ia harus bersiap. Jangan sampai ia kepergok bersama pria yang terlihat dewasa.
"Aku tidak ingin menjadi perbincangan anak-anak jaman sekarang yang bermulut pedas. Bukan tidak mau mengakui statusku sebagai istri." Sabrina membatin gundah.
"Sabrina, sudahlah. Percuma berdebat. Lebih baik kita pulang saja. Ini sudah jam 2 malam. Ayo." William mengusap kedua lengan Sabrina dengan lembut.
"Tapi, Uncle." Sabrina meragu. Masih ingin meminta penjelasan.
"Kita pikirkan ini dengan matang. Jangan gegabah. Musuh sangat kejam dan tak memilih siapa korbannya. Ayo, kita pulang. Jangan membuat polisi semakin penasaran dengan kamu," tutur William.
Sabrina menghela napas. Ia mengangguk pelan dan mengikuti William. Pikiran yang kusut pasti akan membuat situasi semakin kusut. Terlebih, Sabrina memiliki banyak pikiran. Tak ingin Sabrina tertekan, ia menggiring Sabrina untuk segera pulang.
Sabrina segera masuk ke dalam rumah saat motor William telah terparkir sempurna di garasi. Gadis itu membuka sarung tangan dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu, Sabrina menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya menerawang.
"Kenapa harus Aretha?" desah Sabrina.
William melepaskan jaketnya. Pria itu menatap ke arah Sabrina dengan dalam. Tatapan yang kini berubah. Seulas senyuman tipis terbit di bibir William. Pria itu segera melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Menyentak tubuh Sabrina yang tengah melamun.
__ADS_1
"Ish, Uncle. Membuatku kaget saja," rutuk Sabrina.
William melingkarkan tangannya di perut Sabrina. Mendaratkan satu kecupan di pipi gadis itu. "Masih memikirkan tadi? Ayolah, ini sudah mau pagi. Lebih baik, kau memikirkan aku. Suamimu ini. Kita selalu saja sibuk dengan kerjaan. Hmm, kau tidak merasa ini dingin?"
"Aku hanya penasaran saja. Siapa yang berani berbuat seperti itu. Ini teror kedua yang aku lihat ada di sekitarku," ucap Sabrina.
William memutar kedua mata. "Kau tidak dingin? Aku merasa dingin."
Di malam yang dingin itu akhirnya keduanya memilih berbagi peluh. Bersama-sama mereguk madu cinta yang bagai surga dunia. Melihat Sabrina yang kelelahan, William mengurungkan niatnya untuk meminta ronde kedua. Pria itu segera membopong tubuh Sabrina menuju kamar mandi untuk mandi junub.
Keesokan paginya, sekitar pukul 8 pagi Sabrina menggeliat pelan di atas ranjang. Kepalanya terasa berdenyut karena serentetan kegiatan yang menyenangkan. Meskipun raganya telah lelah, akan tetapi Sabrina cukup merasakan nikmatnya dari madu yang direguk bersama sang suami tercinta. Dipandanginya wajah tampan dan matang sang suami. Tanpa sadar, Sabrina mengukir senyuman. Hingga sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunan Sabrina.
Gadis itu perlahan membuka slot kunci. Saat pintu terbuka, terlihat Artur sudah bersiap. Dahi Sabrina kini mengerut. Seingatnya ini hari Minggu. Lalu mengapa Artur sudah bersiap?
"Kupikir hari ini hari Minggu?" Sabrina mengutarakan keheranannya.
"Benar. Tapi bukankah tadi malam kita sudah berjanji dengan Justin dan Dixton akan membahas tugas kelompok?" Mendengar penuturan Artur, Sabrina terlonjak kaget.
"Astaga! Aku lupa, Artur. Kau tidak bilang aku bersama ayahmu kan?" tanya Sabrina was-was.
"Ck! Kau pikir aku tidak waras? Aku masih waras, Sabrina. Segeralah bersiap. Sebentar lagi, teman-teman kita akan datang," ucap Artur seraya pergi meninggalkan Sabrina.
"Ini seperti sidak dadakan! Astaga! Untung aku tidak memiliki penyakit riwayat jantung. Coba kalau punya? Bisa mati berdiri aku," gumam Sabrina.
Gadis itu segera mandi. Ia harus bersiap. Jangan sampai ia kepergok bersama pria yang terlihat dewasa.
"Aku tidak ingin menjadi perbincangan anak-anak jaman sekarang yang bermulut pedas. Bukan tidak mau mengakui statusku sebagai istri." Sabrina membatin gundah.
__ADS_1