Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 451. Aretha Kembali.


__ADS_3

Maaf baru update. Author baru saja sehat dan harus mengurus anak. Mohon pengertiannya. Terima kasih.


~~


Sebuah mobil mewah masuk ke halaman kampus. Semua mata tentu saja mengarah ke sana. Para mahasiswa yang ada di sana cukup penasaran. Pemandangan tersebut memang sudah biasa. Akan tetapi, mobil tersebut sangat menarik perhatian jika harus diabaikan. Sangat mewah dan berkelas.


Artur, Dixton dan Justin berada di sana. Mereka bertiga juga ikut penasaran, mengingat belum ada yang pernah menggunakan mobil sejenis itu. Begitu pula dengan Masya dan Lexi yang tengah mengobrol bersama. Keduanya menatap lekat ke arah mobil mewah itu. Akan tetapi, Artur mengingat desain logo yang ada di mobil itu. Jika tidak salah ingat, itu adalah logo Keluarga Winata. Belum sempat mengingat sepenuhnya, seorang supir terlihat membukakan pintu mobil bagian belakang.


Seorang gadis dengan balutan dress selutut dan sepatu kets berwarna putih keluar dari dalam mobil. Di belakang punggungnya, terlihat tas bermerek Gucci bertengger indah di sana. Rambut lurus dengan ujung bergelombang tergerai indah serta sebuah bandana tersemat di kepalanya. Pelan-pelan dia menarik napas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya. Seulas senyuman terbit di bibirnya dan mengatakan sesuatu kepada sang supir seperti tengah mengucapkan terima kasih kepada sang supir.


"Aretha!" pekik tertahan Justin.

__ADS_1


Semua orang menatap Justin dan kemudian beralih pada sosok yang berjalan pelan menuju ke arah Artur dan dua temannya berada. Semakin mendekat, semakin nyata jika itu adalah Aretha. Artur terdiam melihat sosok yang kini berdiri di depan tiga remaja pria itu.


"Aretha yang asli." Batin Artur.


"Kamu Aretha?" tanya Dixton tak sabar.


Aretha tampak mengangguk. Wajahnya masih sama. Hanya saja wajah dan kulitnya terlihat lebih bersih. Aretha menatap Artur lamat-lamat.


"Em, Sabrina kemana?" Aretha bertanya to the point. Ia merasa tak nyaman karena dua teman Artur menatap lekat dirinya.


Wajah Aretha memucat seketika. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Kecewa. Sabrina benar-benar tak bisa ia temui setelah sekian lama tak bersua. Artur tak sengaja menangkap Aretha menggigit bibir bawahnya sendiri.

__ADS_1


"Sabrina sedang sakit. Mungkin sedang banyak pikiran. Karena opanya baru saja berpulang ke rahmatullah." Artur mengatakannya setelah membaca ekspresi sedih di wajah Aretha.


Gadis itu mendongakkan kepala. Menatap Artur dengan raut takut. Akan tetapi ia tak juga bersuara. Sekalipun hati kecil Aretha ingin menjenguk Sabrina.


"Kau ingin menjenguknya? Mau pergi bersama kami?" tawar Artur.


Senyum cerah terbit di bibir Aretha. Gadis itu mengangguk. Bahkan kedua mata coklatnya berkaca-kaca. Artur paham. Sekalipun Aretha telah berubah secara strata sosial, akan tetapi ia tetaplah Aretha yang dulu. Sangat pemalu dan tidak percaya diri. Well, Artur bisa membaca gerak-gerik Aretha.


"Wah, lihat gaes. Siapa ini?" Masya berjalan memutari sosok Aretha yang mematung.


"Eh, lu ngapain ke sini? Pergi lu!" Dixton mengusir Masya. Enggan untuk Masya berlama-lama di sekitarnya.

__ADS_1


"Ck! Gua lagi lihatin cewek kampung yang kini menjelma menjadi cinderella! Ih, gua yakin. Pasti Aretha jadi simpanan om-om kan?" Masya berkata dengan nada sinis.


"Kalau kamu nggak tahu apa-apa, mending nggak usah judge orang seenaknya, Sya. Sekalipun kamu cantik. Sayang attitude kamu buruk!" ejek Justin.


__ADS_2