
Dulu hidupku sudah hancur karena orang ketiga. Dan sekarang apa harus terulang kembali? Rasanya sesak dadaku. Apalagi mereka terang-terangan berpelukan di depan mataku. Aku harus bagaimana ya Allah?
Air matanya mengalir deras. Bagaimanapun dia pernah dikhianati. Dan sekarang ada gadis lain yang mencoba memasuki bahtera rumah tangganya.
"Kalau saja aku gak pernah dikhianati sahabatku sendiri. Mungkin aku akan menerima kedatangan Rianna dengan senang hati. Namun kenyataannya aku benar-benar gak bisa menerima dia. Hiks hiks." Dia meletakkan tangannya di bibirnya. Supaya tangisannya tak ada yang mendengarnya.
Benar..... Kini Ani berada ditaman belakang rumah Ardan mencoba mencari semilir angin malam. Setidaknya dia bisa meluapkan tangisannya disana.
"Sayang." Panggilan Ardan menyentakkannya dari tangisannya. Dengan cepat Ardan duduk disamping istrinya kemudian memeluknya erat. "Maafkan aku."
Ani menghapus air matanya segera namun terlambat Ardan sudah memergokinya sedang menangis.
"Aku akan menceritakan bagaimana kami berempat bisa saling mengenal. Tapi tolong, rahasiakan ini dari Rianna. Dia paling nggak suka jika dikasihani orang. Berjanjilah sayang." Ardan mengangkat jari kelingkingnya. "Janji kelingking."
"Mas Ardan janji cerita semuanya?"
"Iya.... Walaupun gak bisa sedetail mungkin tapi secara garis besarnya bisa sayang." Mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut. Ditatapnya manik mata hitam legam milik Ani. Akhirnya Ani menganggukkan kepalanya perlahan. "Oh ya ampun sayang kamu kok gemesin gini sih". Dicubitnya pipi milik istrinya dengan gemas.
"Katanya mau cerita. Ini kapan ceritanya?"
"Usia Rianna sekarang dua puluh tahun. Empat tahun yang lalu dia berusia enam belas tahun. Dan pertemuan kami dimulai saat aku sedang mengendarai mobilku bersama Dion dan Kevin. Kamu tau apa yang terjadi selanjutnya?"
Ani menggelengkan kepalanya pelan. Memangnya dia tahu. Empat tahun yang lalu bahkan dia masih istri orang.
"Saat itu ada seorang gadis yang sedang mencoba bunuh diri. Dengan menabrakkan tubuhnya ke mobil yang aku kemudikan."
"Ja....jadi maksud mas Ardan gadis itu Rianna? Ma....mana mungkin !!"
__ADS_1
"Rianna depresi akibat kedua orangtuanya bercerai sayang." Ardan menghela nafas perlahan. Dia kembali mengingat memori kala itu. Seorang gadis yang sengaja menjatuhkan dirinya ke sebuah mobil yang sedang berjalan dengan kecepatan penuh. Tentu saja gadis itu terpelanting dengan bersimbah darah.
"Ohhh..."
Ya ampun.... Aku dari awal sudah berbuat salah dengan gadis itu.
Ani menundukkan kepalanya. Merasa bersalah. Kini air mata yang tadi sudah berhenti pun kini mulai mengalir kembali.
"Sayang.... Sudahlah.... Semua sudah terjadi. Jangan dipikirkan lagi."
"Tapi mas aku...."
"Sayang aku juga bersalah. Aku melupakan rasa sakitmu dulu yang juga dikhianati sahabatmu sendiri. Mungkin kamu memiliki rasa takut kehilangan lebih besar. Mengingat dulu mantan suamimu bercumbu dengan sahabat sendiri. Kita sama-sama salah jadi sudah ya jangan dibahas lagi. Aku bersalah karena belum menjelaskan yang sebenarnya."
"Lalu.... Kemarin itu Rianna baru pulang dari mana?"
"Iya mas.... Maaf ya sikapku egois banget sama mas Ardan."
"Kamu cemburu aku suka sayang. Namun kalau cemburu sampai lupa tempat ya gak tau deh. Sekarang ayo masuk kamar. Ini sudah malam."
Ani mengangguk. Kini beban dihatinya sudah berkurang namun sekarang rasanya dia bersalah pada Rianna. Karena sudah diacuhkannya dari pagi.
"Mas.... Apa aku harus minta maaf sama Rianna ya, rasanya aku udah keterlaluan."
"Jangan sayang nanti dia berpikir aku sudah cerita sama kamu. Jadi bersikaplah biasa saja."
Ani tersenyum. Dia harus bersikap lebih hangat pada Rianna. Kini dia dan Ardan berjalan beriringan tangan, sembari bergandengan tangan.
__ADS_1
"Oh ya mas Ardan besok aku kan ke kampus mas Ardan nggak masukin Rianna dikampusku? Biar rame kan ada Agnes juga."
"Mending tanya dia dulu apa keinginannya setelah ini. Sekarang sudah malam. Oh ya gak makan dulu?" Ardan menatap sepiring nasi yang diabaikan oleh istrinya.
"Tadi aku udah makan mas mami dan Monica memberiku makan seperti sapi. Tapi mereka tenang saja ketika Rianna makan sedikit."
"Apa mau makan bersama?" Bujuk Ardan.
Ani seketika tersenyum. Dia dan Ardan sangat jarang dimomen ini. Dia segera menganggukkan kepalanya dengan cepat. Meskipun perutnya sudah terisi penuh.
💞💞💞
"Mas .... Kenapa jadi seperti ini?"
"Monica aku benar-benar ingin menjadikanmu milikku seutuhnya. Secepatnya."
"Tapi kenapa? Ah.... kenapa sekarang si?"
"Hah.... apa lagi Monica? Aku sangat mencintaimu, kamu menunggu apa lagi? Aku menginginkanmu."
"Tapi mas.... Aku takut."
"Takut siapa?"
"Mas.... Jangan seperti ini ya?"
"Monica... Jangan membuatku gila. Aku tak bisa. Aku sudah setengah jalan!! Ayo segera kita lakukan saja !!" Teriak Kevin kesal.
__ADS_1