
Pesta pernikahan yang megah itu kini telah usai. Para tamu yang berdatangan pun kini telah pulang kerumah masing-masing. Kini Mariani beserta keluarganya menghampiri Monica dan Kevin. Begitu pula dengan Dion dan Agnes.
"Selamat Monic. Semoga sakinah mawadah warohmah. Dan segera dikasih momongan.Oh ini hadiahku," memberikan sebuah kado berbentuk kotak.
"Ah bebeb padahal datang saja aku sudah senang loh. Halo anak tampan," mencubit pipi Rendy.
"Halo aunty," memberikan kecupan dikedua pipi milik Monica. Ardanpun mengulurkan satu tangannya untuk berjabat tangan dengan Kevin.
"Selamat bro akhirnya," senyum tuluspun tersungging dibibirnya. Kemudian memberikan sebuah kotak kecil.
"Makasih bro. Eh ini apa?" Kevin mengangkat kotak kecil itu terbungkus rapi dengan sebuah kertas kado berwarna merah muda.
"Hadiah pernikahan kalian."
"Boleh nggak gue buka sekarang?" Kevinpun melontarkan sebuah pertanyaan yang menggelitik. Memangnya ada sebuah kado yang dibuka langsung begitu.
"Boleh. Mungkin istrimu juga penasaran," menunjuk Monica dengan dagunya. Karena satu tangannya menggendong Rendy.
Dengan perlahan, Kevin membuka kertas itu. Kemudian sebuah kotak berwarna hitam. Kevinpun dengan cepat membukanya. Begitu mengetahui apa yang ada didalamnya kedua mata Kevin dan Monica melebar sempurna.
"Tuan Ardan, ini sangat berlebihan," Monica menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kunci ini?" mendengar pertanyaan Kevin Ardan hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman. "Hei bro nggak salah kan? Ini kunci mobil sport deh."
"Hadiah untukmu." Ardan mengerlingkan sebelah matanya. Membuat Kevin mau tak mau menerima hadiah besar itu.
__ADS_1
"Padahal dulu elo nikah gue gak ngasih hadiah. Ah lu bro sori ya," Kevin memeluk Ardan.
"Udah dong. Gantian kan masih ada mas Dion. Pelukan mulu," Mariani mengerucutkan bibirnya. Membuat Ardan dan Kevin mengakhiri pelukan haru itu. Memang hal yang mudah untuk keluarga Wijaya. Karena keluarga Wijaya merupakan keluarga no 2 se Asia. Perhitungan itu belum termasuk kekayaan didunia gelapnya. Jika ditambahkan tentu saja Wijaya akan menduduki peringkat pertama.
Ardan mundur kini giliran Agnes dan Dion yang menyerahkan hadiah pernikahan untuk kedua mempelai.
"Walaupun lo nggak ngasih gue hadiah pernikahan nih gue kasih lu jam tangan Rolex kesukaan Lo," Dion memberikan sebuah kotak berwarna hitam.
"Ada ya hadiah pernikahan gini banget langsung dibuka?" menerima kotak hitam itu dan kemudian membukanya.
"Wih ini kan...," kalimat Kevin menggantung. Dia tau seberapa mahal jam tangan itu. "Ah oke deh gila gue kok berasa kaya mendadak ya," selorohan Kevin membuat semuanya tertawa.
"Dan ini hadiahku buatmu Monic. Tapi buka dan pakai nanti ketika sudah dikamar jangan dipakai diluar kamar ya," senyum licik tergambar jelas dibibir Agnes. Membuat Monica sedikit merinding.
Persahabatan yang sangat indah. Ketiga laki-laki bertemu dengan tiga orang wanita dan sama-sama bersahabat. Mungkin ini akan menjadi sebuah persahabatan yang abadi. Smith begitu tersentuh melihat mereka semua. Namun matanya menangkap anak gadisnya yang masih termenung ditempatnya.
"Sayang? Kamu tidak kesana?"
"Nanti papa." matanya menatap lekat kearah mereka. Matanya berkaca-kaca mengingat dirinya hanyalah orang luar saja. Tak ingin bergabung atau apapun. Rianna masih terdiam ditempatnya. Hingga tak sengaja Mariani melihatnya.
"Hei Rianna. Kenapa kamu menjauh begitu?" pertanyaan Mariani berhasil membuat Rianna mendongakkan kepalanya.
"Kemarilah!" kini nada suara Mariani sudah naik satu oktaf. Buru-buru gadis itu segera menuju tempat berkumpulnya mereka semua.
__ADS_1
"Kak Monic, aku hanya ada sedikit hadiah. Semoga kak Monica suka," Rianna tersenyum manis.
"Aku buka langsung!" Monica langsung membuka kotak yang diberikan oleh Rianna dengan semangat.
"Rianna! Ini cantik banget," Monica mengambil sebuah gelang emas bertahta berlian dari dalam kotak yang diberikan oleh Rianna. Pilihan Rianna memang tepat. Gelang itu terkesan simple namun elegant.
"Alhamdulillah kalau kakak suka," menghambur ke pelukan Kevin dan Monica. Monica terharu, bagaimana mungkin dirinya bisa tidak menyukai kehadiran Rianna dulunya. Gadis itu benar-benar sangat polos. Walaupun cantik bak seorang model terkenal, nyatanya Rianna adalah gadis yang apa adanya. Hingga Monica tak menyadari jika ia menitikkan air matanya.
"Oh ya kalian nanti malam pertama dihotel ini juga?" pertanyaan dari Agnes yang tiba-tiba itu seketika membuat wajah Monica memerah. Betapa malunya gadis itu. Malam pertama? Ya ampun dirinya saja tak pernah membayangkannya sedikitpun.
Dasar Agnes ini! Kenapa mulutnya baja da rem begitu sih? pertama kalinya Monica merutuki sifat Agnes yang terkesan blak-blakan.
"Tentu saja dihotel ini. Memang mau dimana lagi?" ucap Kevin dengan nada kesalnya.
"Oh dinomor berapa? Siapa tau kita satu berdekatan. Karena aku dan Dion juga menginap disini."
Dion yang mendengar penuturan dari sang istri menautkan kedua alisnya. Sejak kapan aku memesan kamar disini? batinnya berfikir keras.
"Nomor 213 ada apa sih? Yon istri lu Napa?" Kevin benar-benar kesal lantaran istri sahabatnya itu bertanya sangat detail.
"Enggak apa-apa kok," Agnes meremas tangan Dion dengan erat membuat Dion meringis kesakitan. Terlebih kedua mata Agnes yang melotot membuatnya mau tak mau membungkam mulutnya untuk tidak mengatakan sepatah katapun. "Ya udah ya aku sama mas Dion pamit dulu."
Dion hanya menurut saja ketika Agnes menyeret tangannya. Hingga keduanya berada di lobby, kemudian Agnes menghampiri meja resepsionis. "Mbak bisa tolong bantu saya?" tanya Agnes dengan sebuah senyuman licik yang tersungging dibibirnya.
__ADS_1
******
Like tembus 700 aku up lagi