
Di sebuah toilet kampus seseorang terus mengumpat dan memaki Sabrina. Amarahnya memuncak. Tidak terima dipermalukan di depan umum. Dari pantulan cermin di depan wastafel, dada bidang pria itu tampak kembang kempis. Menandakan bahwa ia masih dirundung amarah.
"Tuan Muda." Seseorang menyodorkan paper bag.
Disambarnya paper bag berisi pakaian barunya itu. "Bagaimana? Sudah mendapatkan identitas dari gadis sial*n bernama Sabrina itu?" tanya Lexi.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tak menemukan apapun. Sepertinya identitas gadis itu disembunyikan oleh seseorang. Saya sudah berusaha membobol sistem keamanannya. Nihil. Data gadis itu tak berbekas. Hanya sebatas nama Sabrina, usia dan sekolahnya. Hanya infomarsi yang biasa saja. Bahkan karena rasa penasaran saya, saya sudah mencari IT perusahaan ayah Anda. Hasilnya pun sama, nihil." Seseorang menjelaskannya dari balik pintu.
Lexi mengganti pakaiannya dengan pikiran yang buruk. Jika identitasnya sangat sulit untukĀ dilacak, bukankah itu berarti Sabrina bukan dari kalangan biasa? Lexi menggeram kesal. Ini hari pertamanya berada di kampus ini. Tetapi ia sudah sial dan menanggung malu untuk hari ini.
"Lu, ayo kita pulang saja!" Lexi memasukkan pakaian sebelumnya ke dalam sebuah paper bag. Lalu membuang paper bag yang isinya seluruh pakaian Lexi sebelumnya. Pria itu membuka pintu dan mendapati Lu, bawahannya yang setia.
"Baik, Tuan Muda," sahut Lu.
Lu berjalan di belakang Lexi yang berjalan cepat di depannya. Lexi terlalu malu untuk lebih lama berada di kampusnya. Hingga sebuah suara memanggil namanya berulang kali. Dengan kesal, Lexi memutar tubuhnya. Menatap seorang gadis cantik dengan make up yang sedikit tebal, berjalan ke arahnya. Diikuti dua orang gadis yang mungkin saja, itu adalah temannya.
"Lexi!" teriaknya lagi.
"Kau siapa?" tanya Lexi.
Gadis itu tersenyum semanis mungkin. "Namaku Masya, kita satu kelas. Em, tadi aku mau nawarin baju untukmu ganti. Tapi ternyata kamu sudah ganti. Dasar Sabrina! Selalu saja buat rusuh!" ketus Masya.
Mendengar nama Sabrina disebut, Lexi pun bersuara, "Kau mengenalnya?"
"Tentu saja! Kabarnya dia sekarang jadian dengan Artur. Well, Artur dari Xander Grup. Grup yang lumayan besar. Tapi, hanya segitu saja dia sudah sombong. Huh! Aku pengen pites itu Sabrina!" Masya berusaha mengambil hati Lexi.
Perlahan pria itu menganggukkan kepala. Lalu tersenyum penuh arti. "Em, boleh minta nomor ponsel?"
Lexi menyodorkan ponsel keluaran terbaru miliknya kepasda Masya. Gadis itu lalu mengetikkan nomor di ponsel lexi. "Thanks ya. Aku pergi dulu. Nanti aku chat."
Lexi berlalu tanpa bersuara lagi. Pria itu membatin, "Kupikir dia akan berguna untuk sedikit membuat hidup Sabrina lebih terusik. Tanpa aku harus mengotori tanganku. Memang, pesonaku luar biasa kan?"
***
__ADS_1
"Acara keakrapan?" Dahi Sabrina mengerut.
"Tentu! Ayolah, untuk merayakan hari jadi persahabatan kita?" Justin berargumen.
"Benar. Kita adakan pertemuan beberapa waktu sekali. Seperti nongkrong. Ayolah," desak Dixton.
Sabrina berpikir sejenak. Gadis itu melirik Artur yang sedang menatapnya horor. "Aku ikut saja. Asal Aretha juga ikut."
Aretha membulatkan kedua matanya. "Sa-Sabrina," cicitnya ragu.
"Kita bisa menjadi sahabat yang menyenangkan. Jangan takut, Aretha. Kalau mereka tidak menerimamu, ya aku juga tidak akan mau. Jangan melihat seseorang dari pakaian yang ia kenakan. Apa yang ada di depan mata kita, terkadang itu adalah tipuan yang sempurna." Sabrina melirik ke arah Artur.
"Baiklah. Lakukan sesuka hatimu," ucap Artur.
Sabrina tanpa sengaja mendapati notifikasi di ponselnya. Gadis itu menyipitkan kedua matanya. Itu adalah notifikasi dari pembobolan identitasnya. Segera Sabrina membuka ponselnya. Ia memainkannya dalam jangka waktu beberapa lama. Hingga dia menemukan sesuatu.
"Untuk apa IT Dirgantara Grup membobol data pribadiku? Lexi? Sepertinya dia tidak terima dengan perlakuanku," gumam Sabrina dalam hati.
Di sebuah toilet kampus seseorang terus mengumpat dan memaki Sabrina. Amarahnya memuncak. Tidak terima dipermalukan di depan umum. Dari pantulan cermin di depan wastafel, dada bidang pria itu tampak kembang kempis. Menandakan bahwa ia masih dirundung amarah.
"Tuan Muda." Seseorang menyodorkan paper bag.
Disambarnya paper bag berisi pakaian barunya itu. "Bagaimana? Sudah mendapatkan identitas dari gadis sial*n bernama Sabrina itu?" tanya Lexi.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tak menemukan apapun. Sepertinya identitas gadis itu disembunyikan oleh seseorang. Saya sudah berusaha membobol sistem keamanannya. Nihil. Data gadis itu tak berbekas. Hanya sebatas nama Sabrina, usia dan sekolahnya. Hanya infomarsi yang biasa saja. Bahkan karena rasa penasaran saya, saya sudah mencari IT perusahaan ayah Anda. Hasilnya pun sama, nihil." Seseorang menjelaskannya dari balik pintu.
Lexi mengganti pakaiannya dengan pikiran yang buruk. Jika identitasnya sangat sulit untukĀ dilacak, bukankah itu berarti Sabrina bukan dari kalangan biasa? Lexi menggeram kesal. Ini hari pertamanya berada di kampus ini. Tetapi ia sudah sial dan menanggung malu untuk hari ini.
"Lu, ayo kita pulang saja!" Lexi memasukkan pakaian sebelumnya ke dalam sebuah paper bag. Lalu membuang paper bag yang isinya seluruh pakaian Lexi sebelumnya. Pria itu membuka pintu dan mendapati Lu, bawahannya yang setia.
"Baik, Tuan Muda," sahut Lu.
Lu berjalan di belakang Lexi yang berjalan cepat di depannya. Lexi terlalu malu untuk lebih lama berada di kampusnya. Hingga sebuah suara memanggil namanya berulang kali. Dengan kesal, Lexi memutar tubuhnya. Menatap seorang gadis cantik dengan make up yang sedikit tebal, berjalan ke arahnya. Diikuti dua orang gadis yang mungkin saja, itu adalah temannya.
__ADS_1
"Lexi!" teriaknya lagi.
"Kau siapa?" tanya Lexi.
Gadis itu tersenyum semanis mungkin. "Namaku Masya, kita satu kelas. Em, tadi aku mau nawarin baju untukmu ganti. Tapi ternyata kamu sudah ganti. Dasar Sabrina! Selalu saja buat rusuh!" ketus Masya.
Mendengar nama Sabrina disebut, Lexi pun bersuara, "Kau mengenalnya?"
"Tentu saja! Kabarnya dia sekarang jadian dengan Artur. Well, Artur dari Xander Grup. Grup yang lumayan besar. Tapi, hanya segitu saja dia sudah sombong. Huh! Aku pengen pites itu Sabrina!" Masya berusaha mengambil hati Lexi.
Perlahan pria itu menganggukkan kepala. Lalu tersenyum penuh arti. "Em, boleh minta nomor ponsel?"
Lexi menyodorkan ponsel keluaran terbaru miliknya kepasda Masya. Gadis itu lalu mengetikkan nomor di ponsel lexi. "Thanks ya. Aku pergi dulu. Nanti aku chat."
Lexi berlalu tanpa bersuara lagi. Pria itu membatin, "Kupikir dia akan berguna untuk sedikit membuat hidup Sabrina lebih terusik. Tanpa aku harus mengotori tanganku. Memang, pesonaku luar biasa kan?"
***
"Acara keakrapan?" Dahi Sabrina mengerut.
"Tentu! Ayolah, untuk merayakan hari jadi persahabatan kita?" Justin berargumen.
"Benar. Kita adakan pertemuan beberapa waktu sekali. Seperti nongkrong. Ayolah," desak Dixton.
Sabrina berpikir sejenak. Gadis itu melirik Artur yang sedang menatapnya horor. "Aku ikut saja. Asal Aretha juga ikut."
Aretha membulatkan kedua matanya. "Sa-Sabrina," cicitnya ragu.
"Kita bisa menjadi sahabat yang menyenangkan. Jangan takut, Aretha. Kalau mereka tidak menerimamu, ya aku juga tidak akan mau. Jangan melihat seseorang dari pakaian yang ia kenakan. Apa yang ada di depan mata kita, terkadang itu adalah tipuan yang sempurna." Sabrina melirik ke arah Artur.
"Baiklah. Lakukan sesuka hatimu," ucap Artur.
Sabrina tanpa sengaja mendapati notifikasi di ponselnya. Gadis itu menyipitkan kedua matanya. Itu adalah notifikasi dari pembobolan identitasnya. Segera Sabrina membuka ponselnya. Ia memainkannya dalam jangka waktu beberapa lama. Hingga dia menemukan sesuatu.
__ADS_1
"Untuk apa IT Dirgantara Grup membobol data pribadiku? Lexi? Sepertinya dia tidak terima dengan perlakuanku," gumam Sabrina dalam hati.