Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 44


__ADS_3

"Aku diterima Ani!!" Monica meloncat kegirangan. Memang dia hanya bisa bertaruh seadanya saja jika dia kemungkinan besar tidak akan diterima untuk bekerja. Namun jawaban berkata lain mungkin saat ini keberuntungan sedang berpihak padanya.


"Alhamdulilah masih rejeki dong Monic. Kapan mulai kerja?"


"Katanya sih mulai besok Ani. Tapi kok mulus banget ya ? Kayak lancar-lancar aja gitu. Iya gak sih?" Tanya Monica penasaran.


Seharusnya kan dikasih pertanyaan-pertanyaan gitu dulu kan lah ini aku maen diterima saja. monic


"Mungkin aja mereka lagi butuh Monic. Kan baru kemarin aku dan mas Ardan dapat info." Ani menjelaskan dengan nada tenang. Melihat dari ekspresi Monica sepertinya dia tak menaruh curiga sama sekali.


"Iya juga ya. Katanya kamu harus ke tempat mertua kamu Ani? Aku pulang naik ojek aja deh."


"Enggak usah kita bareng aja aku kenalin ke mami juga. Mami pasti seneng banget aku punya sahabat." Ucap Ani melebarkan senyumnya. Memang Ani bahagia mempunyai sahabat yang seperti Monica. Unik dan benar-benar bisa menjadi batu karang yang sulit untuk dirobohkan. Berbeda dengan Intan dulu. Seakan-akan dialah yang paling unggul darinya. Dan dia harus mengalah apapun yang terjadi. Berbeda dengan Monica. Dia bahkan menjunjung tinggi harga dirinya didepan semua orang yang merendahkan harga dirinya.


"Aduh Ani aku malah tambah gak enak nanti."


"Tapi aku pengen ngenalin kamu ke mami. Mami baik kok."


"Aduh .... Please Ani." Monica memohon dia tak ingin berada di situasi canggung.


Ani menimbang nimbang.

__ADS_1


"Gimana kalau pas nanti aku kenalin kamu waktu kita acara makan-makan bareng gitu. Aku seneng kalau kita ngumpul bareng." Kata Ani sambil membayangkan bagaimana jika sahabatnya itu bersama dengan Kevin. Toh Kevin jelas siapa. Ani tau jika sahabat dari suaminya itu orang yang akan mencintai satu wanita saja.


"Boleh deh sekarang aku pulang dulu ya besok aku udah kerja loh hehehehe."


"Duh senengnya yang dapat kerja." Goda Ani.


"Udah deh... Ya udah ya Ani aku duluan." Monica melambaikan tangannya. Kemudian perlahan-lahan menghilang.


"Pak Surya ketempat mami ya."


"Baik nona muda".


Mobil meluncur menelusuri jalanan berdebu di ibu kota J. Waktu itu Ani belum sempat kerumah ibu mertuanya karna bekas tamparan dari ba****an si Marzuki itu. Kini mobil memasuki pintu gerbang rumah utama kediaman keluarga Wijaya. Ani turun dari mobil. Kedatangannya saat ini untuk mengunjungi mertuanya yang sudah sepuh itu.


"Gak apa-apa kok mi. Toh aku kan juga gak sibuk banget. Maagmf ya mi kemarin gak sempet kesini. Padahal mami sudah masakin aku banyak."


"Iya sayang gak apa-apa kok mami ngerti."


"Makasih mi."


"Ayo masuk. Ani.... ada yang ingin mami bicarakan. Sebenarnya ini sudah lama mami sama papi rundingan. Tapi takut kamu belum siap. Tapi kan ini sudah dua bulan kamu menikah dengan Ardan mami yakin kamu sudah siap nak." Kata mami.

__ADS_1


Deg.. Masalah apa lagi ini?


"Apa mi? Kok kayaknya penting banget."


Ani berpura-pura untuk menutupi segala rasa penasaran yang saat ini menggelayuti pikirannya.


"Ketemu sama papi dulu yuk papi lagi diruang kerjanya." Tunjuk mami pada sebuah ruangan. Ruangan itu merupakan ruang kerja. Terlihat disana ada papi yang sudah siap dengan segala resikonya.


."Nak kemarilah. Papi hanya ingin membicarakan sesuatu dulu. Duduklah."


Kata papi sembari mempersilakan Ani duduk.


Duhhh. ... Aku sampai deg-degan gini. Emang masalah apa sih?


"Iya pi." Ani mendekat ke meja papi.


"Kamu tau kan nak papi dan mami sudah tua?" Tanya papi


"I ... iii iiiiya pi."


Mami dan papi sudah sepakat. Kami tahu kalau kamu sudha memiliki anak. Papi dan mami hanya ingin segera menimang cucu. Bisakah kamu hamil secepatnya?"

__ADS_1


deg deg deg. ....


__ADS_2