
"Ka-kau! Beraninya, kau membuang hasil laporanku! Tahu apa kau? Dasar ingusan! Tuan William, lihat. Dia membuang laporannya! Padahal, saya sudah susah-suaah membuatnya. Sedangkan dia, enak sekali membuang hasil kerjaku." Suara wanita itu mendayu.
Sabrina mengibaskan rambutnya. Saat ia mendengar suara menjijikkan, dari wanita itu. Diliriknya name tag wanita yang sedang mencoba merayu William. Alina Cyntia. Setelah puas melirik Alina, Sabrina melirik William yang masih saja santai. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu.
"Alina Cyntia. Segera angkat kaki dari perusahaan ini, sebelum aku ikut turun tangan," ancam Sabrina.
Apa yang akan dilakukan bocah ini? William membatin.
Alina tersenyum sinis. "Bocah ingusan sepertimu? Apa yang perlu aku takuti?" Wanita sintal itu masih saja pongah.
"Jadi, kau tidak ingin angkat kaki dari perusahaan ini?" ketus Sabrina.
"Tentu saja. Kenapa aku harus angkat kaki dari perusahaan ini? Bukannya kau, yang harusnya angkat kaki dari sini?" ejek Alina.
"Oh. Jangan menyesal." Setelah mengatakan itu, Sabrina berjalan santai, menuju meja kerja William. Pria itu masih duduk santai di kursi kebesarannya. Sabrina melirik acuh, pada William. "Pinjam laptop sebentar. Alina Cyntia." Sabrina dengan santai, memainkan jemari lentiknya diatas keyboard.
Tap.
Sabrina tersenyum sinis. Lalu mengarahkan layar laptop, kepada Alina. Wanita itu melotot sempurna. Perlahan, Alina mengerjapkan kedua matanya bingung.
"Segera angkat kaki dari sini, atau kau mau skandal busukmu akuĀ sebar?" Sabrina menatap pada kukunya. Masih dengan santai, menghadapi Alina. "Ngomong-ngomong, setelah ini kau tidak akan diterima di perusahaan manapun. Aku sudah memasukkanmu dalam blacklist, masih tidak ingin pergi dari sini?" Sabrina menekankan kalimatnya.
"Kau, kau bagaimana bisa melakukannya?" Alina gugup dan tidak terima.
"Ya. Kau benar. Aku hanya anak kemarin sore. Tapi tidak ada yang tahu seperti apa keluarga Wijaya, membesarkan anak ataupun cucunya," balas Sabrina.
"Ka-kau cucu dari keluarga Wijaya?" tanya Alina.
"Oh sudah sadar, rupanya? Bagaimana? Masih ingin bermain? Untuk sampai di titik ini, berapa banyak pria brengsek yang sudah kau rayu?" cibir Sabrina.
Sindiran dari Sabrina, membuat Alina tidak terima. Wanita itu berjalan mendekati Sabrina. Saat tangan Alina hendak menyambar rambut Sabrina, dengan cepat Sabrina menepis tangan Alina. Tak hanya sampai disitu. Justru rambut Alina, yang kini ditarik oleh Sabrina.
Dengan kuat, Sabrina menarik rambut Alina hingga keluar dari ruangan presdir. Di saat itu pula, banyak sekali pasang mata yang melihat kejadian itu. Terlebih, Alina menjerit keras. Sekali sentakan, Alina terjungkal di lantai. Wanita itu mendongakkan kepala. Terlihat sekali aura kebencian menguar.
__ADS_1
"Kenapa? Marah? Ingatlah. Setelah ini, kau tidak akan diterima di perusahaan manapun. Karena apa? Karena aku telah menyebarkan skandal untukmu. Yah, tunggu saja. Karena akan ada banyak wanita yang berstatus istri sah dari pria yang kau goda, akan mencarimu. Baik-baiklah. Ingat, ini adalah salam dari putri kedua keluarga Wijaya." Sabrina memutar tubuh. Kembali berjalan masuk, ke dalam ruangan William.
William terlihat bermain dengan kursi kebesarannya. Berputar-putar, seraya menunggu Sabrina. Setelah sampai di depan William, Sabrina melipat kedua tangannya di dadanya.
"Duduk," titah William.
Sabrina memutar kedua bola matanya kesal. "Kenapa kau tidak pulang?" tanya Sabrina.
William tersenyum. "Ada urusan selama 3 hari, diluar kota. Tanyakan pada Ryu. Jika aku terlihat berbohong."
Apa aku telah salah melihat? Sabrina memiliki banyak kejutan. Dia bahkan bisa dengan mudah, melihat kesalahan dari pekerja Alina. Semakin kesini, dia semakin mirip dengan ... Sudahlah. Hanya kebetulan saja. William mengusap wajahnya.
Pandangan William mengunci Sabrina. Saat kedua mata mereka saling bertubrukan, Sabrina dengan cepat memalingkan wajah. Membuat William terkekeh lirih.
"Kenapa kau datang kemari?" tanya William.
"Kenapa? Apa aku mengganggu kesenanganmu? Aku kemari karena kau tidak pulang selama tiga hari!" ketus Sabrina.
William menarik napas. "Aku memang baru saja pulang, Sabrina. Aku harus bertemu investor, karena beberapa waktu lalu mereka menarik investasi ke perusahaan ini."
"Invenstasi? Seberapa banyak kerugianmu? Bukankah papa sudah menutupnya?" Sabrina mengamati wajah William. Bukannya menemukan apa, yang ada jantungnya seperti berlarian kesana kesini.
"Memang, tapi aku ingin perusahaan ini juga berkembang. Masa harus berdiri dari balik ketiak papamu selamanya?" ucap William.
Aku ingin berdiri sendiri. Karena aku ingin, kita berpisah saat aku telah bisa melepaskan semua bantuan dari papamu. William membatin.
Sabrina terlihat menimbang. "Aku akan membantumu. Besok, ajak aku kemari. Karena mulai seminggu ke depan, aku tidak ada pelajaran. Aku tidak sedang bercanda."
"Sabrina, sudahlah. Kau tidak perlu membuktikan apapun. Setidaknya, aku telah berhasil bekerja sama kembali dengan investorku satu ini," tolak William.
Sabrina menatap tajam William. "Kau yakin? Bagaimana jika begini, aku sudah memecat sekretarismu bukan? Selama 1 Minggu, aku akan menggantikan tugas sekretarismu itu. Selama ada aku, kau bisa mencari sekretaris yang baru. Hanya sebuah penawaran!" Aura ketegasan dalam diri Sabrina, kembali lagi.
Benar juga. Dia bahkan bisa mengenali dimana kesalahan sekretarisku itu. Kenapa aku lupa, dia ini putri keturunan Wijaya generasi ketiga? Benar. Sebaiknya, aku sekalian juga mengawasi tabiat bocah ini. Siapa yang tahu, dia berbuat sesuatu di luar batas. Aku ada alasan, untuk menjauhinya. William menatap Sabrina lekat.
__ADS_1
"Baiklah. Berpakaianlah yang sopan," ujar William.
"Kau menegurku, sedangkan kau tidak menegur sekretarismu?" bidik Sabrina. "Sudahlah. Percuma juga berbicara denganmu. Beri aku makan, aku lapar," rengek Sabrina.
Dahi William mengerut. Sikap Sabrina berubah cepat sekali. Terlebih gadis itu, justru malah menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan William.
"Ryu, belikan makanan di kantin," titah William.
"Baik, Tuan." Ryu membungkuk. Lalu berjalan keluar, mencari salah satu OB.
Setelah makan, Sabrina pamit undur diri. Dia malas jika harus menunggu, William pulang kerja. William menatap lekat Sabrina.
"Kau yakin, kemari hanya memakai sepeda motormu?" tanya William.
Lagi, Sabrina mengangguk. Imbuh William, "nanti aku akan siapkan supir baru untukmu."
"Kenapa? Tidak usah." Sabrina menggelengkan kepala.
"Kau menolak, karena kau takut aku tidak bisa membayar supir untakmu?" ketus William.
Sabrina melotot. "Bukan, aku ingin ke sekolah menggunakan sepeda motor saja."
"Tidak bisa diganggu gugat. Besok, aku akan memberimu mobil baru dan supir. Sekarang, Ryu akan mengantarmu pulang. Ryu, antar dia pulang ke rumah baruku." William menatap Ryu.
"Hei, tunggu! Sepeda motorku bagaimana?" jerit Sabrina.
"Buang," timpal William acuh.
"What? Nggak! Nggak usah diantar deh. Aku pulang sendiri," tolak Sabrina.
"Kalau begitu, pulang bersamaku." William kembali mendudukkan bokongnya di kursi kebesarannya. Lalu mengambil beberapa dokumen, yang masih menumpuk di mejanya.
"Kamu!" Sabrina menatap kesal William.
__ADS_1
Dasar aneh! Sabrina membatin.