Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 381. Sekretaris Cantik


__ADS_3

"Bukannya sekarang sedang ramai? Di tv dan di google. Semua membahas tentang Xander Grup. Memangnya, kenapa ya?" tanya Aretha seraya membenarkan letak kacamatanya.


"Nggak apa-apa. Kita diskusikan ini di grup ya? Ini sudah waktunya untuk pulang. Ayo, Artur." Sabrina kini bangkit. Disusul dengan Artur yang mengekor tanpa bersuara di belakangnya.


"Sabrina, apa kau mencurigai Aretha?" tanya Artur saat keduanya telah menjauh.


"Menurutku semua perlu diperhitungkan," sahut Sabrina.


Hening. Tidak ada lagi yang berbicara. Keduanya memilih untuk terus berjalan menuju mobil jemputan. Jangan sampai pria yang sekarang menjadi supir dadakan itu, tersulut emosi. Bisa bertambah pusing Sabrina nantinya.


Sabrina dan Artur memasuki mobil tanpa suara. William memang sudah mewanti-wanti hal ini. Ryu duduk di belakang kemudi. Di sampingnya, ada Artur yang paham akan posisinya.


"Uncle, ini masih jam 1 siang. Apa Uncle juga akan pulang ke rumah?" tanya Sabrina.

__ADS_1


"Tidak. Kata siapa kita akan pulang?" balas William.


"Lalu kita akan kemana?" Sabrina mendadak bingung mendengar pertanyaan dari William.


"Hei, Nyonya Wakil Direktur Xander Grup. Beraninya kau berniat lepas tanggung jawab?" William mendelik. Menatap horor ke arah Sabrina.


Gadis itu terhenyak. "Wa-Wakil direktur?"


"Kenapa? Ada tiga perusahaan lo, yang harus diurus," pungkas William. Ia masih menatap tajam sosok Sabrina.


"Kenapa aku baru sadar sekarang? Pantas saja, akhir-akhir ini aku selalu gelisah. Orang suamiku saja sekarang membatasi ruang gerakku. Bunga, coklat dan sekarang ini sensitive berbau meninggalkan. Memangnya, siapa yang ingin meninggalkan siapa? Bahkan, dia memberikan jabatan untukku." Sabrina membatin gelisah.


Mobil mulai memasuki lahan area parkir perusahaan milik William yang baru. Sedangkan gedung yang menjulang tinggi itu, membuat Artur dan Sabrina lumayan takjub.

__ADS_1


"Perusahaan baru Ayah sungguh lebih baik dari milik kita sebelumnya. Benar-benar keren!" ucap Artur dengan takjub.


"Aku baru lihat ini. Aku sebelumnya belum pernah kemari," celetuk Sabrina. Ia terus menatap bangunan yang menjulang tinggi itu.


"Cih! Kau kan sudah memiliki banyak perusahaan. Masa iya mau bilang ini keren juga? Nggak salah?" ejek Artur.


"Hei! Mulutmu! Beraninya kau, Artur! Sekalipun memiliki banyak perusahaan, untuk apa dibanggakan? Toh bukan murni hasil keringatku." Sabrina mencebikkan bibirnya. Gadis itu merajuk.


Hening kembali menelusup masuk di antara orang-orang yang berada di dalam mobil. Begitu mobil berhenti, Ryu segera membukakan pintu mobil untuk para tuannya. William lalu mengajak Artur dan Sabrina masuk ke dalam perusahaan mereka yang baru. 


Begitu melihat William datang, semua karyawan menunduk hormat. Mereka lalu memasuki lift khusus petinggi. Tak berselang lama, mereka telah sampai di lantai atas. Sama halnya dengan di bawah. Semua karyawan yang melihat kedatangan William juga menundukkan kepala hormat.


Tatapan Sabrina mengunci sosok yang duduk di kursi sekretaris. Gadis itu menyipitkan kedua mata. Dia, tampak cantik dengan dua lesung pipi ditambah tubuh yang terbalut pakaian kerja serta terlihat ****. Rasa cemburu kian merajai hati Sabrina. Perasaan was-was seketika muncul. Terasa mengganggu di pikiran gadis itu. Terlebih, tatapan kagum terbaca jelas dari kedua mata sekretaris itu.

__ADS_1


"Sabrina? Hei, Sabrina!" Artur menyikut lengan Sabrina. Membuat gadis itu terhenyak kaget. Lanjut Artur, "Kau kenapa?"


__ADS_2