Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 21


__ADS_3

"Hei ....!!!!! Izinkan dia masuk antar keruanganku !!! Segera!!!" Bentak Ardan dari seberang telpon tentu saja si penerima telpon menjauhkan gagang telpon dari telinganya. Bagaimana pun juga dia harus tetap bekerja dengan pendengaran yang baik bukan? Akhirnya resepsionis itu kembali memanggil orang yang baru saja dia suruh pergi. Sebenarnya dia sendiri juga bingung mau berbuat apa baru saja dia menyuruh pergi seseorang eh dengan seenak udelnya bosnya teriak-teriak untuk memanggil kembali orang itu. Dia merutuki kesialannya hari ini.


"Mbak tunggu sebentar!!!" Dia setengah berlari mengejar seseorang. " Mbakkkkkk!!!! Huh kenapa gak denger sihhh....Aduhh mbakkkk".


Ani menoleh kearah sumber suara. Karna dirasa suara tadi terus memanggil-manggil seseorang. Ternyata sang resepsionis yang memanggil. Dia mematung ada apa gerangan. Kenapa resepsionis itu berlari-lari? Masa iya di dalam kantor lomba lari.


"Mbak.... hah...hah...hah..mbak jangan pergi dulu..... Hah..... Karna sudah ditunggu sama pak Presdir ... hah... ayo ikuti...hah... saya mbk." Perempuan terengah engah pasalnya dia berlari dan memanggil orang dihadapannya namun malah yang dipanggil tetap melengos pergi. Dia kemudian mengatur nafasnya.


" Ada apa mbak? Kan mbak tadi yang nyuruh saya pergi,"


" Iya mbak Presdir lupa kalau sudah buat janji dengan anda,"


"Baiklah mbak,"


Perempuan itu berjalan menuju ruangan Presdir. Ani mengikutinya dari belakang ia tak bicara apapun karna dirasa perempuan itu tak berhenti memperhatikannya. Dia benar-benar merasa seakan perempuan disampingnya keheranan melihat dia yang begitu dengan beraninya memasuki kantor Wijaya group. Dan bahkan sang Presdir pun mempersilakannya masuk keruangannya. Seakan mata perempuan itu terus menyelidik seluruh sendi kehidupannya. Memang benar Ardan adalah sosok Presdir yang tampan dan penuh wibawa. Maka dari itu para karyawannya pun seringkali dibuat penasaran siapa perempuan yang beruntung yang bisa mendapatkan hatinya.


Kini mereka telah sampai di depan ruangan sang Presdir.


Tok tok tok.... ceklek. Begitu suara pintu diketuk Ardan langsung membuka pintu.


" Sayang ....!!!!" Ardan langsung memeluk istrinya tanpa perduli bahwa mereka kini berada didepan ruangan sang Presdir. Sedangkan sang resepsionis melihatnya dengan mata membulat sempurna. Bahkan beberapa karyawan yang berada disekitar mereka pun menghentikan aktivitas mereka sebentar hanya ingin memastikan apa yang mereka lihat benar adanya.


"Mas lepas. Malu," Ani berontak. Ardan melepaskan pelukannya. Kini wajah istrinya itu bersemu merah karna banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dari berbagai arah.


"Ayo masuk. Kau pergilah," Ardan memberikan isyarat kepada resepsionis itu agar meninggalkan mereka. Pak Herman membukakan pintu ruangan Ardan. Kemudian dia meninggalkan tuan muda dan nona mudanya berdua diruangan Presdir. Kini desas desus siapa perempuan yang dipeluk Ardan. Dan dibalik itu semua sepasang mata memperhatikan saat kedua orang itu memasuki ruangan Presdir.


Kini mereka telah berada di dalam ruangan Ardan. " Ayok duduk sayang," Ardan tersenyum." Masak apa?"


"Emm.... Nasi kuning mas. Moga mas suka ya," Ani melihat-melihat sekitar. Semua yang ada di dalam ruangan Ardan benar-benar tertata rapi. Ardan menatap istrinya saat pandangan sang istri menyapu ruangan kantor Ardan.


"Pasti suka lah yang masak kan kamu." Ani tersipu yang mendengar kata-kata Ardan yang polos."Mana sayang. Aku benar-benar lapar,"

__ADS_1


"Oh iya mas ini," Ani menyerahkan kotak bekal untuk Ardan. Sejurus kemudian kini dia mengedarkan pandangan menelisik ruangan direktur itu. Baginya ini pertama kalinya dia melangkahkan kakinya ke sebuah perusahaan besar. Apalagi sekarang dia berada di dalam ruangan Presdir.


Ardan meraih tangan Ani yang sedari tadi asyik melihat-lihat ruangannya. Kemudian dia mendudukkan bokong Ani ke pahanya. Sontak saja dia berontak akan tetapi tenaganya kalah jauh.


"Duduklah sebentar saja,"


"Aku malu mas!!!!"


"Malu kenapa? Aku suamimu sendiri,"


"Mas !!!! Nanti dilihat orang!"


"Ini ruanganku gak bakal ada yang masuk,"


"Mas turunin!!!"


"Enggakkkk. Bentar aja sih. Seharusnya aku dapat yang lebih Lo dari ini. Jangan pelit-pelit sama suami sendiri,"


"Udahlah mas,"


Ardan menempelkan kepalanya ke dada Ani. Walaupun istrinya itu kaget namun Ardan tetap bersikukuh dengan posisi seperti itu.


"Aku ingin seperti ini sebentar saja. Aku benar-benar capek," Sebenarnya Ani enggan merelakan dadanya untuk sandaran Ardan namun dilihatnya suaminya itu kelihatan benar-benar lelah. Sebenarnya Ardan hanya lelah menahan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga dia adalah lelaki normal yang juga memiliki hasrat kepada perempuan yang dia jadikan istri.


"Mas... aku pulang dulu ya."


"Gak nunggu aku pulang?"


"Nggak usah mas takut ganggu. Aku juga mau istirahat. Nanti sore kan harus masak lagi,"


"Gak usah masak. Makan malam diluar aja yuk?"

__ADS_1


"Kemana?"


"Ya pulang kerja kita langsung cari restoran sayang.Jadi kamu istirahat disini aja ya."


"Enggak mas aku pulang aja. Gak biasanya ditempat kayak gini bener-bener gak enak banget," Ani ngotot minta pulang. Disini aku gak bisa bebas guling-guling.


"Yaudah aku antar ya,"


"Gak usah mas. Aku bisa sendiri kok. Kamu kan kerja. Dan lagi sekarang kan kamu pimpinan. Jadi pasti sibuk banget. Aku bisa sendiri. Udah tau jalannya kok," Ani tersenyum ia tak ingin lelaki super sibuk dihadapannya harus repot-repot mengantarnya keluar.


"Ya udah kamu hati-hati ya. Maaf gak bisa antar."


"Iya mas gak apa-apa."


Ani membuka pintu. Kini mata semua karyawan di kantor itu menoleh kearahnya. Dia tersenyum kikuk lantas berjalan meninggalkan kantor Ardan segera mungkin.


"Mariani!!!!"


Sesaat Ani menoleh mendengar seseorang memanggil namanya.


*Pak Marzuki. Bagaimana mungkin aku sesial ini. Kemarin Intan kenapa sekarang bapaknya juga ada disini? Sial aku harus cepat pergi*.


Bersambung.




Maaf author baru bisa update karena kondisi badan yang gak fit. Dari hari Sabtu kemarin maag kambuh dan yah badan gak bisa fit..... Author mohon maaf yang sebesar\-besarnya. Dan terima kasih yang setia menanti.😘😘😘😘😘\*


__ADS_1


 


__ADS_2