
"Baiklah Pak Surya pergilah."
"Baik tuan muda." Pak Surya membungkukkan kepalanya kemudian segera berlalu pergi. Sudah dapat diduga bahwa tuan muda nya sangat kesal dengan dua orang tamu yang kini tengah bertamu malam-malam kerumah itu.
"Ada apa mas?" Tanya Ani.
"Ada Dion dan Kevin. Aaaahhh kenapa sih dua orang itu !!! Gak tau apa ini udah malam."
"Sudah mas ayo turun aku ambilkan minum sama camilan mungkin mereka lapar." Berdiri dari tempatnya.
"Sayang." Ardan masih dengan suaranya yang tinggi. Merajuk seakan tak terima jika istrinya mengiyakannya begitu saja.
"Ada apa mas? Ayo turun." Diraihnya tangan suaminya itu. Kemudian menggiringnya untuk turun bersama.
"Padahal mas sedang kesal Lo." Ucap Ardan dengan kesal.
"Nanti kita lanjutkan sekarang di bawah ada mas Dion dan kevin mas. Kita masih ada banyak waktu." Menenangkan suaminya yang berdecak kesal namun kemudian luluh juga saat melihatnya tersenyum lembut.
"Baiklah."
🤗🤗🤗🤗
Ardan berjalan menuju ruang tamu. Sedangkan istrinya kini ke dapur. Untuk membuat minuman dan membawa camilan, karna dirasa tamu mereka malam ini tak akan segera pergi pulang ke rumah masing-masing.
"Gila ya udah malam kalian masih nekat kesini?!!" Teriak Ardan.
"Lagian ke rumah sahabat sendiri sejak kapan sih dilarang?! Sahabat macam apa bro teriak-teriak bukannya seneng kita kemari." Ucap Dion kesal. Niat hati ke rumah Ardan mencari solusi malah yang dia dapat polusi untuk telinganya.
Karna kalian berdua itu udah gangguin malam indah kami !!!
__ADS_1
"Gak tau nih. Gue kan kesini mau curhat." Kata Kevin lemas. Rasanya dia sudah kehilangan separuh nyawanya.
"Kenapa? Janjian ya loe pada? Kesini-kesini mau curhat." Ardan mengernyitkan dahinya. Pasalnya disini yang paling memiliki sikap tenang adalah Kevin. Namun sekarang jika dilihat malah justru kebalikannya.
Keduanya saling pandang sebenarnya mereka tak sengaja bertemu ketika baru sampai di rumah Ardan.
"Kita gak janjian tuh." Sungut Dion. Dia akan malu jika Kevin mengetahui tentang perjodohannya. Rasanya sudah sangat malu jika Ardan menertawakannya. Malah sekarang ada Kevin dihadapannya.
Berbeda dengan Dion, Kevin yang saat ini tengah dimabuk cinta tak perduli lagi jika dirinya ditertawakan.
"Mas Dion mas Kevin silahkan diminum." Ani meletakkan nampan dimeja. Dengan segera keduanya menyambar minuman itu. Meneguknya hingga isi dari gelas itu tinggal separuh.
"Hah beruntung banget loe punya istri baik banget kayak gini. Padahal loe kan galak banget." Seloroh Dion.
Ardan berdecak kesal. Memangnya mereka kesini cuma mau ngomong itu. Sedangkan dirinya harus menahan gejolak gairah yang belum tersalurkan.
Tuh kan badmood. Padahal aku tadi udah bilang nanti bisa dilanjut lagi. Ani
"Monica masih cuek aja sama gue." Kata Kevin mengawali pembicaraan dengan nada tak bersemangat. Dion yang melihat itu kemudian menaruh punggung tangannya di kening Kevin.
"Anget. Ckckckckk mungkin ini alasan gebetan loe lari Mulu vin." Seketika mendengar hal Itu Kevin langsung menampik tangan Dion.
"Sialan loe!!! Loe kata gue gila."
"Hei.... Bisa gak sih kalian itu gak usah cari gara-gara." Ardan masih saja kesal. Ani menyembunyikan wajahnya yang sedang menahan tawa. Sikap Ardan benar-benar menggelikan.
"Loe Napa sih bro ngamuk Mulu dari tadi?!" Tanya Dion. Menusuk tepat didada Ardan. "Gak liat temen loe yang satu ini? Merana kayak gitu wajahnya." Menunjuk wajah Kevin dengan jari telunjuknya.
"Baiklah .... begitu lihat muka Kevin yang surem gitu gue ampuni kalian yang nekat malam-malam ganggu gue."
__ADS_1
"Iya muka gue surem karna gak dapat sinyal ijo dari Monica." Ucap Kevin pasrah.
"Hah..... Besok gue sama istri gue mau liburan ke taman bermain. Kebetulan Monica bakal ikut. Ya kalo loe mau loe bisa kencan tuh sama dia. Biar gak gesrek otak loe."
"Hah? Yang bener?" Bangkit dari duduk lemasnya. "Gue belum punya tiket bro." Kembali menjatuhkan bokongnya ke sofa.
"Gue udah beli kok. Buat jaga-jaga sih 7 tiket." Kata Ardan santai.
Ani langsung menoleh secepat kilat. Merasa dibohongi.
Hah? Arrrrgghhht mas Ardan!!! Jahil banget sih.
"Yang bener? Asiiiiikkkk !!!!! Hah gue bakal bikin dia cinta sama gue." Dasar tipe-tipe bucin. Tersenyum-senyum sendiri. Padahal beberapa detik yang lalu dia masih dengan separuh nyawanya.
"Yon kalau loe mau ikut masih bisa Lo tiketnya sengaja cari banyak buat nyisain loe sama gebetan loe juga." Sindir Ardan.
"Loe nyindir gue?!" Merasa tersindir.
"Gak punya ya? Loe sendiri aja jomblo ngenes malah ngatain gue bucin. Yang penting nih gue masih normal." Bela Kevin yang tak terima dirinya dikatakan bucin.
"Loe kata gue gak normal?!" Dion mengambil ancang-ancang dengan menarik lengan kemejanya ke atas.
"Berhenti gak? Udah sana loe pulang !!! Udah malem. Kalau ikut besok pagi-pagi kesini aja." Lerai Ardan.
"Gue nginep disini." Teriak Kevin dan Dion bersamaan. Seperkian detik kemudian mereka saling pandang. Lalu keduanya sama-sama menggerutukkan gigi mereka masing-masing.
Tahan Ardan tahan.....
"Terserah !!! Ayo sayang kita keatas. Biarin dua orang jomblo ngenes ini disini." Menggiring istrinya untuk segera meninggalkan ruang tamu itu. Meninggalkan dua orang jomblo ngenes yang telah membuatnya sangat kesal.
__ADS_1