Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 395. Rencana


__ADS_3

William menghembuskan napas lega. Senyuman kini terbit di bibirnya. Ia meraih tangan Sabrina dan menghujaninya dengan kecupan. Membuat wajah Sabrina memerah malu.


"Aku tak menyangka, kau bisa menghadapi perselisihan kita dengan sangat tenang? Aku merasa malu padamu, Sabrina. Belakangan, pria tua ini begitu kekanakan. Marah tidak jelas dan bisanya hanya merengek saja. Maukah kau memaklumi pria tua yang bergelar suamimu ini?" William memelas.


"Kok manggil Sabrina lagi?" Sabrina mengerucutkan bibirnya.


Dahi William bertaut. "Bukankah aku selalu memanggilmu Sabrina?"


Sabrina memutar kedua bola mata kesal. "Kenapa Uncle jadi suami nggak peka sih?"


"Peka? Aku sangat peka. Beraninya mengatakan aku suami tidak peka!" kesal William.


"Jadi, hanya pas aku marah saja Uncle memanggilku dengan mesra?" sindir Sabrina.


Pikiran William kini bekerja keras. Mengumpulkan pecahan-pecahan memori yang dimaksud Sabrina. Beberapa waktu William tercenung. Hingga bayangan kemarahan Sabrina yang cukup ia takutkan. William mengulum senyuman.


"Kau ingin dipanggil Sayang?" goda William.

__ADS_1


"Huh! Entahlah. Aku ke sini untuk mempelajari berkas-berkas lainnya. Bukan untuk mengingatkanmu sesuatu," gerutu Sabrina.


"Hei, Sayang. Berhentilah merajuk. Apa ini? Ini bukan berkas yang harus kau pelajari. Kalau begitu, kau juga harus merubah panggilanmu pada suamimu ini." William menarik kursi kosong yang ada di depan meja presdir.


Mendengar itu, kedua mata Sabrina berbinar. "Em, enaknya apa ya, Uncle?" Sabrina terlihat berpikir keras.


"Hei. Jangan memanggilku uncle. Orang akan mengira kau keponakanku. Kau suka apa? Aku akan menerimanya. Asal tidak norak bikin geli di telinga." William merinding seketika.


"Mas William?" usul Sabrina.


Wajah William ditekuk. Iapun berkata, "Orang akan mengira aku kakakmu. Mama?"


"Tapi kau memang sudah memiliki anak. Tuh." William menunjuk sosok yang sedang rebahan di sofa smbil bermain ponsel. Imbuh William, "Kalau begitu aku akan memanggilmu, Honey."


"Okay. Berhenti membahas panggilan kita. Mana berkas yang perlu kupelajari lagi?" tanya Sabrina.


William beringsut dari tempatnya. Lalu berjalan menuju rak di mana berkas-berkas penting ia simpan. Setelah ketemu, William menyodorkan berkas tersebut kepada Sabrina.

__ADS_1


"Ini berkas untuk perusahaan yang satunya. Kau bisa pelajari pelan-pelan. Perusahaan itu masih baru. Jadi banyak sekali kekurangannya. Aku membutuhkan saran darimu, Sayang," tutur William.


***



Malam yang dingin kian merasai kulit. Sabrina telah berganti pakaian serba hitam. Sebuah celana hotpants berwarna merah sepaha, dipadu dengan atasan hitam model crop. Terakhir, Sabrina membawa beberapa senjata di tas kecil yang ada di punggungnya. Sebelum pergi, Sabrina menatap wajah William yang damai dibuai sang dewi mimpi.


"Maafkan aku, Honey. Aku terpaksa memberimu obat tidur. Begitu pula dengan Artur. Ini untuk kebaikan kita. Dengan membawamu, aku tak bisa bebas bergerak. Aku ingin secepatnya masalah ini selesai. Ada banyak rahasia tentang Aretha. Ini tidak sederhana. Misteri telah terpampang nyata di depan mata," gumam Sabrina.


"Nona Muda." Julia terlihat telah bersiap.


"Darren dan Ben, tolong jaga Artur dan William. Mereka berdua adalah orang yang aku sayangi. Kumohon, jangan membantah. Mu, ikut aku dan Julia," titah Sabrina.


"Baik," sahut Mu dan Julia serempak.


Sabrina, Mu dan Julia masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan. Mu duduk di belakang kemudi. Di sampingnya, ada Julia. Sedangkan Sabrina, berada di kursi penumpang. Mu segera melajukan mobil menuju tujuan. Panti Asuhan.

__ADS_1


"Entah mengapa, ada banyak rahasia yang aku lewatkan," batin Sabrina.


__ADS_2