
Sabrina mematung di tempatnya. Gadis itu berulang kali mengerjapkan kedua mata. Bibi Rosi bahkan telah berlalu. Akan tetapi, Sabrina masih begitu enggan untuk beranjak dan mengambil paper bag yang ada di atas meja.
"Ini apa? Benar hadiah atau hanya pancingan?" gumam Sabrina.
Gadis itu bahkan menggigit ujung kukunya. Ragu-ragu Sabrina mendekati paper bag yang ada di atas meja. Perlahan, Sabrina mengintip apa yang ada di dalam paper bag itu. Kedua mata Sabrina membulat sempurna. Rasa bahagia membuncah memenuhi rongga dada. Ia segera mengeluarkan gaun yang terdapat di dalam paper bag tersebut.
"Wah. Gaun ini kesukaanku!" jerit Sabrina.
Satu gaun berwarna hitam sepanjang selutut dan tanpa lengan. Cukup indah dan elegan. Sabrina tak sengaja mendapati sepucuk kertas. Sudut bibirnya pun terangkat. Ia tersenyum setelah membaca kertas tersebut.
__ADS_1
"Dia benar-benar romantis!" lirih Sabrina.
Gadis itu terlonjak riang. Lalu berjalan menuju ke kamar untuk berganti baju. Mengingat reuni akan diselenggarakan malam ini. Sabrina harus mempersiapkan diri. Dia harus pergi ke salon. Tak ingin membuang waktu, Sabrina dengan cepat bergerak. Setelah memakai sepatu flat, gadis itu turun dari kamarnya yang terletak di lantai dua.
"Bi, aku keluar dulu ya. Ada Ben yang akan menjagaku. Bibi Rosi tidak apa-apa kan aku tinggal?" Sabrina meminta izin kepada Bibi Rosi. Jangan sampai Sabrina keluar dari rumah tanpa izin Bibi Rosi. Bisa-bisa William marah besar.
"Baik, Bi. Terima kasih sudah mengingatkan Sabrina." Sabrina kemudian berlalu. Diikuti Ben dan juga Darren yang selalu setia menjaga Sabrina.
Ben melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang berdebu. Sabrina tak henti-hentinya bersenandung menandakan betapa ia tengah bahagia. Mau bagaimana lagi? Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali masalah, pantas jika Sabrina ingin memanjakan diri. Ingat juga dia sudah menjadi seorang istri. Toh sudah menjadi kewajibannya untuk menyenangkan mata suami sendiri. Tanpa terasa, mobil telah memasuki halaman parkir sebuah salon terkenal.
__ADS_1
Darren segera membuka pintu mobil untuk Sabrina. Dengan anggun, Sabrina pun turun dari mobil. Gadis itu berjalan santai memasuki salon terkenal itu. Di sisi lain, William mematung di kursi kebesarannya. Tatapan sulit diartikan dilayangkannya ke arah ponselnya yang masih menampilkan grup satu kelasnya. Mereka gencar sekali membahas seseorang di grup. Seseorang dari masa lalu William.
"Anggi. Untuk apa ia bergabung dengan grup ini? Bukankah ini bukan levelnya? Aku tak tahu apa rencananya. Semoga saja dia sudah melupakanku. Jangan sampai ia masih menaruh dendam karena aku tak pernah meliriknya. Sama seperti mendiang istriku terdahulu. Yang selalu dianggap Anggi sebagai rival yang harus dijatuhkan."
William mengusap kasar wajahnya. Terdengar juga helaan napasnya yang berat. Ryu hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Ia tahu, ada yang tengah mengganjal hati William sehingga membuat pria itu sedikit resah. Ryu pun memberanikan diri menghadap William. Berdiri tepat di depan meja William.
"Tuan, Nona Sabrina telah menerima paper bag yang Anda kirimkan. Nona Sabrina bahkan saat ini tengah berada di sebuah salon. Mungkin saat ini Nona Sabrina tengah mempersiapkan diri." Ryu menundukkan kepalanya. Takut-takut ia menunggu ekspresi William.
"Mempersiapkan diri?" lirih William.
__ADS_1