Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 36


__ADS_3

"Lepaskan tangan kotor kalian dari istriku !!!" Ardan sudah emosi sampai ke ubun-ubun. Hal yang dia khawatirkan benar-benar terjadi.


Mereka semua menoleh. Intan langsung melepaskan tangan Ani. Kemudian Ani berhambur ke pelukan Ardan . Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Sedang kan dua manusia bodoh itu terlonjak kaget.


Apa Ani juga mengenal laki-laki ini?


Sial kenapa tuan muda pas sekali kemari.


"Jelaskan sejelas-jelasnya !!!" Bentak Ardan kini dia benar-benar murka.


"Ah tuan muda ini hanya pertengakaran antar teman saja." Marzuki mencoba bicara. Semoga tuan muda percaya. "Anakku intan sudah punya tunangan tapi gadis ini terus saja mengganggu tunangan anakku. Benar-benar tak tahu malu dia tuan muda."


"Cukup!!!" Teriak Ardan. Benar-benar sudah putus urat nadi si Marzuki. Padahal dia sudah mencoba untuk menutup mata akan hal itu.


"Tapi benar tuan memang begitu. Hiks Ani mencoba merebut tunangan saya. Padahal mereka sudah lama bercerai. Hiks tuan muda saya hanya ingin memberikan pelajaran untuknya." Intan mencoba mengalihkan keadaan mencoba menjadi korban.


"Oh jadi maksudmu Ani istri saya ini mencoba mengganggu tunanganmu? Lalu kau berbuat kasar seperti itu?" Tanya Ardan.


Kenapa mas Ardan bersikap tenang begitu? Apa dia menyukai intan juga?


"Benar tuan muda. Saya hanya membantu anak saya supaya gadis tak tahu malu ini mengerti kalau anak saya dan mantan suaminya telah bertunangan." Kata Marzuki membela anak kesayangannya.


"Apa benar begitu istriku?" Ardan dengan tenang dan menekankan kata istriku agar didengar oleh dua orang brengsek didepannya.

__ADS_1


I...istri ? Intan.


"Apa maksud anda tuan muda? Apa anda mengenal Ani?" Tanya Marzuki keheranan sekaligus tak terima jika hal itu benar adanya. namun dia sadar posisinya.


"Lancang sekali kamu bicaranya!!! Panggil dia nona muda. Karna dia adalah nona muda di keluarga Wijaya !!!" Herman yang sedari diam saja benar-benar sudah jijik dengan dua orang yang ada di depannya.


Plakkkk.... Plaakkkkk . Sekretaris Herman menampar Marzuki.


"Apa?" Pertanyaan terkejut dari Intan pun terlontar dengan spontan. Keduanya pun tidak lagi salah dengar. Kini perasaan takut menyelimuti hati keduanya .


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Ardan.


"Aku gak apa-apa kok mas."


Ani tak menjawab namun dia mengangkat jari telunjuknya yang lentik mengarah ke arah Marzuki. Yang ditatap kini benar-benar merinding disko.


Ba...bagaimana ini? Ternyata Ani benar-benar istri tuan muda Ardan. Tapi bagaimana bisa dia menjadi istrinya? Bukankah media massa bahkan menutup mulutnya rapat. Ada apa ini? Tapi yang lebih penting adalah .. bagaimana aku yang selanjutnya?


"Ya sudah mas kita makan diluar saja."


"Enggak kamu udah sibuk dari pagi. Mas harus makan rawonnya."


"I...ini...." Marzuki tergagap.

__ADS_1


Sekretaris Herman mengambil rantang makanan yang disodorkan Marzuki. Kemudian memberikannya kepada tuan mudanya.


"Ayo makan di ruanganku." Ucap Ardan sembari melingkarkan tangannya dipinggang istrinya. "Herman urus kedua orang sialan itu."


Kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Namun sekretaris Herman menatap tajam keduanya.


Kini keduanya semakin gemetar karna sekretaris didepannya ini menatap dengan tatapan membunuh. Terlebih Marzuki. Dia tahu betul orang yang dihadapannya itu sama pentingnya di perusahaan Wijaya. Walaupun dia hanya sekretaris tapi dia memiliki kekuasaan yang sama dengan Presdir di perusahaan Wijaya.


"Katakan hukuman apa yang pantas untuk kalian?"


Cih dasar orang kaya kenapa seenaknya ha !!! Toh aku gak melakukan kesalahan. Intas mendesis.


"Maaf tuan anda jangan lupa papa saya adalah pemegang saham 7 persen di perusahaan Wijaya."Intan masih belum sadar akan posisinya sekarang.


"Intan tutup mulutmu !!!" Marzuki kesal karna dia tahu saham 7 persen bukan apa-apa jika dihadapkan dengan Presdir . Dan jika berurusan dengan sekretaris Herman maka dia bisa saja didepak dari perusahaan Wijaya.


"Hahahahahaaa ingat nona papa anda hanya memiliki saham 7 persen diperusahaan Wijaya. Dan itu bukan halangan untuk Presdir mendepak papamu keluar !!! Jika kamu bisa mengukur seberapa besar saham yang dimiliki seorang Presdir maka papamu pun tak akan tunduk padanya !!!"


Deg deg deg deg detak jantung keduanya kini rasanya mau melompat keluar semakin berdebar begitu mendengar mereka seakan hanya butiran debu jika itu dihadapan seorang Presdir Wijaya.


*Dasar anak sial bagaimana bisa kau begitu bodoh ha !!! Lihat saja nanti kalau sampai aku harus didepak dari perusahaan Wijaya. Habis kau *!!!


Sial apa ini lelucon? Aku sekarang bahkan kalah telak jika dia benar-benar menikah dengan Presdir Wijaya. Perempuan sialan itu pasti sudah tidur duluan dengan Presdir sehingga Presdir mau menikahinya. Aku harus mendapatkan hati Presdir itu aku gak mau kalah dengan perempuan sialan itu.

__ADS_1


__ADS_2