
"Kau sangat menarik. Aku suka wnita muda sepertimu." Mengecup perlahan bibir ranum milik seorang wanita dengan pakaian minim.
"Tuan, saya seumur hidup tidak akan bisa keluar dari tempat ini." Membelai dada seorang laki-laki paruh baya yang sedikit dipenuhi rambut tipis.
"Seumur hidup? Bagaimana bisa? Setauku di tempat ini sudah ada yang bisa keluar dari sini dengan cara ditebus."
"Benar, tapi tidak dengan saya Tuan." Intan menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" Laki-laki paruh baya itu mengusap puncak kepala Intan. "Tempat ini milik Smith bukan? Tenang saja dia sangat menyukai uang. Jadi aku bisa memberikan dia uang. Dia terlaku naif."
"Tidak akan bisa, Tuan. Tuan Smith tidak akan melepaskanku."
"Maksudmu Smith juga menginginkan kamu?"
Pertanyaan itu membuat Intan terkesiap kaget. Bukan itu maksudnya. Tapi melihat dari penampilan laki-laki didepannya itu, Intan bisa menilai. Jika laki-laki itu bukan laki-laki biasa.
"Karena aku menolaknya. Dia membuatku jatuh kelubang kehancuran ini seumur hidupku Tuan. Tidak akan pernah bisa lolos dari sini." Dengan sengaja Intan mengeluarkan senjata terakhirnya. Air matanya luruh menyapu pipinya yang mulus.
"Hei, jangan menangis." Mengusap air mata Intan. Gadis itu mendongakkan kepalanya. "Jadilah milikku maka kau akan keluar dari tempat ini."
"Bagaimana bisa aku keluar dari tempat ini? Tuan Smith sangat hebat. Tuan tidak akan bisa mengeluarkan aku dari tempat kotor ini. Sekarang pergilah Tuan. Aku takut."
__ADS_1
Intan hendak pergi meninggalkan laki-laki paruh baya itu. Namun, sebuah tangan kekar menahannya.
"Bagaimana jika aku mampu mengeluarkan kamu dari tempat ini? Apa kau akan menjadi milikku?"
Intan tersenyum tipis. Laki-laki ini sudah jatuh ke dalam pelukanku. Aku akhirnya bebas dari tempat jahanam ini.
"Lebih baik ku melayani satu orang laki-laki daripada aku harus melayani 10 laki-laki dalam semalam Tuan. Aku lelah, sangat lelah." Intan kembali mengeluarkan air matanya. Membuat laki-laki di depannya itu menjadi tak tega.
"Tunggu aku nanti malam." Bisiknya kemudian sembari mendaratkan kecupan di kening Intan. Setelahnya laki-laki itu pergi meninggalkan Intan termenung seorang diri.
"Hah? Nanti malam? Apa maksudnya? Sial*n! Laki-laki itu niat ngajak aku keluar dari sini nggak sih?"
"Maaf Mami. Tadi tamuku baru aja pergi."
"Ada apa Tuan?" Seorang madam menghampiri laki-laki paruh baya itu.
"Berikan aku wanita yang tadi." Laki-laki misterius itu membuka kacamata hitamnya.
"Maaf Tuan saya tidak bisa karena ini perintah tuan Smith langsung."
__ADS_1
"Jangan katakan padanya. Aku berikan berapapun yang kau mau. Asal wanita itu bisa bersamaku."
"Ini terlalu berbahaya. Maaf saya tidak akan membantumu." Wanita paruh baya yang berpakaian seksi itu berbalik hendak meninggalkan laki-laki misterius itu.
"Bagaimana jika aku membiayai ini." Selembar foto di sebuah rumah sakit seseorang sedang terbaring lemah. Bahkan sepertinya hidupnya bergantung dengan alat-alat yang terasang ditubuhnya. Wanita itu terkesiap kaget.
"Bagaimana anda bisa tahu?"
"Ha-ha-ha aku akan membiayai semua biaya rumah sakit untuknya. Asal kau lepaskan wanita itu."
"Tapi Tuan,--"
"Anakmu dalam ambang kematian. Bukankah karena biaya yang begitu besar hingga kau masih belum bisa membawanya ke runah sakit yang lebih besar bukan?"
"Lalu bagaimana dwengan tuan Smith?"
"Itu urusanku. Bebaskan wanita itu."
"Baiklah Tuan. Aku urus sebentar. Setelah ini aku bawa wanita itu kehadapanmu." Wanita itu pergi meninggalkan laki-laki itu.
"Smith dan keluarga Wijaya lainnya lihat saja. Aku balaskan dendamku secara perlahan."
__ADS_1